B50 Dimulai 1 Juli, Mentan Pastikan Pasokan CPO Lebih dari Cukup

B50 Dimulai 1 Juli, Mentan Pastikan Pasokan CPO Lebih dari Cukup
Mentan: Pasokan CPO Aman untuk Mandatori Biodiesel B50 Per 1 Juli [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan kepastian bahwa pasokan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dalam rangka menyokong pemberlakuan mandatori biodiesel B50 per 1 Juli 2026 berada dalam kondisi aman. 

Berdasarkan penuturan Amran, pihak pemerintah sudah mempersiapkan seluruh kebutuhan bahan baku sehingga warga tidak perlu cemas mengenai ketersediaan CPO.

"Oh aman, (pasokan CPO) lebih. Sudah aman," ujar Amran saat ditemui di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Amran mengutarakan bahwa volume produksi CPO nasional terus mengalami kenaikan. Lonjakan tersebut dapat dicermati dari kapasitas ekspor yang bertambah dari kisaran 26 juta ton menjadi 32 juta ton. 

Keadaan ini menggambarkan tumbuhnya kapasitas produksi di dalam negeri. Kenaikan produksi tersebut, menurut pandangannya, menjamin keperluan CPO bagi program B50 tetap terpenuhi tanpa mengusik pasokan untuk kebutuhan domestik ataupun komitmen ekspor Indonesia.

B50 bukan lagi tahap uji coba

Amran mempertegas bahwasanya penerapan B50 bukan lagi berada pada fase uji coba. Program biodiesel B40 sebelumnya telah bergulir sehingga pemerintah tinggal mendongkrak kadar campuran biodiesel menjadi 50 persen.

"Kan bukan uji coba sudah jalan kan. Sudah jalan B40, tinggal naik B50, ini sudah jalan, sudah running," tuturnya.

Amran juga memberikan jaminan bahwa masyarakat bakal memperoleh bahan bakar B50 selaras dengan kebijakan pemerintah. Seluruh langkah persiapan, kata dia, telah dituntaskan menjelang bergulirnya mandatori pada 1 Juli. 

Menurut Amran, pemberlakuan B50 menjadi tonggak sejarah krusial dalam langkah memperkokoh kemandirian energi nasional lewat pemangkasan ketergantungan pada impor solar.

Tak ganggu pasokan minyak goreng

Amran sebelumnya juga memastikan bahwa implementasi B50 tidak bakal mengganggu ketersediaan minyak goreng nasional. 

Sektor produksi minyak sawit Indonesia terus melesat dan masih menorehkan surplus demi mencukupi kebutuhan di dalam negeri. 

Produksi CPO nasional untuk saat ini menyentuh kisaran 52 juta ton. Pihak pemerintah optimistis volume tersebut memadai untuk melayani kebutuhan biodiesel, minyak goreng domestik, sekaligus ekspor secara simultan.

Dari total produksi dimaksud, berkisar 20 juta ton diplot untuk keperluan minyak goreng. Sementara untuk ekspor yang sebelumnya berkisar 26 juta ton kini menanjak menjadi 32 juta ton selaras dengan naiknya produktivitas kelapa sawit.

Amran memaparkan bahwa keperluan CPO dalam mendukung implementasi B50 diprediksi menyentuh angka berkisar 5,3 juta ton dari keseluruhan produksi nasional.

"Pemerintah optimistis implementasi B50 dapat berjalan seimbang antara kepentingan energi nasional, kebutuhan minyak goreng masyarakat, dan keberlanjutan ekspor sawit Indonesia ke pasar internasional yang menguasai 60 persen," jelasnya.

Hemat subsidi Rp 48 triliun

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah bakal mulai memberlakukan kebijakan Biodiesel 50 (B50), yakni ramuan 50 persen CPO di dalam solar, guna memangkas subsidi energi.

Berdasarkan keterangan Airlangga, pihak Pertamina telah bersiap memutar roda kebijakan dimaksud. Penerapan B50 diproyeksikan memotong tingkat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) fosil hingga angka 4 juta kiloliter per tahunnya.

“Tentu ini dalam osenam bulan akan ada penghematan dari fosil dan juga ada penghematan subsidi daripada biodiesel yang diperkirakan nilainya Rp48 triliun,” kata Airlangga.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia turut memaparkan bahwa implementasi B50 bakal membawa Indonesia mengalami surplus solar pada tahun 2026.

“Jadi, ini kabar baik, begitu RDMP (Refinery Development Master Plan) Kalimantan Timur (Kilang Balikpapan) sudah kami operasikan,” tandas Bahlil.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index