jakarta - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) meresmikan fasilitas Migrant Center di lingkungan Kampus Batam Tourism Polytechnic (BTP), Batam, sebagai strategi memperkokoh ekosistem di sektor hulu dalam menyiapkan pekerja migran Indonesia yang ahli serta kompetitif di kancah internasional, terutama untuk bidang perhotelan dan pariwisata.
Langkah peresmian ini ditempuh sebagai bagian dari keseriusan pemerintah dalam menyusun jalur penyiapan tenaga kerja migran secara lebih sistematis, terhitung dari proses edukasi, kursus pelatihan, hingga penempatan kerja yang sah sesuai regulasi ke pasar internasional.
“Tentu kami akan bangun ekosistem hulu pekerja migran yang skilled workers (tenaga kerja ahli). Dan di sinilah fokusnya di bidang hospitality,” kata Menteri P2MI Mukhtarudin usai mengamati secara langsung sarana kampus pada Senin, sebagaimana rilis pers KP2MI, Selasa.
Mukhtarudin menekankan bahwa kemitraan yang terjalin antara pihak eksekutif dan Batam Tourism Polytechnic adalah potret kolaborasi yang ideal antara pihak pembuat regulasi dengan institusi pendidikan demi memproduksi tenaga kerja migran yang mempunyai kapabilitas relevan terhadap kriteria pasar dunia.
Berdasarkan penjelasannya, pihak otoritas kini terus memaksimalkan bermacam instrumen pendukung yang ada, termasuk lewat kesepakatan tertulis berupa nota kesepahaman antara pihak KP2MI dengan 12 instansi kementerian serta deretan universitas papan atas di tanah air.
Mukhtarudin menguraikan bahwa instansi kementerian terkait itu mengelola berbagai perguruan tinggi kedinasan atau politeknik yang berfokus di sektor pertambangan, pariwisata, bidang kesehatan, transportasi, hingga sektor kelautan untuk awak kapal, sehingga dapat diintegrasikan ke dalam mata rantai penguatan mutu kualitas SDM nasional.
“Pemerintah menciptakan iklim yang memfasilitasi sektor riil. Penempatan dilakukan melalui skema resmi yang disiapkan pemerintah, baik itu Government to Government (G-to-G) maupun skema prosedural lainnya,” urai Mukhtarudin.
Pada agenda yang sama, Mukhtarudin turut mencermati letak geografis wilayah Batam yang berbatasan secara langsung dengan negara Singapura.
Posisi wilayah tersebut dinilai membuka ceruk pasar yang masif untuk mencetak tenaga kerja andal yang siap bertarung di bursa kerja global.
Menurut pandangan Mukhtarudin, benefit yang didapatkan bukan sekadar berbentuk hilirisasi sumber daya manusia (SDM), melainkan juga sanggup memicu roda perekonomian wilayah sekaligus mendongkrak tingkat konsumsi publik.
“Dampaknya bukan saja hilirisasi SDM, tapi konteksnya menggerakkan ekonomi dan daya beli masyarakat. Oleh karena itu, ekosistemnya bagus, mengurangi angka pengangguran, meningkatkan kesejahteraan, dan memberikan multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi,” tutur Mukhtarudin.
Di samping meresmikan pusat penyiapan pekerja migran tersebut, Mukhtarudin pun memotivasi pihak BTP agar segera mendirikan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) secara mandiri.
Gagasan tersebut dinilai sangat rasional mengingat rekam jejak kualitas jebolan BTP yang sudah melanglang buana mengikuti program magang internasional di berbagai hotel papan atas di kawasan Asia.
Lewat kehadiran badan usaha penempatan mandiri itu, BTP diproyeksikan mampu menyajikan pelayanan satu atap yang mengintegrasikan proses edukasi, pelatihan vokasi, hingga penempatan kerja dalam satu lingkaran ekosistem terpadu.
“Saya sarankan segera bentuk dan siapkan P3MI-nya. Sehingga terjadi one stop service di BTP. Jadi orang berpikir kuliah di BTP aja, karena di sana jalurnya untuk bisa bekerja di luar negeri secara prosedural sudah disiapkan. Dalam negeri disiapin, luar negeri disiapin,” pungkas Menteri Mukhtarudin.