AESI Dorong Sektor Industri Segera Adopsi Energi Surya

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:49:32 WIB
Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Mada Ayu Habsari. (Foto: NET)

JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Mada Ayu Habsari, mengimbau percepatan pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di lingkungan industri untuk memperkuat daya saing bangsa. 

Mada menegaskan bahwa rentang tahun 2026–2028 merupakan fase krusial bagi akselerasi adopsi PLTS di sektor tersebut.

Meskipun pemanfaatan energi surya di Indonesia, khususnya pada sektor manufaktur sebagai pengguna utama PLTS atap, menunjukkan tren positif, Mada menilai skalanya masih sangat kecil. 

"Namun jika dibandingkan dengan potensi teknis energi surya Indonesia yang sangat besar, pemanfaatannya masih di bawah satu persen. Artinya, ruang pertumbuhan ke depan masih sangat luas," ujar Mada.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Green Energy Solutions Forum for Manufacture Owners di Bandung, Rabu (10/6). Berbagai faktor seperti dukungan kebijakan, kuota PLTS atap, serta tuntutan pasar global terhadap praktik berkelanjutan menjadi pendorong utama percepatan adopsi ini. 

AESI juga menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap standar Environmental, Social and Governance (ESG) dan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) agar industri tetap mampu bersaing di pasar internasional.

Sejalan dengan hal tersebut, CEO Trivigo, Kunadi Setiadi, menyebut saat ini adalah momentum ideal bagi industri untuk bertransisi ke energi hijau. Menurutnya, keselarasan antara regulasi yang kondusif, penurunan harga teknologi, dan tekanan pasar terhadap jejak karbon harus segera dimanfaatkan.

"Ada tiga hal yang jarang sekali bergerak bersamaan, dan ketiganya sedang bergerak sekarang. Regulasi semakin mendukung, harga teknologi semakin kompetitif dan tekanan pasar global terhadap jejak karbon semakin nyata. Ketika ketiga faktor ini sudah sejajar, menunda keputusan justru menjadi kerugian yang kami pilih sendiri," jelas Kunadi.

Ia menambahkan bahwa efisiensi energi kini menjadi penentu margin usaha, terutama bagi industri padat energi seperti tekstil. Kunadi juga menepis kekhawatiran mengenai mahalnya investasi awal PLTS. 

Ia menekankan bahwa investasi ini memiliki pengembalian yang cepat dalam empat hingga enam tahun dengan manfaat jangka panjang yang besar.

"Pabrik tidak bangkrut dalam semalam karena tagihan listrik. Namun margin akan terus menyempit dari tahun ke tahun sampai suatu saat perusahaan menyadari bahwa mereka sudah tidak lagi kompetitif. Energi menjadi fondasi utama daya saing industri," tegas Kunadi.

Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya langkah cepat bagi pelaku industri. 

"Dalam tiga hingga lima tahun ke depan, penggunaan energi surya di sektor industri tidak lagi menjadi pembeda, melainkan standar minimum. Perusahaan yang bergerak lebih cepat akan menikmati keuntungan kompetitif yang sulit dikejar oleh mereka yang terlambat. Waktunya bukan besok, bukan tahun depan, tetapi sekarang," pungkas Kunadi.

Terkini