JAKARTA - Indonesia memiliki posisi strategis dalam menjaga perdamaian dunia, baik dari perspektif politik maupun kemanusiaan.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa modalitas negara ini tidak hanya terletak pada jumlah populasi Muslim terbesar, tetapi juga pada konsistensi penerapan politik luar negeri bebas aktif yang menempatkan Indonesia sebagai penengah global.
“Indonesia, sebagai negara Muslim yang besar di dunia, memiliki modalitas besar untuk ikut serta menjaga perdamaian dunia sebagaimana amanat konstitusi,” ujar Menag Nasaruddin Umar di Tangerang Selatan, Kamis.
Pernyataan ini disampaikan dalam seminar internasional bertajuk “Indonesia’s Contribution to Contemporary Global Peace and Conflict Resolution” yang digelar di UIN Jakarta.
Politik Luar Negeri Bebas Aktif sebagai Kekuatan
Menag menjelaskan bahwa prinsip bebas aktif menjadi fondasi utama diplomasi Indonesia. Posisi netral tidak membuat negara ini pasif, melainkan aktif mendorong penyelesaian damai melalui jalur diplomasi. Dengan pendekatan ini, Indonesia memperoleh kepercayaan dari berbagai pihak, sekaligus memperkuat perannya sebagai juru bicara perdamaian dunia.
Netralitas yang dijalankan Indonesia memungkinkan negara ini tampil sebagai mediator yang independen, sekaligus memberikan legitimasi moral dalam setiap upaya penyelesaian konflik internasional.
Strategi ini menunjukkan bahwa perdamaian global dapat diwujudkan melalui peran negara yang menyeimbangkan kepentingan tanpa dominasi kekuatan.
Peran Aktif dalam Konflik Israel-Palestina
Menag memberikan perhatian khusus pada keterlibatan Indonesia dalam konflik Israel-Palestina. Menurutnya, isu Palestina tetap menjadi fokus karena merupakan bagian dari solidaritas ukhuwwah Islamiyyah masyarakat Indonesia. Keterlibatan ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga konkrit melalui diplomasi aktif.
Presiden Prabowo Subianto semakin memperkuat posisi Indonesia dalam mediasi global. Pada Sidang Umum ke-80 PBB pada 23 September 2025, Presiden Prabowo menyatakan dukungan penuh terhadap Solusi Dua Negara (Two-State Solution) sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian abadi.
Kehadiran beliau di KTT Perdamaian Gaza di Sharm El-Sheikh, Mesir, pada 13–14 Oktober 2025, menjadi pengakuan dunia terhadap peran Indonesia sebagai mediator yang dihormati.
Diplomasi Kemanusiaan Memperkuat Perdamaian
Selain diplomasi politik, Indonesia juga menonjol melalui diplomasi kemanusiaan. Menag Nasaruddin Umar menyoroti pengiriman tim medis dan pembangunan rumah sakit di wilayah konflik sebagai langkah konkret yang menyentuh aspek paling dasar dari bantuan kemanusiaan global.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia bukan semata soal politik, tetapi juga menyentuh kebutuhan nyata masyarakat terdampak konflik.
Diplomasi kemanusiaan yang melibatkan masyarakat sipil menjadi salah satu kekuatan Indonesia dalam memperkuat citra negara sebagai mediator yang peduli terhadap keselamatan dan kesejahteraan manusia.
Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa perdamaian sejati tidak hanya dicapai melalui negosiasi politik, tetapi juga aksi nyata yang membawa dampak langsung bagi korban konflik.
Indonesia sebagai Pemimpin Moral Dunia Islam
Rektor UIN Jakarta, Asep Saepudin Jahar, menegaskan bahwa tujuan kemerdekaan Indonesia tidak hanya untuk kepentingan nasional, tetapi juga untuk ikut menciptakan ketertiban dunia. Indonesia menekankan diplomasi kemanusiaan sebagai instrumen utama, bukan untuk perluasan pengaruh geopolitik.
“Fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, sekaligus negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, menjadikan kita unik. Ini membuktikan bahwa Islam, demokrasi, dan kemanusiaan dapat berjalan seiring,” ucapnya.
Indonesia tidak lagi memposisikan diri sebagai negara adidaya, tetapi sebagai negara penyeimbang moral di tengah polarisasi geopolitik. Hal ini menobatkan Indonesia sebagai pemimpin moral dunia Islam, yang dihormati berkat keteladanan dalam menjaga harmoni dan martabat kemanusiaan.
Dengan kombinasi politik luar negeri bebas aktif, diplomasi kemanusiaan, dan konsistensi menjaga solidaritas umat Islam, Indonesia menunjukkan bahwa perdamaian dunia dapat diwujudkan melalui peran negara yang bijak dan beretika. Peran ini juga menjadi contoh bagi negara lain dalam membangun tatanan global yang stabil dan harmonis.
Menag Nasaruddin Umar menekankan bahwa modalitas Indonesia bukan sekadar jumlah populasi atau potensi ekonomi, tetapi juga nilai-nilai moral dan etika yang menjadikan negara ini mampu memainkan peran strategis di panggung internasional.
Dengan menjaga prinsip-prinsip tersebut, Indonesia diyakini mampu terus menjadi penengah yang dihormati dunia dan pelopor perdamaian global.