Mensesneg: Perlu Koordinasi Antar K/L Jaga Kinerja Ekonomi

Mensesneg: Perlu Koordinasi Antar K/L Jaga Kinerja Ekonomi
Sinergi Kementerian dan Lembaga Diperkuat Hadapi Gejolak Global [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, memaparkan penyelarasan antara pihak baik kementerian ataupun lembaga diperlebar demi merawat performa ekonomi di tengah gejolak geopolitik.

Perihal tersebut ia kemukakan sewaktu jumpa pers di Gedung Nusantara III DPR RI selepas menggelar rapat bersama jajaran pimpinan DPR, Waka DEN, Deputi Gubernur Senior BI, sampai Menteri ESDM. Di dalam perjumpaan ini mengulas seputar laju pertumbuhan ekonomi.

Ia mengutarakan penyelarasan serupa itu dinilai sanggup memperkokoh sektor ekonomi maupun migas Indonesia.

"Semua saling memberi masukan bagaimana mengambil kebijakan-kebijakan mulai dari makro, mulai dari fiskalnya sampai kepada sektor riil yang kita hadapi di lapangan. Salah satu contohnya adalah berkenaan dengan masalah kebutuhan gas untuk industri kita," katanya.

Ia mengibaratkan penyelarasan ini layaknya ajang kompetisi Piala Dunia di mana pada tiap-tiap tim memerlukan sinergi yang teratur.

"Kita berharap koordinasi ini dapat terus kita tingkatkan untuk memastikan seluruh perekonomian dapat berjalan sesuai dengan yang kita harapkan," tandasnya.

Pada kesempatan yang serupa, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, memaparkan Indonesia wajib merawat kepercayaan publik agar ekonomi sanggup bertahan di tengah dinamika geopolitik yang sekarang ini bergulir.

Ia menilai bahwa kondisi fondasi ekonomi RI memperlihatkan perbaikan, melainkan cuma dihadapkan pada melandainya nilai mata uang rupiah yang lebih dalam daripada peers.

"Berarti kita juga harus mewaspadai bagaimana menjaga isu confidence and trust, dan itu tidak tentu terlepas dari kaitannya dengan kebijakan-kebijakan yang akan diambil oleh masing-masing lembaga yang bertanggung jawab secara teknis untuk melakukan hal itu," katanya.

Mari mengerti bahwa tiap-tiap kementerian dan lembaga mempunyai kendala masing-masing dalam mengantisipasi iklim global yang diselimuti ketidakpastian. 

Menurut pandangannya, yang paling utama ialah bagaimana suatu negara mereaksi dinamika global tersebut secara akurat serta padu.

Pada momentum yang sama, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti mengutarakan dalam mengantisipasi ketidakpastian global, BI bakal menelurkan sebuah regulasi jangka pendek demi menggapai stabilitas.

Terkait perkara ini, ucap dia, ialah nilai tukar serta yang kedua berupa likuiditas. Ia menyebut, BI sudah menempuh tindakan lewat penaikan BI Rate sebesar 100 basis poin.

"Sehingga sekarang berada di posisi 5,75%. Dan yang terjadi kemudian adalah repricing atau penyesuaian harga, baik itu untuk instrumen yang diterbitkan oleh Bank Indonesia ataupun oleh pemerintah, yaitu SRBI dan SBN," jelasnya.

Ia menyampaikan, di bulan ini sudah bergulir inflow yang lumayan masif sehingga secara year to date dari bulan Januari sampai penghujung Juni, inflow yang mengalir masuk untuk mengisi portofolio SBN dan SRBI telah menyentuh kisaran US$9 miliar.

Di samping itu, ia menandaskan bahwa BI konsisten merawat likuiditas di pasar lewat bermacam instrumen yang dimiliki. Ia memberikan sampel, likuiditas moneter pada penghujung bulan Mei melangsungkan ekspansi berkisar Rp600 triliun.

"Maka di akhir bulan Juni ini kami sudah melakukan ekspansi hingga Rp1.000 triliun, khusus itu untuk menjaga likuiditas agar tidak terjadi gejolak harga di pasar uang dan pasar valas kita," tandasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index