Strategi HBAT Kejar Target Pendapatan Rp88,18 Miliar di Tengah Suku Bunga

Strategi HBAT Kejar Target Pendapatan Rp88,18 Miliar di Tengah Suku Bunga
Direktur Utama HBAT, Go Ronny Nugroho. (Foto: NET)

JAKARTA — Emiten pengembang properti, PT Minahasa Membangun Hebat Tbk. (HBAT), menargetkan pendapatan senilai Rp88,18 miliar dan laba bersih sebesar Rp18,3 miliar pada 2026. Angka ini ditetapkan di tengah tantangan industri properti yang masih dipengaruhi oleh rendahnya daya beli masyarakat serta tingginya suku bunga acuan.

Direktur Utama HBAT, Go Ronny Nugroho, menuturkan bahwa prospek sektor properti tahun ini masih dihadapkan pada berbagai kendala, terutama terkait daya beli. 

Selain itu, kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate ke level 5,5% turut berdampak pada fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

"Tahun 2026 masih cukup menantang karena memengaruhi daya beli masyarakat dan penggunaan fasilitas KPR. Hal ini membuat pasar menjadi lebih selektif," ujarnya dalam Paparan Publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Kamis (11/6/2026).

Meskipun demikian, Ronny menilai kebutuhan nyata masyarakat terhadap hunian tetap meningkat, sehingga memberikan peluang bagi sektor properti, terutama segmen rumah tapak. 

Menurutnya, rumah tapak adalah segmen yang paling menjanjikan karena menawarkan nilai tambah melalui konsep ramah lingkungan dan desain yang fleksibel. 

Selain itu, berbagai insentif dari pemerintah, seperti Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), diharapkan mampu menjaga antusiasme masyarakat untuk membeli hunian.

Untuk meraih target kinerja tersebut, HBAT telah menyiapkan sejumlah strategi. Perseroan akan mempercepat penyelesaian unit hunian yang hampir rampung dengan tetap mengedepankan kualitas. 

Di saat yang sama, perusahaan memaksimalkan efisiensi proses perencanaan dan konstruksi proyek baru agar sesuai dengan kebutuhan pasar.

HBAT juga memperkuat strategi pemasaran melalui inovasi produk, digitalisasi, pemasaran kreatif, pengembangan konsep bangunan hijau, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

"Inovasi produk, pemanfaatan insentif pemerintah, transformasi digital dan pemasaran kreatif, penguatan legalitas dan transparansi, pembangunan berkelanjutan, serta konsep bangunan hijau menjadi strategi Perseroan dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada," kata Ronny.

Di tengah ketatnya persaingan dengan pengembang lain di Sulawesi Utara, HBAT mengandalkan kualitas bangunan, desain kawasan, serta kelengkapan infrastruktur guna menjaga daya saing.

Terkait penggunaan laba, Ronny menyebut perseroan belum merencanakan pembagian dividen dan akan menggunakan dana internal untuk mendukung pengembangan usaha serta modal kerja. 

Ia juga membantah rumor mengenai akuisisi perusahaan oleh pihak tertentu, termasuk isu yang menyebutkan HBAT akan diakuisisi oleh Harita Grup.

"Kami selaku manajemen menegaskan itu tidak benar. Perseroan tidak diakuisisi oleh grup manapun," tegasnya.

Sebelumnya, pada 2025, kinerja HBAT tercatat belum mencapai target yang ditetapkan. Perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp24,53 miliar atau sekitar 33,6% dari target Rp73,02 miliar, dengan laba komprehensif tahun berjalan sebesar Rp2,7 miliar.

Direktur Keuangan HBAT, Andrie Rianto, menjelaskan bahwa kegagalan mencapai target tersebut disebabkan oleh melemahnya daya beli, suku bunga kredit yang relatif tinggi, serta sikap konsumen yang menunda pembelian akibat ketidakpastian ekonomi. 

Di sisi lain, peningkatan selektivitas konsumen, ketatnya persaingan industri, serta volatilitas harga material bangunan turut menekan profitabilitas perseroan sepanjang tahun lalu.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index