PII Indonesia Triwulan I 2026: Kewajiban Neto Menyusut

PII Indonesia Triwulan I 2026: Kewajiban Neto Menyusut
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso. (Sumber : NET)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat posisi investasi internasional (PII) Indonesia pada kuartal pertama 2026 menunjukkan kewajiban neto yang berkurang menjadi 227,6 miliar dolar AS, dibandingkan dengan posisi 273,4 miliar dolar AS pada akhir kuartal keempat 2025.

“Kewajiban neto yang menurun dipengaruhi oleh penurunan posisi kewajiban finansial luar negeri (KFLN) yang lebih dalam dari penurunan posisi aset finansial luar negeri (AFLN),” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Rabu (10/6/2026).

Selanjutnya, posisi aset finansial luar negeri (AFLN) Indonesia menyusut utamanya akibat penurunan cadangan devisa, yang selaras dengan keperluan valuta asing untuk melunasi utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons BI terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi.

Posisi AFLN pada penutupan kuartal pertama 2026 berada di angka 556,7 miliar dolar AS, turun 0,4 persen secara kuartalan dari posisi 559,1 miliar dolar AS pada akhir kuartal keempat 2025.

Penyusutan posisi AFLN ini turut dipengaruhi oleh penurunan harga aset dan apresiasi dolar AS terhadap berbagai mata uang negara tempat penempatan aset, di saat posisi investasi langsung, investasi portofolio, serta investasi lainnya mengalami peningkatan.

Di sisi lain, posisi kewajiban finansial luar negeri (KFLN) Indonesia juga menurun di tengah aliran modal asing ke sektor investasi langsung dan portofolio yang tetap stabil.

Posisi KFLN Indonesia pada akhir kuartal pertama 2026 tercatat sebesar 784,3 miliar dolar AS, mencatatkan penurunan 5,8 persen secara kuartalan dari 832,6 miliar dolar AS pada akhir kuartal keempat 2025.

Penurunan tersebut utamanya bersumber dari melemahnya nilai instrumen keuangan domestik, meskipun kinerja investasi langsung tetap mencetak surplus yang menggambarkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dalam negeri tetap terjaga.

Posisi investasi portofolio dan investasi lainnya berkurang seiring dengan pelunasan surat utang sektor swasta serta pinjaman luar negeri yang mencapai masa jatuh tempo.

Selain itu, posisi KFLN turut dipengaruhi oleh penurunan harga saham serta penguatan nilai tukar dolar AS terhadap sebagian besar mata uang global, termasuk rupiah.

BI memandang kinerja PII Indonesia pada kuartal pertama 2026 tetap terjaga, yang pada gilirannya mendukung ketahanan eksternal.

Kondisi ini terlihat dari rasio PII Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal pertama 2026 yang sebesar 15,5 persen, lebih rendah dibanding angka 18,9 persen pada kuartal keempat 2025.

Lebih jauh lagi, struktur kewajiban PII Indonesia masih didominasi oleh instrumen berjangka panjang dengan porsi 92,5 persen, yang sebagian besar berbentuk investasi langsung.

BI menyatakan bahwa ke depan, pihak-pihak terkait akan senantiasa mengawasi dinamika ekonomi global yang dapat berdampak pada prospek PII Indonesia dan terus memperkuat respons bauran kebijakan, yang didukung oleh sinergi kebijakan erat dengan pemerintah serta otoritas terkait guna memperkokoh ketahanan sektor eksternal, di samping terus memantau potensi risiko kewajiban neto PII terhadap perekonomian.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index