jakarta - Tanpa disadari, beragam rutinitas digital harian sering kali mengakibatkan perangkat mengalami kerusakan lebih cepat serta membuka celah ancaman siber.
Mulai dari keengganan memperbarui sistem operasi, mengabaikan peringatan keamanan, hingga menyambungkan perangkat ke jaringan Wi-Fi secara sembarangan, semuanya dapat menjadi pintu masuk bagi tindak kejahatan.
Menurut para pemimpin IT sebagaimana dirangkum KompasTekno dari laman Forbes Tech Council, terdapat 14 perilaku kurang baik yang harus segera ditinggalkan sebelum terlambat. Berikut adalah ulasannya:
Meninggalkan perangkat tanpa dikunci:
Membiarkan ponsel, tablet, atau laptop dalam keadaan terbuka saat ditinggal sebentar adalah tindakan yang sering dianggap sepele.
Padahal, siapapun di sekitar Anda dapat dengan mudah mengakses informasi pribadi, aplikasi bank, hingga akun media sosial hanya dalam hitungan detik.
Mengabaikan perawatan perangkat dan keamanan sistem: Meremehkan pemeliharaan rutin serta abai terhadap pengaturan keamanan dasar adalah kekeliruan yang kerap terjadi.
Kelalaian ini bisa mengakibatkan kerusakan perangkat lebih dini, kebocoran data, hingga kerugian finansial yang tidak diinginkan.
Tidak teliti memeriksa e-mail dan pesan masuk:
Modus serangan siber lewat surat elektronik maupun pesan singkat kini semakin canggih dan sulit dibedakan dengan komunikasi asli.
Para penipu merancang jebakan yang realistis untuk mengelabui target. Maka dari itu, setiap pesan yang meminta perubahan kata sandi, kode OTP, atau data pribadi harus diperiksa secara cermat sebelum ditanggapi.
Menunda pembaruan sistem:
Menunda pembaruan sistem operasi dan aplikasi pada ponsel maupun laptop membawa risiko yang serius. Pembaruan tersebut mengandung tambalan keamanan untuk celah terbaru yang ditemukan peneliti.
Menunda berarti membiarkan perangkat tetap rentan terhadap ancaman yang sudah diketahui para peretas.
Tidak melindungi perangkat secara fisik:
Banyak orang membawa laptop atau ponsel tanpa proteksi yang cukup. Lonjakan listrik, benturan, atau paparan panas berlebih dapat merusak perangkat secara permanen.
Gunakan pelindung tegangan, simpan laptop dalam tas berlapis, dan jangan pernah meninggalkan perangkat tanpa pengawasan di tempat umum atau mobil yang terparkir.
Mengunduh aplikasi dan software tidak resmi:
Mengunduh aplikasi dari sumber tidak terpercaya atau mengunjungi situs berbahaya dapat mengundang malware yang mencuri data pribadi, memata-matai aktivitas, hingga menguras rekening bank.
Pastikan hanya mengunduh aplikasi dari toko resmi seperti Google Play Store atau App Store, dan hindari tautan mencurigakan dari pengirim asing.
Menggunakan password lemah dan tidak mengaktifkan autentikasi dua faktor:
Menggunakan kata sandi yang mudah ditebak seperti tanggal lahir, apalagi memakai sandi yang sama untuk banyak akun, merupakan kombinasi berbahaya yang membuat akun mudah dibobol.
Aktifkan autentikasi dua faktor (2FA) di semua akun penting dan gunakan kata sandi yang kuat serta unik.
Ceroboh dalam kebiasaan sehari-hari:
Kebiasaan sepele seperti makan atau minum di dekat perangkat elektronik bisa memicu kerusakan permanen yang tidak ditanggung garansi.
Selain itu, terhubung ke Wi-Fi publik tanpa enkripsi saat bertransaksi online sangat berisiko karena data bisa disadap oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Lupa menonaktifkan layanan cloud yang tidak terpakai:
Pengguna layanan penyimpanan atau komputasi awan sering mengaktifkan fitur tambahan sesuai kebutuhan, namun lupa mematikannya.
Layanan yang dibiarkan aktif tanpa pengawasan bisa menyimpan data sensitif dan menjadi celah keamanan, sekaligus menambah tagihan yang tidak perlu.
Membiarkan perangkat terisi daya semalaman:
Kebiasaan mengisi daya ponsel atau laptop semalaman tanpa henti berdampak buruk bagi kesehatan baterai jangka panjang.
Pengisian daya yang terlalu lama membuat baterai terus berada dalam kondisi penuh yang justru mempercepat degradasi sel baterai.
Tidak mematikan perangkat dengan benar:
Menutup layar laptop tanpa mematikannya sepenuhnya atau hanya menekan tombol sleep memiliki dampak ganda.
Selain memperpendek usia baterai, cara ini juga melewati proses enkripsi yang seharusnya aktif saat perangkat dimatikan.
Jika hilang atau dicuri dalam kondisi sleep, data di dalamnya lebih mudah diakses pihak yang tidak berhak.
Langsung percaya siapa pun yang meminta informasi pribadi:
Rekayasa sosial (social engineering) kini menjadi metode penipuan paling umum. Pelaku berpura-pura menjadi pihak resmi seperti bank atau operator untuk memancing korban memberikan kata sandi, kode OTP, atau data pribadi.
Jangan pernah memberikan informasi sensitif kepada siapapun tanpa memverifikasi identitas mereka lewat saluran resmi.
Terburu-buru menganggap perangkat sudah usang:
Banyak orang cepat merasa perangkatnya tidak layak pakai karena usia atau munculnya model baru. Padahal, menambah RAM, mengganti ke SSD yang lebih cepat, atau memperbarui sistem sering kali bisa memperpanjang usia perangkat secara signifikan.
Mengganti perangkat tanpa merawat yang lama juga berisiko jika data tidak dihapus dengan benar sebelum dijual atau dibuang.
Mengabaikan keamanan WiFi dan router di rumah:
Jaringan Wi-Fi rumah yang dibiarkan dengan konfigurasi bawaan pabrik, kata sandi standar, dan keamanan minim adalah celah yang mudah dieksploitasi.
Hal ini memberi jalan bagi penyerang untuk menyusup ke jaringan dan mengakses semua perangkat yang terhubung.