Kemendag Dorong Realisasi Impor Bawang Putih demi Stabilkan Harga

Kemendag Dorong Realisasi Impor Bawang Putih demi Stabilkan Harga
Kemendag Akselerasi Impor Bawang Putih Guna Atasi Lonjakan Harga [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengutarakan bahwa apresiasi penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bertindak selaku salah satu faktor pemicu yang menstimulasi lonjakan harga komoditas bawang putih di pasar domestik. 

Menilik pada himpunan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada pekan perdana Juli 2026, nilai jual bawang putih terpantau masih merangkak naik di lingkup 263 kabupaten/kota, memperlihatkan perluasan ketimbang pekan sebelumnya yang berada di angka 251 kabupaten/kota.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Bambang Wisnubroto menjabarkan bahwasanya pemerintah konsisten memacu percepatan realisasi impor bawang putih guna menggemukkan ketersediaan stok sekaligus meredam laju kenaikan harga. 

Berdasarkan data milik Kemendag, per 3 Juli 2026, realisasi impor pasokan bawang putih baru menyentuh angka 225.195 ton atau setara 58,55% dari keseluruhan volume Persetujuan Impor (PI) yang resmi dikeluarkan. 

Padahal di sepanjang tahun ini, pihak pemerintah menjatahkan kuota PI bawang putih sebanyak 601.065 ton, sedangkan lembar PI yang sudah diterbitkan mencapai 384.605 ton atau mencakup 59 PI.

“Dari 601.065 ton ini, kami laporkan realisasi impor per 3 Juli 2026, kami dari Kementerian Perdagangan telah menerbitkan PI sebanyak 384.605 ton atau 59 PI. Kemudian realisasi impor sampai dengan tanggal 3 Juli sebanyak 225.195 ton. Atau realisasi dari PI yang telah diterbitkan saat ini sebesar 58,55%. Memang ini kami terus akan akselerasi,” kata Bambang dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Senin (6/7/2026).

Jikalau berkaca pada proyeksi Neraca Pangan 2026 rancangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), tingkat kebutuhan bawang putih nasional di sepanjang tahun 2026 diprediksi menyentuh 683.136 ton atau berkisar 56.928 ton untuk setiap bulannya.

 Keperluan tersebut ditopang oleh sisa cadangan awal tahun 2026 senilai 58.298 ton bersanding dengan kapasitas produksi dalam negeri yang ditaksir mencapai 23.793 ton, disertai angka tingkat susut sebesar 13.590 ton.

Walhasil, pemerintah menetapkan volume kebutuhan pasokan impor bawang putih di angka 601.065 ton. Melalui formulasi skenario tersebut, cadangan pasokan bawang putih pada penghujung tahun 2026 diestimasikan masih menyisakan ruang kurang lebih 13.610 ton.

Lebih jauh lagi, Bambang mengutarakan bahwa Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri pun telah mengimbau kalangan importir yang telah memegang PI agar secepatnya merealisasikan proses impor.

 Kebijakan tersebut bakal dipantau secara berkala demi menjamin pasokan bawang putih segera bertambah di pasaran.

Dirinya menginformasikan bahwa nilai jual bawang putih pada level importir saat ini telah bertengger di kisaran Rp29.000 per kilogram. Lonjakan harga pada sektor hulu tersebut otomatis memberikan dampak domino terhadap pergerakan harga jual di tingkat pedagang eceran.

“Karena memang kalau kami lihat harga di tingkat importir sekarang sudah mencapai level Rp29.000. Ini tentunya berdampak ke harga di tingkat eceran,” katanya.

Merujuk pada ulasan Bambang, eskalasi harga tidak semata-mata dipicu oleh tingginya nilai jual di negara eksportir, melainkan ikut dipengaruhi oleh fluktuasi penguatan dolar AS terhadap mata uang rupiah. 

Di samping itu, periode musim panen yang tengah berlangsung di China selaku negara pemasok utama turut mewarnai mekanisme pembentukan harga bawang putih tersebut.

“Dan memang hal ini dipicu, ini sama halnya seperti kedelai karena memang faktor kurs dolar ini sangat berpengaruh. Kemudian di China juga baru panen, ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan harga bawang putih itu sendiri,” ujarnya.

Hal tersebut lumrah terjadi mengingat Indonesia sampai saat ini masih menggantungkan pemenuhan kebutuhan di atas 90% pasokan bawang putih nasional dari jalur impor.

 Kondisi inilah yang menjadikan harga komoditas bawang putih domestik teramat sensitif terhadap gejolak harga di negara asal, pergerakan fluktuasi nilai tukar rupiah atas dolar AS, hingga pembengkakan biaya logistik angkutan.

Bukan cuma persoalan penguatan kurs dolar semata, Kemendag mencatat ekskalasi konflik geopolitik yang pecah di kawasan Timur Tengah ikut mengganggu jalur pelayaran niaga melalui Selat Hormuz, yang pada akhirnya memicu kenaikan tarif kargo laut global. 

Fenomena tersebut terefleksikan dari lonjakan indeks China Containerized Freight Index (CCFI) yang berimbas pada naiknya ongkos pengadaan bawang putih impor.

Oleh karena itu, Bambang menjamin pihak Kemendag bakal menggenjot realisasi PI yang telah dikeluarkan sebesar kurang lebih 384.605 ton bawang putih, dibarengi percepatan penerbitan PI untuk sisa kuota alokasi impor selaras dengan neraca komoditas.

“Prinsipnya, kami akan segera mendorong para importer untuk segera merealisasikan PI yang sudah diterbitkan, yang 384.000 ton kurang lebih. Jadi akan segera kami ekselerasi, termasuk untuk mengakselerasi penerbitan PI dari alokasi yang sudah ditetapkan sesuai dengan neraca komoditas. Mungkin itu terkait dengan bawang putih yang bisa kami respon,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tomsi Tohir melayangkan usulan agar alur distribusi komoditas bawang putih impor tidak melulu terkonsentrasi di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. 

Menurut pandangannya, andaikata pasokan impor bisa bersandar langsung lewat pintu pelabuhan di kawasan Indonesia Timur, semisal Makassar ataupun Balikpapan, hal itu bakal memotong durasi distribusi bawang putih ke wilayah timur Indonesia sehingga berpeluang besar memangkas harga jual secara signifikan.

“Memang kalau bisa dikumpulkan, disarankan, mereka masuk langsung pelabuhannya di wilayah Timur, Makassar begitu atau Balikpapan, sehingga penyebarannya lebih cepat lagi itu, Pak. Dan itu akan membantu untuk penurunan harga yang cukup signifikan,” pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index