JAKARTA - Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, sukses mempertahankan performa positif seluruh anggota grupnya sepanjang 2025, meskipun dihadapkan pada tekanan volatilitas harga komoditas serta ketidakpastian geopolitik global.
Pencapaian ini membuktikan ketahanan bisnis perusahaan tambang negara sekaligus memperkokoh kontribusinya bagi perekonomian nasional.
Pengamat BUMN Universitas Indonesia, Toto Pranoto, mengatakan bahwa keberhasilan Grup MIND ID tidak sekadar dipicu oleh kenaikan harga komoditas, melainkan mencerminkan semakin solidnya integrasi bisnis dari hulu ke hilir yang dijalankan holding tersebut.
- Baca Juga Raih GCG Awards 2026, PNM Layani 23,
"Kinerja ini menunjukkan kemampuan MIND ID dalam integrasi hulu ke hilir bisnis yang semakin baik. Di luar windfall profit yang diperoleh karena harga komoditas yang meningkat akibat situasi geopolitik yang tidak stabil," tutur Toto dikutip Selasa (9/6/2026).
Sumber kontribusi terbesar berasal dari berbagai komoditas strategis, meliputi emas, batu bara, tembaga, aluminium, timah, hingga nikel.
Masing-masing entitas berhasil menjaga pertumbuhan pendapatan dan laba di tengah dinamika pasar global yang bervariasi.
Pada sektor emas, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan laba tahun berjalan sebesar Rp 7,92 triliun pada 2025.
Angka ini melonjak 106% dari laba tahun berjalan 2024 yang sebesar Rp 3,85 triliun.
Peningkatan laba ini beriringan dengan pendapatan perseroan yang mencapai Rp 84,64 triliun pada 2025, naik 22% dibandingkan Rp 69,19 triliun pada tahun sebelumnya.
Bisnis emas menjadi penopang utama kinerja ANTM dengan kontribusi sekitar 79% dari total penjualan perusahaan.
Penjualan emas tercatat mencapai Rp 66,47 triliun sepanjang 2025, meningkat 15% dari Rp 57,56 triliun pada 2024, didorong oleh permintaan yang tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di sektor batu bara, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan laba bersih sebesar Rp 2,93 triliun pada 2025 dengan pendapatan sebesar Rp 42,65 triliun yang relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya.
Capaian ini diraih meski terjadi tren pelemahan harga batu bara global, di mana Newcastle Index turun 22% secara tahunan dan Indonesia Coal Index (ICI-3) melemah 16%.
Walau begitu, PTBA mampu menjaga kinerja lewat peningkatan volume penjualan sebesar 6%. Penjualan domestik berkontribusi 54%, sementara 46% sisanya merupakan ekspor ke Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina.
Terkait Freeport dan hilirisasi tembaga, PT Freeport Indonesia mencatatkan laba bersih sebesar US$ 2,52 miliar atau sekitar Rp 45,08 triliun pada 2025 dengan pendapatan US$ 8,62 miliar atau sekitar Rp 156 triliun.
Kinerja ini mencerminkan operasional tambang tembaga dan emas yang kuat di Papua serta dampak positif hilirisasi melalui smelter di JIIPE, Gresik. Fasilitas tersebut meningkatkan nilai tambah mineral serta memperkuat rantai pasok industri nasional.
Dari komoditas aluminium, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) membukukan kenaikan laba bersih 15% sepanjang 2025, ditopang kenaikan pendapatan sekitar 10% menjadi US$ 785,7 juta.
Capaian ini menunjukkan stabilitas operasional pabrik peleburan aluminium terbesar di Asia Tenggara di tengah fluktuasi harga global.
Sementara itu, PT Timah Tbk (TINS) membukukan laba bersih Rp 1,31 triliun atau 119% dari target RKAP 2025. Pendapatan TINS mencapai Rp 11,55 triliun, meningkat 6,41% dari Rp 10,86 triliun pada 2024.
Dari sisi operasional, perusahaan memproduksi 18.635 ton Sn bijih timah dan 17.815 metrik ton logam timah.
Pada komoditas nikel, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turut mencatat pertumbuhan positif dengan peningkatan pendapatan sebesar 4,19% menjadi US$ 990,19 juta pada 2025, mencerminkan efisiensi operasional yang terjaga di Sorowako.
Secara keseluruhan, kinerja positif Grup MIND ID sepanjang 2025 memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan negara melalui pembayaran pajak, royalti, dan dividen yang mengalir ke perekonomian nasional.