JAKARTA - Sebagai bentuk komitmen guna menjamin hak atas pelayanan kesehatan bagi warga binaan pemasyarakatan, Pemerintah menggulirkan Kick-Off Nasional Skrining Tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang membidik warga di 532 lapas di seluruh Indonesia.
"Pak Presiden berpesan agar program ini dilakukan kepada seluruh masyarakat, siapapun mereka, termasuk 272 ribu warga binaan di lebih dari 532 lapas dan rutan di seluruh Indonesia," ujar Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan di Jakarta, Selasa (30/06/2026).
Dia mengutarakan bahwa program tersebut menargetkan ratusan ribu narapidana, tahanan, anak binaan, beserta petugas pemasyarakatan di seantero Indonesia. Kegiatan ini menjadi bagian dari program prioritas (Quick Win) Presiden Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan, katanya, mengemban tanggung jawab memelihara kesehatan segenap masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Maka dari itu, dia berharap pengecekan kesehatan secara berkala dapat membantu warga binaan menjaga kondisi tubuhnya selama melewati masa pidana.
"Dengan demikian, saat kembali ke masyarakat, mereka tetap sehat dan memiliki usia harapan hidup yang sama dengan rata-rata masyarakat Indonesia, yakni 74 tahun," ujarnya.
Dia pun menyoroti besarnya risiko penularan tuberkulosis (TB) di lingkungan lembaga pemasyarakatan. Bersandarkan data, prevalensi kasus TB di lapas menyentuh angka 0,54 persen, lebih tinggi bila dikomparasikan dengan rata-rata nasional sebesar 0,3 persen.
Menurut pandangannya, keadaan warga binaan yang menempati lingkungan padat dengan jarak antarpenghuni yang karib memicu risiko penularan penyakit menjadi lebih besar. Oleh sebab itu, skrining berkala memanfaatkan foto rontgen dada menjadi tindakan yang sangat krusial.
"TB ini menular dan jangan dianggap remeh. Tapi, pengobatannya ada. Kalau ketahuan sejak awal, diobati pasti sembuh dan tidak menularkan lagi. Inilah mengapa skrining TB kami lakukan di lapas agar angka kematian akibat TB bisa menurun tajam," ujarnya.
Dia mengingatkan krusialnya deteksi dini demi menangkal penyakit tidak menular, layaknya stroke dan penyakit jantung.
Ia menitipkan pesan kepada warga binaan maupun petugas supaya tertib memelihara tiga indikator utama kesehatan, yaitu tekanan darah di bawah 120/80 mmHg, kadar gula darah di bawah 200 mg/dL, serta kadar kolesterol di bawah 200 mg/dL.
Senada, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto menegaskan komitmen penuh jajarannya demi menyukseskan program deteksi dini tersebut. Dia menyambut positif sinergi bersama Kementerian Kesehatan dalam menyokong target eliminasi TB di Indonesia pada 2030.
"Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus TB tertinggi kedua di dunia setelah India. Oleh karena itu, diperlukan langkah luar biasa, termasuk deteksi dini di lingkungan pemasyarakatan yang memiliki risiko penularan tinggi," kata Agus.
Guna mendukung pengaplikasian program itu, pihaknya pun sudah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan terkait pemenuhan sarana dan prasarana pada klinik lapas serta rutan.
"Sebagian alat kesehatan sudah kami terima, dan ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi warga binaan," katanya.
Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2) Kementerian Kesehatan, Andi Saguni memaparkan bahwa secara nasional program ini bakal menyasar total 321.449 peserta yang berisikan 272.573 warga binaan dan 48.876 petugas di 532 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan yang tersebar pada 34 provinsi. Pelaksanaan program diterapkan secara bertahap sampai akhir 2026.
"Sebagai tahap awal, peluncuran di Nusakambangan dilaksanakan selama empat hari, mulai 29 Juni hingga 1 Juli 2026, dengan target 5.768 orang, yang terdiri atas 4.842 warga binaan dan 926 petugas," ujarnya.
Paket layanan Cek Kesehatan Gratis yang disediakan mencakup pengukuran tinggi dan berat badan, pengecekan tekanan darah, gula darah, kolesterol, tes cepat (rapid diagnostic test/RDT) HIV, skrining TB memakai foto rontgen dada, hingga pengambilan sampel dahak untuk peserta yang bergejala agar memperoleh penanganan lebih lanjut.