Tarif Trump Dianulir, Ekspor dan Impor Bahan Baku Mebel Tetap Jalan

Tarif Trump Dianulir, Ekspor dan Impor Bahan Baku Mebel Tetap Jalan
Asmindo Pastikan Hubungan Dagang Mebel RI-AS Berjalan Sesuai ART [FOTO : NET].

JAKARTA — Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) menjamin jalinan dagang furnitur Indonesia bersama Amerika Serikat (AS) konsisten berjalan, sekalipun Mahkamah Agung AS menganulir regulasi tarif resiprokal. 

Keputusan itu menjadi kelanjutan dari pengesahan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) oleh pemerintah Indonesia dan AS pada 18 Februari 2026.

Ketua Umum Asmindo Dedy Rochimat mengutarakan, aktivitas pengiriman komoditas mebel nasional ataupun pembelian bahan baku dari Negeri Paman Sam tidak bakal mandek.

 Kolaborasi tersebut dinilai tetap mempunyai makna strategis demi memperkokoh kedudukan industri furnitur Indonesia di kancah global.

“Kolaborasi ini berbasis prinsip keberlanjutan dan kepatuhan legal, serta bertujuan memperkuat rantai nilai Indonesia–Amerika, bukan menggantikan kayu domestik. Yang diimpor adalah bahan baku, sementara nilai tambah manufaktur, desain, dan ekspor tetap dilakukan di Indonesia,” ujar Dedy dalam keterangannya, Rabu (24/2/2026).

Menurut Dedy, kemitraan bersama para eksportir kayu keras Amerika yang terhimpun dalam American Hardwood Export Council (AHEC) diarahkan demi menyokong dongkraknya daya saing industri domestik. 

Ia menandaskan pemanfaatan kayu keras Amerika tidak bakal menyingkirkan kayu lokal selaku bahan baku utama. 

Kayu keras dari Amerika ditempatkan menjadi opsi material premium guna memperkaya pilihan rancangan serta memenuhi standar pasar internasional, khususnya bagi segmen menengah atas dan premium. Perpaduan kayu lokal serta impor dinilai sanggup menaikkan mutu dan nilai jual komoditas furnitur Indonesia.

Lebih jauh, Dedy memaparkan, sepanjang ini anggaran belanja industri furnitur nasional untuk American hardwood bertengger di kisaran US$30 juta per tahun. 

Menyusul adanya potensi kenaikan ekspor pasca-ART, keperluan bahan baku tersebut dikalkulasikan bisa melonjak sampai berkisar US$100 juta dalam beberapa tahun ke depan.

“Dengan demikian tercipta hubungan dagang yang saling menguntungkan atau win-win solution antara Indonesia dan Amerika Serikat. Ekspor furnitur Indonesia meningkat, kapasitas manufaktur nasional menguat, dan pada saat yang sama permintaan terhadap kayu keras Amerika juga tumbuh,” jelasnya.

Ia mengimbuhkan, naiknya impor bahan baku tersebut adalah impak logis akibat bertambahnya lini produksi furnitur demi kebutuhan ekspor.

 Perkembangan ini sekaligus merefleksikan penguatan kapasitas manufaktur dalam negeri yang konsisten bertindak selaku pusat penciptaan nilai tambah.

Jika menilik data Badan Pusat Statistik (BPS) di sepanjang tahun 2025, angka ekspor furnitur RI menuju AS menyentuh US$1,42 miliar, menyusut tipis dari tahun sebelumnya yang berada di angka US$1,43 miliar.

Di samping itu, pihaknya menyokong langkah pemerintah yang telah menuntaskan pemufakatan tersebut. 

Ia berpandangan ART membuka celah penetrasi pasar yang kian kompetitif bagi komoditas furnitur nasional di Amerika Serikat serta mempererat relasi dagang kedua negara.

Dalam penerapannya, kedua belah pihak menjajaki optimalisasi kayu keras Amerika bagi bermacam rumpun produk, mulai dari solid wood furniture, elemen interior, hingga kerajinan kayu yang membidik pasar Amerika Serikat, Eropa, serta domestik bagi segmen premium.

 Kolaborasi ini juga mencakup pertukaran data berkaitan dengan spesies serta parameter kualitas hardwood, forum teknis mengenai pemrosesan dan aspek keberlanjutan, hingga pembukaan jaringan bisnis di antara eksportir AS dan produsen.

“Indonesia tidak hanya ingin menjadi basis produksi, tetapi menjadi pusat manufaktur bernilai tambah tinggi yang berbasis keberlanjutan dan kemitraan global,” pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index