jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI mencadangkan pendanaan sebesar Rp9,18 triliun demi mendatangkan 37 trainset baru sejak tahun 2023 dan sampai saat ini mekanismenya masih terus berjalan.
Proses mendatangkan rangkaian kereta anyar yang masing-masing terdiri atas 12 gerbong tersebut dikerjakan secara berkala.
Pada fase awal, total 192 unit kereta atau setara 16 trainset besutan PT INKA dengan nilai Rp3,85 triliun sudah diorder semenjak 2023.
“Untuk saat ini KRL Produksi INKA dari 16 Train Set telah beroperasi 7 trainset, dan sisa 9 trainset dalam proses pengiriman dan finalisasi produksi,” ujar VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda, Selasa (9/6/2026).
Pada fase kedua dan ketiga, pengadaan armada KRL baru ditempuh lewat jalur impor dari CRRC Qingdao Sifang Co.Ltd dengan jumlah keseluruhan 11 trainset atau 132 unit kereta.
Langkah pengadaan itu digulirkan semenjak 2024 berbekal anggaran Rp830 juta (US$49,4 juta) demi menebus tiga *trainset* serta Rp2,20 triliun (US$131,5 juta) guna mengamankan delapan unit sisanya.
“Untuk 11 trainset impor seluruhnya telah beroperasi sejak 2025,” lanjut Karina.
Kemudian untuk fase keempat, dilangsungkan proyek pengadaan KRL retrofit sebanyak 24 unit atau dua trainset dengan nilai Rp250 juta. Saat ini, pengerjaannya terpantau masih dalam proses penyelesaian di pabrik PT INKA.
Bagian pamungkas, diagendakan pengadaan KRL baru sebanyak 96 unit atau delapan trainset dengan taksiran nilai Rp2,05 triliun dari PT INKA.
Kendati demikian, tahapan penandatanganan kontrak untuk bagian ini belum dilangsungkan.
Dengan begitu, dari keseluruhan rencana penyediaan 37 trainset, tercatat baru 18 trainset yang sudah aktif beroperasi hingga memasuki pertengahan tahun 2026.
Alasan Pengadaan KRL Baru
Sebelumnya, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin memaparkan alasan mendesak di balik pengadaan KRL yang pendanaannya bersumber dari penyertaan modal negara (PMN) tersebut.
Menurut penuturannya, langkah ini diambil guna mengantisipasi lonjakan volume penumpang sekaligus menyiasati bertambahnya armada KRL yang sudah memasuki masa pensiun atau konservasi.
“Diproyeksikan dari tahun 2024 sampai dengan 2030, jumlah ridership yang ada di KRL Jabodetabek ini meningkat setiap tahunnya 4%, dan diharapkan di tahun 2030 itu akan mencapai 437 juta penumpang,” ujarnya di DPR, Senin (8/6/2026).
Sementara jika menilik pada aspek usia rangkaian kereta, saat ini armada KRL Jabodetabek masih didominasi oleh sarana kereta berusia tua yang didatangkan dari Jepang.
Bobby menjabarkan rangkaian yang hingga kini masih aktif melayani penumpang terdiri atas 780 unit JR East 205 dengan masa pakai berkisar 34 tahun sampai 41 tahun, serta Tojyo Metro 6000 sebanyak 128 unit dengan rentang usia yang tidak jauh berbeda.
Pembagian alokasi dana PMN tersebut dijadwalkan secara bertahap selama tiga tahun anggaran. Dimulai pada tahun anggaran (TA) 2024 dengan nominal Rp2 triliun lewat payung hukum PP No. 52 Tahun 2024.
Berikutnya, suntikan PMN TA 2025 senilai Rp1,8 triliun berdasarkan landasan PP No. 51 Tahun 2025, serta target proyeksi PMN TA 2026 dengan nilai Rp1,5 triliun.
Guna menutup sisa kekurangan pembiayaan yang ada, KAI bersandar pada diversifikasi pendanaan yang berasal dari sektor swasta.
Sistem pinjaman bank lewat skema kredit sindikasi diagendakan bakal menambal porsi pendanaan mencapai angka Rp3,69 triliun atau setara dengan 40% dari keseluruhan nilai proyek.
Sementara untuk sisanya, yakni sebesar Rp0,19 triliun atau setara 2%, bakal ditutup dengan mengandalkan kas internal dari PT KCI.