JAKARTA - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menyediakan sarana bagi para ayah untuk berkeluh kesah via aplikasi Whatsapp serta pusat kontak (call center) Halo GATI pada nomor 0853-5588-7770.
GATI sendiri merupakan singkatan dari Gerakan Ayah Teladan Indonesia yang menggarisbawahi urgensi pola pengasuhan berimbang di dalam rumah tangga demi menekan angka fenomena minimnya andil ayah (fatherless) di Indonesia, di mana saat ini menyentuh 25,8 persen mengacu pada hasil pendataan keluarga (PK).
"GATI ada konsultasi ayah gratis, ada Halo GATI berbasis Whatsapp yang melibatkan psikolog-psikolog dari Kemendukbangga/BKKBN, dan ke depan akan berkolaborasi dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI)," kata Direktur Bina Ketahanan Remaja Kemendukbangga/BKKBN Irma Ardiana di Jakarta, Senin (22/06/2026).
Irma mengutarakan, guna menciptakan sebuah gerakan yang mendorong keterlibatan penuh figur ayah dalam mengasuh anak, transformasi sosial pada lingkungan masyarakat tidak dapat diwujudkan secara mandiri, melainkan wajib menggandeng banyak elemen.
Ia memaparkan, data fatherless berdasarkan status wilayah memperlihatkan kondisi di area pedesaan rupanya lebih tinggi (26,3 persen) ketimbang di wilayah perkotaan (25,4 persen).
Situasi tersebut dipicu oleh tingginya angka migrasi kerja kaum pria di desa, di mana banyak kepala keluarga merantau di luar daerah, sehingga kedekatan fisik maupun kedekatan emosional menjadi terbatas.
"Dampak fatherless itu menyebabkan strawberry generation, yang membuat anak kesulitan akademik, emosional, kesehatan mental, perilaku agresif hingga keterlibatan dalam perilaku berisiko," ujar dia.
Kendati begitu, Irma menggarisbawahi bahwa fungsi seorang ayah tidak selalu bertumpu pada ayah kandung semata, namun bisa dipenuhi oleh figur pengganti sebagai pengasuh yang sanggup menyuguhkan ketenangan bagi anak agar mereka tetap mempunyai role model selama melewati fase kanak-kanak hingga remaja.
"Kami ingin mengangkat sosoknya, bahwa ayah itu bisa hadir, dan perannya itu bisa digantikan, baik oleh paman, kakek, saudara laki-laki misalnya," tuturnya.
Ia pun berpendapat bahwa kampanye GATI mesti disebarluaskan secara masif mulai dari tingkat kementerian, pemerintah daerah, hingga lingkup desa dengan menyertakan seluruh lapisan masyarakat.
Salah satu contoh penerapan yang baik telah dipelopori oleh seorang kepala desa di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menerapkan aturan wajib bagi para ayah untuk menemani anaknya ke posyandu selama tiga bulan beruntun.
"Praktik-praktik baik ini yang perlu terus dilakukan untuk mengubah paradigma dan norma sosial," ucap Irma.