JAKARTA - Menentukan jenis bahan bakar yang pas dengan spesifikasi mesin merupakan salah satu aspek esensial demi mempertahankan performa sekaligus efisiensi pemakaian BBM pada mobil.
Kendati sama-sama golongan bensin, tiap-tiap produk mempunyai nilai oktan (RON) yang berlainan, oleh sebab itu pemakaiannya wajib diselaraskan dengan instruksi dari pabrikan.
Muchlis, pemilik Bengkel Spesialis Toyota Mitsubishi Garasi Auto Service Sukoharjo, mengutarakan bahwa warga sebetulnya dapat mempraktikkan pengujian mandiri mengenai disparitas pemakaian bahan bakar sewaktu mengisi Pertalite ataupun Pertamax.
"Dari segi teknis, mobil-mobil modern dianjurkan pakai bensin paling kecil RON 91, lebih tinggi RON lebih baik, seperti Pertamax Turbo (RON 98), kesesuaian ini berdampak pada konsumsi BBM," ucap Muchlis kepada Kompas.com, belum lama ini.
Berdasarkan penjelasan Muchlis, Pertalite mempunyai nilai oktan di bawah ambang batas instruksi untuk mobil dengan standar emisi Euro 4 ke atas. Imbasnya, performa mesin berpeluang drop lantaran bahan bakar yang digunakan berlainan dengan spesifikasi mesin kendaraan.
"Mesin modern memiliki kompresi tinggi, dirancang khusus untuk menciptakan efisiensi, nah dia cocoknya dengan BBM RON tinggi, agar tidak terjadi knocking atau ngelitik," ucap Muchlis.
Ia menjabarkan, korelasi antara performa mesin dengan pemakaian bahan bakar berkaitan erat dengan jarak tempuh yang dapat diraih menggunakan volume BBM yang ditentukan.
Sewaktu mesin tidak beroperasi secara maksimal imbas dari pemakaian bensin dengan kadar oktan yang lebih rendah, daya yang dikeluarkan pun ikut menyusut, sehingga tingkat efisiensi bahan bakar juga ikut merosot.
"Di layar informasi (MID) pasti akan terdapat bedanya tuh, mobil yang pakai BBM sesuai rekomendasi cenderung lebih irit," ucap Muchlis.
Di samping berdampak pada pemakaian BBM, Muchlis turut mewanti-wanti bahwa pemakaian Pertalite secara berkepanjangan pada kendaraan roda empat yang memerlukan oktan lebih tinggi juga dapat memicu efek jangka panjang.
Salah satu contohnya yakni gejala knocking atau mesin yang mengelitik, yang bisa mempercepat tingkat keausan pada komponen piston.
"Kualitas BBM yang rendah juga berdampak langsung pada pompa bensin dan injektor dalam jangka panjang, kotoran bisa membuatnya tersumbat," ucap Muchlis.
Oleh karena itu, walaupun banderol Pertalite terpaut lebih ekonomis per liternya, belum tentu ongkos operasional kendaraan bakal menjadi lebih murah.
Pemakaian bahan bakar berpeluang menjadi lebih boros, sementara komponen pada sistem bahan bakar juga dapat membutuhkan pemeliharaan yang lebih intensif demi menjaga performa mobil tetap prima.