Harga BBM Nonsubsidi Naik, Inflasi Transportasi Jadi 2,29 Persen

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:25:31 WIB
Penyesuaian BBM Nonsubsidi Dongkrak Inflasi Transportasi Juni 2026 [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mendokumentasikan bahwa langkah penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi memicu kenaikan inflasi pada kelompok transportasi hingga menyentuh angka 2,29 persen secara bulanan atau month to month (mtm) sepanjang Juni 2026. Sektor ini memberikan sumbangsih terhadap inflasi nasional sebesar 0,28 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono memaparkan, pergeseran harga BBM yang berlangsung sebanyak dua kali selama Juni sangat memengaruhi pergerakan harga komoditas pada bulan tersebut.

“Kita tahu bersama pada tanggal 1 Juni 2026 terjadi kenaikan harga pada Pertamax Turbo, tapi juga penurunan harga pada Dexlite dan Pertamina Dex. Kemudian, pada tanggal 10 Juni 2026 terjadi kenaikan harga pada Pertamax,” ujar Ateng, Rabu (1/7/2026).

Pada awal bulan, tepatnya 1 Juni 2026, PT Pertamina (Persero) mengerek naik harga Pertamax Turbo (RON 98) senilai Rp850 atau berkisar 4 persen. 

Di waktu yang bersamaan, nilai jual Dexlite (CN 51) justru terpangkas Rp 3.100 atau 12 persen, sedangkan untuk Pertamina Dex (CN 53) merosot Rp 3.150 atau 11 persen.

Langkah penyelarasan harga kembali bergulir pada 10 Juni 2026. Kali ini, nominal Pertamax (RON 92) melonjak naik sebesar Rp4.050 atau berkisar 32 persen.

BPS mencatat bahwa komoditas bensin menjadi faktor penentu terbesar bagi inflasi di sektor transportasi dengan kontribusi mencapai 0,21 persen. 

Sementara itu, tarif penerbangan udara menyumbang inflasi senilai 0,05 persen, disusul oleh komoditas pelumas atau oli mesin yang memberikan andil sebesar 0,01 persen.

“Inflasi pada komoditi bensin dipicu oleh penyesuaian harga beberapa jenis BBM nonsubsidi, sementara kenaikan untuk tarif angkutan udara terutama didorong oleh meningkatnya permintaan seiring adanya periode libur sekolah pada bulan Juni,” jelas Ateng.

Secara makro, Indeks Harga Konsumen (IHK) merangkak naik ke posisi 111,89 pada Juni 2026 dari posisi sebelumnya sebesar 111,40 pada Mei 2026. Perubahan nilai tersebut menghasilkan angka inflasi bulanan sebesar 0,44 persen.

Di luar sektor transportasi, kelompok komoditas makanan, minuman, dan tembakau ikut andil dalam memicu inflasi bulanan. Sektor ini membukukan inflasi sebesar 0,20 persen dengan kontribusi angka 0,06 persen. 

Komoditas yang paling dominan menyumbang inflasi bersumber dari bawang merah sebesar 0,04 persen, bawang putih 0,03 persen, beras 0,02 persen, serta wortel, ikan segar, minyak goreng, cabai merah, daging sapi, dan cabai rawit yang masing-masing memberikan andil 0,01 persen.

Jika ditinjau dari aspek komponennya, seluruh instrumen pembentuk inflasi kompak mengalami kenaikan tarif pada Juni. Komponen harga yang dikendalikan oleh pemerintah memberikan sumbangsih terbesar, yakni menyentuh 0,27 persen dengan rasio inflasi di angka 1,41 persen. 

Komponen inti menyumbang angka inflasi 0,15 persen dengan rasio inflasi sebesar 0,23 persen. Sementara itu, komponen bergejolak menorehkan andil sebesar 0,02 persen dengan rasio inflasi berada di angka 0,14 persen.

Seluruh provinsi di tanah air tercatat mengalami inflasi bulanan. Wilayah Maluku Utara membukukan angka inflasi tertinggi yaitu sebesar 2,45 persen. Di sisi lain, tingkat inflasi paling rendah melanda wilayah Sumatera Utara dan Kalimantan Tengah, yang masing-masing berada di angka 0,23 persen.

Ditinjau secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi pada Juni 2026 menyentuh angka 3,34 persen, nilai yang lebih tinggi jika disandingkan dengan periode serupa di tahun sebelumnya yang bertengger di angka 1,87 persen. 

Sektor makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor penggerak terbesar bagi inflasi tahunan dengan kontribusi 1,36 persen serta rasio inflasi menyentuh 4,67 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya ikut menyumbang inflasi sebesar 0,69 persen dengan rasio inflasi berada di angka 10,10 persen.

Berdasarkan struktur komponennya, inflasi tahunan paling dominan bersumber dari komponen inti dengan kontribusi mencapai 1,77 persen dan tingkat inflasi sebesar 2,76 persen. 

Komponen bergejolak memberikan andil sebesar 0,91 persen, sedangkan untuk komponen harga yang dikendalikan pemerintah menyokong andil sebesar 0,66 persen.

Seluruh provinsi di Indonesia juga terpantau mengalami inflasi tahunan. Wilayah Papua Pegunungan menorehkan angka inflasi paling tinggi mencapai 7,84 persen, sementara angka inflasi paling rendah dicatatkan oleh wilayah Sulawesi Barat yakni sebesar 2,29 persen.

Terkini