BPS Catat Nilai Tukar Petani Juni 2026 Turun Menjadi 127,65

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:20:32 WIB
Biaya Naik Lebih Cepat, Nilai Tukar Petani Turun di Juni 2026 [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mendokumentasikan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juni 2026 berada di angka 127,65 atau merosot sebesar 0,06 persen ketimbang bulan terdahulu. 

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, penurunan NTP ini dipicu oleh laju kenaikan harga hasil panen yang diterima petani lebih lambat daripada lonjakan pengeluaran yang mesti mereka bayarkan.

"Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Juni 2026 tercatat sebesar 127,65 atau turun tipis 0,06 persen dibanding Mei 2026," ujarnya dalam konferensi pers, Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Menurut penjelasannya, kondisi ini dipengaruhi oleh pertumbuhan Indeks Harga yang Diterima Petani (IT) sebesar 0,49 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (IB) merangkak naik sedikit lebih tinggi yakni 0,55 persen.

Bahan pangan serta komoditas yang paling dominan memengaruhi kenaikan harga jual yang didapat petani di antaranya meliputi karet, gabah, bawang merah, beserta jagung. 

Ditinjau dari aspek subsektor, lini peternakan menjadi faktor utama yang mengoreksi penurunan NTP pada Juni 2026. Angka nilai tukar petani pada subsektor peternakan tersebut menyusut hingga 1,85 persen.

Di samping itu, penyusutan nilai juga melanda subsektor hortikultura, tanaman perkebunan, serta sektor perikanan yang terpantau kompak mengalami penurunan NTP pada kurun waktu ini.

"Hanya subsektor tanaman pangan yang mengalami peningkatan NTP di bulan Juni," kata Ateng.

Pada sisi yang berbeda, BPS mengonfirmasi penurunan juga terjadi di sektor perikanan kendati skalanya relatif tipis. Situasi tersebut tecermin dari Nilai Tukar Nelayan (NTN) pada Juni 2026 yang terkoreksi turun 0,01 persen bila disandingkan dengan Mei 2026.

Penurunan ini menurut penuturannya, dipicu oleh pertumbuhan indeks harga yang didapat nelayan cuma berada di angka 0,76 persen, lebih landai daripada pertumbuhan indeks harga yang ditanggung nelayan yang menyentuh 0,77 persen. 

Lewat kata lain, beban biaya yang mesti dialokasikan nelayan melesat lebih cepat ketimbang margin keuntungan tambahan yang mereka bawa pulang dari hasil jaring tangkapan.

Ateng menambahkan, jajaran komoditas yang mengerek kenaikan harga jual yang diterima nelayan di antaranya mencakup ikan cakalang, layang, tongkol, serta ikan kembung.

Terkini