JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) memacu peningkatan ekspor telur serta daging ayam menyusul melimpahnya ketersediaan stok di dalam negeri (oversupply). Pihak pemerintah menyasar peluang penetrasi pasar ekspor menuju Arab Saudi hingga China.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengutarakan, produk unggas asal Indonesia untuk saat ini sudah dikapalkan ke 11 negara. Ke depannya, total negara tujuan maupun volume pengiriman akan konsisten ditingkatkan. Salah satu pasar yang diposisikan sebagai prioritas ialah Arab Saudi.
Sudaryono memandang negara itu mempunyai potensi permintaan yang masif, terkhusus guna mengakomodasi keperluan konsumsi para jemaah umrah dan haji.
"Kita akan terus tingkatkan kuantitas, salah satu market yang besar adalah Arab Saudi, kaitannya untuk umrah dan kebutuhan haji kita yang besar. Nah ini kita lagi jajaki, harus gol," ujarnya di Kantor Kementan, Jakarta, Senin (6/7/2026).
Di samping Arab Saudi, pemerintah pun menyasar China selaku pasar yang strategis. Salah satu komoditas yang dianggap mempunyai prospek cerah ialah ceker ayam, mengingat permintaannya terhitung tinggi di Negeri Tirai Bambu tersebut.
"Di China, salah satu komoditas ayam yang diminati adalah ceker ayam. Jadi selain orang Indonesia, ternyata orang China juga mengonsumsi ceker ayam dalam jumlah besar," ungkap Sudaryono.
Lebih jauh, dia mengimbuhkan, pelebaran akses pasar ekspor ialah bagian dari langkah diplomasi ekonomi yang digulirkan Presiden Prabowo Subianto dalam bermacam forum pertemuan dengan para kepala negara sahabat.
Lewat jalinan diplomasi itu, pemerintah berikhtiar membuka keran peluang ekspor bagi aneka komoditas unggulan tanah air, mulai dari sarang burung walet, durian, buah-buahan, hingga produk sektor pertanian, peternakan, serta perikanan.
Dengan terbukanya berbagai pasar baru, pemerintah menaruh harapan agar surplus produksi telur dan daging ayam di lingkup domestik dapat diserap oleh pasar internasional, sehingga sanggup memelihara stabilitas keseimbangan antara pasokan dengan permintaan serta tingkat harga di pasar.
"Ini bagian dari diplomasi, jadi kalau misalnya Pak Presiden banyak berjumpa dengan tokoh negara atau kepala negara lain, itu salah satunya urusan begini-begini, meng-gol-kan urusan ekspor komoditas," pungkasnya.