BPOM Pacu Industri Pangan Steril Komersial Lewat PMR

BPOM Pacu Industri Pangan Steril Komersial Lewat PMR
Genjot Pangan Steril Komersial, BPOM Terapkan Manajemen Risiko [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memacu perkembangan industri pangan steril komersial di tingkat nasional, baik dari aspek kapasitas produksi, inovasi, hingga volume ekspor supaya selaras dengan pengaplikasian sistem jaminan keamanan pangan lewat Program Manajemen Risiko (PMR).

Kepala BPOM, Taruna Ikrar di Jakarta, Selasa, menyebutkan bahwa industri pangan steril komersial dijadikan prioritas, mengingat potensinya yang terus memperlihatkan pertumbuhan menjanjikan. 

Di samping mempunyai masa kedaluwarsa lama dan mudah didistribusikan, produk pangan steril komersial kian dibutuhkan guna menopang macam-macam keperluan strategis nasional.

"Salah satu bentuk strategis produk steril komersial adalah untuk penyediaan pangan siap konsumsi (ready-to-eat/RTE) bagi jamaah haji Indonesia di Arab Saudi. Total kebutuhan pangan siap konsumsi pada masa puncak haji di Armuzna dapat mencapai 4,3 juta porsi, dimana industri pangan olahan dalam negeri telah mampu memasok hingga 2,3 juta porsi makanan RTE dalam bentuk pangan steril komersial," katanya.

Tidak cuma itu, ia menyampaikan, pangan steril komersial pun sudah dimanfaatkan bagi penanggulangan bencana, logistik pertahanan (ransum militer), serta berpotensi untuk penyediaan konsumsi bergizi di kawasan dengan keterbatasan infrastruktur.

Makanan RTE yang didistribusikan tersebut sudah melewati tahapan sterilisasi suhu tinggi dalam durasi tertentu beserta pengepakan secara hermetis guna menjamin produk terhindar dari potensi kontaminasi racun saraf (neurotoksin) yang mematikan bagi kesehatan.

"Teknologi sterilisasi termal juga memampukan kuliner tradisional nusantara menembus pasar dunia. Produk dapat disimpan pada suhu ruang dalam jangka waktu panjang, tanpa kehilangan karakteristik rasanya, and tetap memenuhi standar keamanan pangan yang ketat," ujarnya.

Menurut pandangannya, pangan steril komersial tergolong produk dengan risiko tinggi, oleh sebab itu tiap tingkatan produksinya wajib diawasi secara ketat. 

Karena itu, PMR dijadikan instrumen krusial demi menjamin supaya ekspansi industri berjalan secara kontinu sekaligus menyajikan garansi keamanan untuk publik.

BPOM pun mengadakan Forum Koordinasi Nasional Pangan Steril Komersial untuk mengokohkan lagi komitmen dari segenap elemen ekosistem pangan steril komersial.

“Besarnya peluang pada sektor pangan steril komersial perlu diimbangi dengan kesiapan industri dalam menghasilkan produk yang aman, bermutu, dan konsisten,” ujarnya.

Sepanjang satu dekade pengaplikasiannya semenjak digulirkan oleh BPOM pada tahun 2015, PMR telah memicu pergeseran paradigma kontrol pangan di Indonesia. 

Di samping itu, penerapan PMR turut memelopori pengakuan terhadap kemandirian para pelaku usaha dalam mengemban fungsinya sebagai penanggung jawab pokok keamanan pangan.

Dahulu, pemantauan pelaku usaha lebih menitikberatkan pada produk final. Sedangkan PMR mementingkan metode pengawasan preventif bersandar pada risiko. 

Para pelaku usaha dipacu untuk memetakan, mengontrol, serta mengantisipasi potensi risiko semenjak proses manufaktur berjalan dengan konsentrasi pada fase kritis yang berpeluang memicu kejadian luar biasa keamanan pangan.

“Dengan sistem keamanan pangan yang andal, industri pangan steril komersial memiliki peluang lebih besar untuk memasuki pasar yang lebih luas sekaligus menjawab kebutuhan berbagai program strategis nasional," katanya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index