DINAMIKAPASAR.COM — Pembangunan LRT Haga-Utsunomiya di Prefektur Tochigi, Jepang, memakai skema "Publicly Built, Privately Operated Vertical Separation" yang memisahkan pembangunan dan operasional. Pemerintah daerah menanggung seluruh infrastruktur, sementara operator swasta hanya menyewa armada. Tarif sekali jalan rute timur stasiun ke kawasan industri Haga-Takanezawa dipatok 400 yen, jauh di bawah ongkos bus 900-1.000 yen.
Total anggaran proyek ini mencapai 68,4 miliar yen. Sekitar separuhnya berasal dari subsidi pemerintah pusat, sisanya dibagi antara Kota Utsunomiya dan Kota Haga.
Porsi Kota Utsunomiya sekitar 31 miliar yen. Beban itu ditutup lewat obligasi daerah yang dicicil sekitar 20 tahun.
Cicilan tahunannya paling besar sekitar 1,3 miliar yen. Angka itu hanya sekitar 0,6 persen dari skala anggaran kota per tahun.
Siapa Menanggung Apa
Sektor publik, yakni Kota Utsunomiya dan Haga, membangun seluruh infrastruktur: rel, depo, pemberhentian LRT, sekaligus memiliki armadanya. Operasional harian diserahkan ke Utsunomiya Light Rail Co., Ltd.
Operator swasta menyewa train set dari pemerintah daerah dan membayar biaya penggunaannya. Karena beban modal terbesar ada di tangan pemerintah, perusahaan hanya menanggung biaya tenaga kerja dan operasional sehari-hari.
"Karena pemerintah membangun biaya infrastruktur yang paling mahal, biaya yang ditanggung Utsunomiya Light Rail sebagian besar cuma biaya tenaga kerja," kata Suzuki Kenichi.
Pemerintah juga menangani pemeliharaan fasilitas. Menurut Suzuki, struktur itu membuat perusahaan bisa menjalankan bisnisnya secara ringan dan stabil.
Ke Mana Uang 68,4 Miliar Yen Mengalir
Sebagian besar anggaran, yakni 61,1 miliar yen, habis untuk memasang rel dan membangun pemberhentian LRT. Sisanya sekitar 7,3 miliar yen dipakai membeli 17 rangkaian trem yang kini beroperasi.
Rute sepanjang 14,6 kilometer itu tidak sepenuhnya inisiatif Kota Utsunomiya. Saat rute pertama diumumkan pada 2013, jalurnya baru sampai perbatasan Haga.
Pemerintah Haga lantas meminta jalur diperpanjang hingga kawasan industrinya, tempat sekitar 20 ribu orang bekerja. Permintaan itu diterima karena merepresentasikan permintaan penumpang yang bisa diprediksi, bukan taksiran spekulatif.
Tarif Murah Tanpa Subsidi
Meski tidak memakai skema subsidi tarif, ongkos LRT ini tetap lebih murah dibanding bus untuk jarak yang sama. Tarif dihitung berdasarkan jarak tempuh.
"Dari pintu timur stasiun sampai ke titik akhir di kawasan industri Haga-Takanezawa tarifnya 400 yen. Sebagai perbandingan, kalau naik bus untuk jarak yang sama, ongkosnya sekitar 900 yen sampai 1.000 yen," ujar Suzuki.
Sejak 2008, proyek ini diposisikan sebagai inti strategi tata kota Network-type Compact City. Konsep itu menjawab masalah klasik kota regional Jepang: penduduk menyusut dan menua, ditambah ketergantungan pada mobil pribadi.
LRT ini menjadi sumbu transportasi publik arah timur-barat, melengkapi jalur kereta JR yang membentang utara-selatan. Jaringan bus, taksi, dan moda lokal disambungkan sebagai pengumpan.
Kartu totra dan Diskon Lansia
Untuk pembayaran, tersedia kartu bernama totra yang mengintegrasikan fungsi kartu Suica. Warga berusia 70 tahun ke atas mendapat 10 ribu poin dari Kota Utsunomiya setiap April.
Poin itu bisa dipakai naik LRT, taksi, atau bus. Kartu ini juga memberi diskon saat berpindah moda dan menetapkan tarif harian maksimum 500 yen khusus lansia, berapa pun jarak yang ditempuh.
Trem yang dipakai berpanjang sekitar 30 meter dengan rangkaian 3 gerbong. Semua pemberhentian bisa diakses lewat ramp, dan lantai trem sejajar penuh dengan peron sehingga penumpang naik-turun tanpa beda ketinggian.
Pasokan listriknya 100 persen dari energi terbarukan. Sumbernya berasal dari fasilitas pengolahan sampah Clean Park Mobara dan panel surya di atap rumah warga.
Rencana Perpanjangan Rute
Pada Oktober 2025, perusahaan mengajukan rencana perpanjangan rute sejauh 5 kilometer ke pemerintah pusat. Perpanjangan itu akan melintasi Stasiun Utsunomiya milik JR.
Jalurnya melewati bagian atas jalur kereta lokal JR yang ada sekarang, lalu di bawah rel Shinkansen untuk mencapai sisi barat kota. Total rute operasional ditargetkan mencapai sekitar 20 kilometer.
Proyeksi penumpang harian setelah perpanjangan sekitar 31 ribu orang. Segmen yang disasar adalah pelajar SMA yang banyak melintas di area dekat titik akhir rute sisi barat.
Skema pemisahan aset dan operasional ini menunjukkan beban modal yang ditanggung pemerintah bisa menekan biaya operator, sehingga tarif ke penumpang tetap kompetitif tanpa subsidi tiket langsung.