Harga Telur Puyuh Anjlok, Peternak di Batu Rugi Ratusan Ribu Sehari

Kamis, 02 Juli 2026 | 22:17:01 WIB
Pasokan Melimpah, Harga Telur Puyuh di Kota Batu Anjlok Drastis [FOTO: NET].

JAKARTA - Para peternak burung puyuh di wilayah Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur, terpaksa melepas telur hasil produksi mereka di bawah harga pokok produksi (HPP) menyusul merosotnya harga di tingkat kandang hingga menyentuh Rp 18.500 per kilogram. 

Penurunan nilai jual yang dipicu oleh melimpahnya ketersediaan barang serta melemahnya daya serap pasar selama masa liburan sekolah mengakibatkan para peternak mengalami kerugian hingga ratusan ribu rupiah tiap harinya.

Salah seorang peternak burung puyuh, Sotya Hanief, memaparkan bahwa nilai jual saat ini berselisih cukup jauh dari angka HPP yang idealnya berada di nominal Rp 25.000 sampai Rp 26.000 per kilogram.

"Kalau harga di kandang Rp 18.500 per kilogram, kami rugi sekitar Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per kilogram. Mau bagaimana lagi, tetap harus dijual," ujar Sotya, Kamis (2/7/2026).

Sotya sendiri mengelola sekitar 3.500 ekor burung puyuh dengan volume produksi harian rata-rata berkisar 35 kilogram telur atau setara tiga boks.

Dengan selisih angka tersebut, dirinya mengaku harus menanggung kerugian berkisar Rp 140.000 sampai Rp 175.000 tiap hari. 

Padahal, menurut pandangannya, besaran harga ideal agar para peternak masih bisa mengantongi keuntungan berada di angka Rp 28.000 hingga Rp 30.000 untuk per kilogramnya.

Pasokan Melimpah, Permintaan Menurun

Sotya menjabarkan bahwa harga komoditas telur puyuh sempat melonjak tinggi hingga Rp 40.000 per kilogram pasca-Hari Raya Idul Adha dan mampu bertahan selama kurang lebih tiga pekan.

 Kendati demikian, tingginya tingkat harga tersebut malah memicu ketertarikan banyak orang untuk mulai membudidayakan burung puyuh, sehingga volume produksi meningkat dan ketersediaan barang di pasar menjadi berlebih.

"Harga Rp 40.000 itu sebenarnya sangat jarang terjadi karena terlalu mahal. Banyak orang akhirnya ikut beternak puyuh. Sekarang produksinya berlebih, sehingga harga malah anjlok," katanya.

Di samping terpengaruh oleh faktor melonjaknya hasil produksi, tingkat permintaan terhadap telur puyuh juga mengalami kelesuan sepanjang masa libur sekolah. 

Menurut kacamata Sotya, sebagian besar distribusi telur puyuh selama ini diserap oleh para pedagang jajanan di area sekolahan, sehingga tingkat permintaan otomatis melandai ketika aktivitas belajar mengajar diliburkan.

"Kalau anak-anak libur sekolah, penjual jajanan juga banyak yang libur. Jadi yang tersisa hanya konsumsi rumah tangga. Program makan bergizi juga kalau libur saya rasa ikut berpengaruh karena telur puyuh banyak peminatnya di sekolah," ujarnya.

Ia mengimbuhkan, masuknya kalender ke bulan Suro pun berakibat pada berkurangnya intensitas kegiatan hajatan di tengah masyarakat, sehingga tingkat konsumsi terhadap telur puyuh ikut melemah.

Pasokan dari Blitar Tekan Harga

Di sudut lain, bursa telur puyuh di area Malang Raya juga tengah dibanjiri oleh pasokan kiriman dari wilayah Blitar. 

Menurut Sotya, menyusutnya volume pengiriman menuju Jakarta mengakibatkan sebagian hasil produksi dialihkan ke Malang, sehingga situasi kelebihan pasokan kian membengkak dan tingkat harga di level peternak terus mengalami tekanan.

"Ada telur puyuh dari Blitar masuk ke Malang. Karena kiriman ke Jakarta berkurang, akhirnya overproduksi di Malang dan harga jadi semakin rendah," katanya.

Dirinya menaruh harapan agar nilai jual telur puyuh bisa secepatnya merangkak naik di atas angka HPP, supaya para peternak tidak terus-terusan memasarkan hasil budidaya mereka dalam keadaan merugi.

"Harapan kami yang penting harganya di atas HPP, agar kita peternak tidak terus menerus rugi," ujarnya.

Terkini