JAKARTA — Kebiasaan membawa ponsel ke dalam toilet untuk melihat media sosial atau menonton video singkat ternyata bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang.
Menurut pakar medis sekaligus Assistant Professor of Medicine di Harvard Medical School, Dr. Trisha Pasricha, perilaku ini berhubungan dengan peningkatan risiko wasir atau ambeien dibandingkan dengan individu yang tidak melakukannya.
Dalam sebuah perbincangan bersama Today Show, Dr. Pasricha mengungkapkan bahwa mereka yang menggunakan ponsel saat berada di toilet memiliki potensi 46% lebih besar terkena ambeien.
Data tersebut diperoleh dari penelitian terhadap sejumlah pasien yang melakukan prosedur kolonoskopi di Beth Israel Deaconess Medical Center, Boston.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah PLOS One tersebut mengikutsertakan 125 partisipan dewasa yang berusia 45 tahun ke atas. Para periset membandingkan kebiasaan memakai ponsel ketika buang air besar dengan status kesehatan partisipan, termasuk ada tidaknya gejala ambeien.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa korelasi antara pemakaian ponsel di toilet dan ancaman wasir tetap signifikan meskipun peneliti telah memperhitungkan berbagai variabel lainnya, seperti jenis kelamin, usia, indeks massa tubuh (BMI), asupan serat, hingga tingkat aktivitas fisik.
Selain itu, temuan riset mencatat bahwa sekitar 37% pengguna ponsel menghabiskan waktu lebih dari lima menit di toilet, durasi yang jauh lebih lama dibandingkan kelompok yang tidak membawa ponsel.
Menurut penjelasan Dr. Pasricha, masalah utamanya bukanlah perangkat ponsel itu sendiri, melainkan durasi duduk di kloset yang menjadi lebih lama akibat teralihkan oleh aktivitas scrolling.
Semakin lama seseorang duduk di toilet, tekanan pada pembuluh darah di bagian rektum bawah serta sekitar anus akan meningkat. Situasi ini dapat mengakibatkan pembengkakan pembuluh darah yang dikenal sebagai hemoroid atau ambeien.
Ambeien adalah kondisi saat pembuluh darah di sekitar anus mengalami radang dan bengkak akibat tekanan berlebih, serupa dengan varises namun terjadi di area dubur.
Menanggapi kebiasaan masyarakat yang kini sulit lepas dari media sosial, Dr. Pasricha menganjurkan agar penggunaan ponsel di toilet mulai dibatasi.
Ia memberikan ilustrasi sederhana bahwa seseorang cukup menonton satu atau dua video pendek sebelum segera menyelesaikan aktivitas di toilet dan keluar dari kamar mandi.
Menurutnya, langkah mudah tersebut bisa membantu meminimalkan kebiasaan duduk terlalu lama yang berisiko meningkatkan ancaman wasir. Temuan ini menjadi pengingat bahwa kebiasaan kecil yang dianggap remeh ternyata dapat berpengaruh pada kesehatan jika dilakukan terus-menerus.
Mengurangi durasi scrolling di toilet mungkin terdengar sepele, namun bisa menjadi langkah awal demi menjaga kesehatan saluran pencernaan serta area rektum.