Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Tertekan Sentimen Global

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Tertekan Sentimen Global
Rupiah Hari Ini Diprediksi Tertekan di Kisaran Rp17.990-Rp18.050 [FOTO: NET].

JAKARTA — Nilai tukar mata uang rupiah diproyeksikan masih menghadapi tekanan berat pada sesi perdagangan Jumat (3/7/2026), dipicu oleh gempuran sentimen eksternal maupun internal. 

Lesunya sektor manufaktur, eskalasi kecemasan terhadap fundamental ekonomi domestik, hingga penantian rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat diproyeksikan bakal membebani mata uang Garuda.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengestimasi rupiah akan berfluktuasi pada rentang Rp17.990 sampai Rp18.050 per dolar AS dalam perdagangan hari ini. Pada sesi sebelumnya, nilai tukar rupiah berakhir melemah menuju posisi Rp17.995 per dolar AS dalam penutupan hari Kamis (2/7/2026).

Penyusutan nilai rupiah bergulir selaras dengan laju mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga terpantau loyo. 

Merujuk pada publikasi data RTI Infokom, yuan China menguat 0,06%, yen Jepang terapresiasi 0,84%, won Korea Selatan melaju 0,69%, dolar Singapura menanjak 0,20%, dan baht Thailand merangkak naik 0,09%. Sebaliknya, dolar Hong Kong terkoreksi sebesar 0,01% serta dolar Taiwan terdepresiasi 0,07%.

Ibrahim menjabarkan bahwa sentimen luar negeri saat ini masih dipengaruhi oleh jalannya proses diplomasi antara Amerika Serikat dengan Iran. 

Pihak Qatar mengonfirmasi bahwa kedua negara menorehkan progres yang konstruktif dalam diskusi tidak langsung di Doha yang membahas perihal proteksi keamanan di Selat Hormuz sekaligus pencairan aset dana Iran.

Di lain sisi, pelaku pasar juga senantiasa mencermati arah kebijakan moneter bank sentral AS atau The Fed. Para pelaku pasar saat ini memproyeksikan persentase kenaikan suku bunga acuan pada rapat September esok menembus angka sekitar 67% mengacu pada indikator CME FedWatch Tool.

Meninjau rilis data makro ekonomi AS, laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP memperlihatkan adanya penyerapan tenaga kerja sektor swasta baru sebanyak 98.000 selama Juni, nominal tersebut berada di bawah ekspektasi pasar yang mematok 113.000. 

Sementara itu, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur dari lembaga ISM turun menjadi 53,3 dari posisi sebelumnya di level 54,0. Atensi penanam modal kini terfokus penuh pada publikasi data nonfarm payrolls Amerika Serikat yang diestimasikan membawa perbaikan tenaga kerja sebesar 110.000 orang pada Juni. Sedangkan tingkat pengangguran diramal bertahan di angka 4,3%.

Dari aspek internal, Ibrahim berpandangan bahwasanya tingkat kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia tengah diuji menyusul merebaknya beragam sentimen negatif belakangan ini. 

Sederet tantangan tersebut mencakup kasus korupsi berskala masif, kecemasan publik yang meningkat terhadap postur fiskal otoritas pascadefisitnya neraca perdagangan Indonesia pada bulan Mei, lonjakan inflasi, sampai penundaan rilis terkait bursa ekuitas Indonesia oleh korporasi penyedia indeks global MSCI.

Tekanan berat juga bersumber dari indikator industri manufaktur. Berdasarkan data dari S&P Global, rapor PMI manufaktur Indonesia ambles ke posisi 46,9 pada periode Juni 2026. 

Capaian ini menjadi level kontraksi paling dalam selama satu tahun terakhir, dipicu merosotnya angka pesanan baru yang berujung pada penurunan output paling masif sejak April 2025.

Bukan hanya itu, lembaga pemeringkat Fitch Ratings memproyeksikan tabungan cadangan devisa Indonesia sepanjang 2026 diprediksi cuma mampu mengakomodasi sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan, berada tipis di bawah angka median negara dengan status peringkat BBB yang menyentuh lima bulan. 

Berdasarkan analisis Fitch, penyusutan tabungan devisa dipicu oleh penurunan terms of trade akibat fluktuasi kenaikan harga energi dunia, aksi intervensi Bank Indonesia di bursa valas demi memproteksi stabilitas rupiah, hingga pemenuhan kewajiban utang luar negeri.

15:45 WIB Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.963 Nilai tukar rupiah berakhir menguat 34 poin ke posisi Rp17.963 per dolar AS dalam sesi penutupan perdagangan Jumat (3/7/2026). Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah 0,15% menjadi 100,70.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengemukakan bahwasanya dinamika ketegangan di kawasan Timur Tengah konsisten menjadi sentimen utama yang mendikte pergerakan rupiah.

“Investor terus memantau negosiasi antara Washington dan Teheran setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dia percaya Iran telah menyetujui hampir semua yang AS butuhkan. Ini menandakan kepercayaan bahwa diskusi bergerak ke arah yang benar,” kata Ibrahim, Jumat (3/7/2026).

Sebaliknya, beredar kabar yang mengindikasikan bahwa kubu Iran menolak mentah-mentah draf usulan untuk mencabut hak klaim atas Selat Hormuz dengan kompensasi pembebasan dana miliaran dolar milik Iran yang tengah dibekukan.

“Sinyal yang beragam membuat risiko geopolitik tetap menjadi perhatian para pedagang, bahkan ketika kekhawatiran akan gangguan langsung terhadap pasokan minyak mentah Teluk terus mereda,” jelas dia.

13:21 WIB Kurs Dolar AS Menguat ke Rp17.949 Laju nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau bergerak menguat sebanyak 34 poin atau setara 0,19% menuju posisi Rp17.949 per dolar AS pada pukul 13.22 WIB.

09:05 WIB Rupiah Dibuka Menguat Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka bergairah dengan penguatan 0,23% atau terapresiasi 42 poin ke level Rp17.941 per dolar AS. Di saat yang sama, indeks dolar AS terpantau melemah 0,03% atau merosot 0,03 poin ke posisi 100,83 pada pukul 09.03 WIB.

08:36 WIB Dolar AS Melemah Efek Data Tenaga Kerja AS Mata uang dolar Amerika Serikat (AS) terjungkal cukup signifikan pada perdagangan Kamis (2/7/2026) menyusul rilis laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) edisi Juni yang memaparkan data lapangan kerja baru yang terealisasi jauh di bawah ekspektasi pasar.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mempublikasikan bahwa penyedia kerja di AS sekadar menambah 57.000 pos lapangan kerja sepanjang Juni, jauh lebih mini bila dikomparasikan dengan proyeksi para ekonom yang mematok target penyerapan 110.000 lapangan kerja. Di lain sisi, tingkat pengangguran mengalami penurunan ke angka 4,2% dari posisi 4,3% di bulan sebelumnya.

Indeks dolar AS yang memetakan pergerakan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia termasuk yen Jepang dan euro, terakhir ditutup terkoreksi 0,6% ke posisi 100,81 sebagai respons atas publikasi data makro tersebut. Sementara itu, mata uang euro merangkak naik 0,6% menuju posisi US$1,1438.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index