Jakarta - Kementerian Agama mengumumkan bahwa ada sekitar 4.700 pengawas madrasah dari berbagai wilayah Indonesia yang bakal ikut serta mengawasi penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
Program ini diketahui menjadi salah satu agenda utama dari Menteri Agama Nasaruddin Umar. “Pengawas adalah orang-orang terbaik yang mengawal mutu pendidikan madrasah. Pendidikan harus melahirkan cinta, bukan kebencian,” ujar Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (10/06/2026).
Buku Saku KBC untuk Pengawas Madrasah resmi diterbitkan sebagai simbol dimulainya gerakan ini. Buku panduan tersebut kini sudah terhubung dengan Madrasah Digital Supervision (MDS) yang berfungsi sebagai alat bantu dalam mengawal serta mendampingi pelaksanaan KBC.
Menag mengimbau kepada segenap pengawas madrasah untuk terus mengawal pelaksanaan KBC secara konsisten. Pihak pengawas dinilai mempunyai peran yang sangat krusial demi memastikan agenda penguatan karakter dapat terealisasi dengan baik di tiap lembaga pendidikan. Baca juga: Menag tekankan kurikulum berbasis ekoteologi di pendidikan keagamaan
Menag pun menguatkan kembali bahwa KBC merupakan bentuk perluasan dari gagasan ekoteologi yang menitikberatkan pada keselarasan hubungan di antara manusia, lingkungan, dan Tuhan.
“Kalau semua kitab suci, termasuk Al Quran, dipadatkan menjadi satu kata, maka kata itu adalah cinta,” ujar Menag. Ia menilai, penerapan KBC bakal membawa pengaruh yang baik bagi ekosistem madrasah maupun pondok pesantren.
Ia memaparkan bahwa aksi tawuran, perundungan, kontak fisik kasar, hingga segala jenis intoleransi wajib terus diminimalisasi lewat optimalisasi pendidikan yang bersendikan pilar kasih sayang.
Di kesempatan terdahulu, Nasaruddin Umar menggarisbawahi krusialnya pemantapan kurikulum pendidikan agama yang berlandaskan ekoteologi.
Konsep tersebut memandang keterikatan manusia, alam, serta Tuhan secara menyeluruh dalam satu ikatan nilai yang utuh. Menag menerangkan gagasan spiritual itu mampu menciptakan hubungan saling mengasihi antara manusia dengan sesamanya, lingkungan sekitar, dan juga sang Pencipta sebagai suatu kesatuan yang tak terpisahkan.
“Ekoteologi itu kesadaran yang harus muncul pada diri setiap orang untuk mencintai sesama manusia, mencintai alam semesta, dan pada saat yang sama manusia dan alam juga mencintai Tuhannya. Ini seperti cinta segitiga,” kata dia.