Pengertian eosinofil adalah sel darah putih dari kelompok granulosit yang berperan penting dalam menjaga sistem kekebalan tubuh manusia.
Sel ini bekerja dengan melawan parasit berukuran besar serta membantu mengatasi beberapa jenis infeksi pada hewan bertulang belakang.
Selain itu, eosinofil juga berperan dalam mengatur respons alergi, bersama sel lain yang berkontribusi dalam reaksi imun tubuh.
Jika kamu tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai bagaimana eosinofil berfungsi dan apa saja yang bisa menyebabkan kadarnya meningkat, artikel ini akan mengupasnya secara lengkap.
Maka dari itu, simak terus pembahasannya hingga akhir agar kamu semakin paham tentang pengertian eosinofil.
Pengertian Eosinofil
Pengertian eosinofil merujuk pada sel darah putih yang terbentuk melalui proses haematopoiesis di sumsum tulang sebelum memasuki peredaran darah.
Sel ini mengandung sejumlah senyawa kimia seperti eosinofil peroksidase, histamin, ribonuklease, lipase, deoksiribonuklease, plasminogen, serta beberapa jenis asam amino.
Senyawa-senyawa tersebut dilepaskan saat eosinofil aktif melalui proses degranulasi dan bersifat toksik bagi jaringan tubuh serta parasit.
Eosinofil turut berperan sebagai sel peradangan dalam reaksi alergi. Mekanisme aktivasi dan pelepasan racun dari eosinofil diatur dengan hati-hati agar tidak merusak jaringan sehat yang tidak menjadi target.
Pada individu sehat, proporsi eosinofil dalam darah berkisar antara 1% hingga 6% dari total sel darah putih, dengan ukuran antara 12 hingga 17 mikrometer.
Keberadaannya dapat ditemukan di medulla oblongata, titik pertemuan antara korteks otak besar dan timus, serta pada organ seperti ovarium, sistem pencernaan, limpa, uterus, dan kelenjar getah bening.
Namun, dalam kondisi normal, eosinofil tidak ditemukan di paru-paru, esofagus, kulit, dan beberapa organ internal lainnya.
Kemunculan eosinofil di area-area tersebut sering kali menjadi penanda adanya gangguan kesehatan.
Dalam sirkulasi darah, eosinofil dapat bertahan selama sekitar 8 hingga 12 jam, dan bila tidak distimulasi, sel ini bisa menetap dalam jaringan hingga 8 sampai 12 hari.
Penyebab Eosinofilia (Eosinofil Tinggi)
Seseorang dikatakan mengalami kondisi jumlah eosinofil berlebih apabila kadar sel ini melampaui 500 sel dalam setiap mikroliter darah.
Jika angkanya melebihi 1.500 sel per mikroliter, maka situasi tersebut dianggap sebagai kelebihan yang lebih parah dan perlu mendapatkan perhatian medis.
Kondisi ini umumnya dibedakan menjadi tiga tingkat, yaitu ringan dengan kisaran 500 hingga 1.500 sel per mikroliter, sedang antara 1.500 hingga 5.000 sel per mikroliter, dan berat jika jumlahnya melebihi 5.000 sel per mikroliter.
Sel ini termasuk dalam komponen darah putih yang memiliki peran penting dalam perlindungan tubuh, seperti mengatur peradangan, memicu reaksi akibat alergen, serta menghancurkan zat-zat asing yang membahayakan tubuh.
Kelebihan jumlah sel ini sering kali menjadi indikator adanya gangguan seperti infeksi akibat parasit, penyakit keganasan, atau reaksi tubuh terhadap alergen tertentu.
Keadaan ini dapat ditemukan baik dalam darah maupun di jaringan tubuh tempat infeksi dan pembengkakan terjadi.
Jika terjadi di jaringan, kondisi ini bisa terdeteksi melalui pemeriksaan sampel tubuh, misalnya dari lendir di saluran pernapasan. Pada situasi seperti ini, kadar sel tersebut dalam darah bisa tetap berada pada tingkat normal.
Sebaliknya, jika terjadi dalam darah, keberadaannya dapat diketahui lewat pemeriksaan darah lengkap yang biasanya dilakukan sebagai bagian dari evaluasi kesehatan menyeluruh.
Produksi berlebih sel ini umumnya bermula dari aktivitas yang meningkat di sumsum tulang, yang menyebabkan lonjakan jumlahnya di dalam tubuh.
Menurut informasi dalam jurnal yang diterbitkan oleh US National Library of Medicine, terdapat beberapa kondisi yang menyebabkan jumlah sel darah putih jenis tertentu meningkat dalam tubuh, antara lain:
Reaksi terhadap zat tertentu
Peningkatan ringan jumlah sel ini, dengan kadar antara nilai normal hingga di bawah 1.500 per mikroliter, kerap ditemukan pada individu dengan gangguan kesehatan yang melibatkan sistem imun, seperti gangguan pernapasan kronis dan kelainan pada kulit.
Salah satu contohnya adalah gangguan pernapasan akibat penyempitan saluran napas atau kondisi peradangan kronis pada rongga hidung. Selain itu, gangguan kulit tertentu juga bisa memicu peningkatan yang sedikit lebih tinggi.
Masalah lain yang juga dapat memengaruhi jumlah sel ini adalah peradangan pada rongga sinus, terutama yang disertai pertumbuhan jaringan berlebih.
Dalam situasi ini, penderita biasanya juga mengalami gangguan pernapasan dan reaksi terhadap zat asing tertentu.
Tidak hanya itu, reaksi terhadap penggunaan obat-obatan tertentu juga bisa memicu lonjakan jumlah sel ini dalam kadar ringan hingga tinggi. Beberapa jenis obat yang diketahui dapat memengaruhi kondisi ini meliputi:
- Obat antimikroba seperti dapson, penisilin, antibiotik golongan sulfa, dan sefalosporin.
- Obat untuk mengatasi kejang seperti fenitoin, karbamazepin, lamotrigin, serta asam valproat.
- Obat antivirus tertentu, seperti nevirapine dan efavirenz.
- Obat pereda nyeri dari golongan antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen.
- Obat yang menghambat enzim tertentu dalam metabolisme asam urat, seperti allopurinol.
Kondisi autoimun tertentu
Salah satu penyakit peradangan yang berkaitan dengan peningkatan jumlah sel ini adalah kondisi langka yang sebelumnya dikenal sebagai sindrom Churg-Strauss.
Penyakit ini terjadi akibat peradangan pada jaringan maupun darah yang melibatkan jenis sel darah tertentu.
Umumnya, penderita menunjukkan rasio sel ini dalam darah lebih dari 10% dari total seluruh sel darah putih, padahal jumlah normalnya tidak melebihi kisaran 5% hingga 6%.
Infeksi akibat organisme mikroskopis
Beberapa infeksi yang disebabkan oleh organisme kecil, seperti parasit, dapat memicu peningkatan signifikan terhadap jumlah sel darah tersebut.
Infeksi ini bisa menimbulkan respons ringan hingga parah, tergantung pada jenis dan tingkat keparahan infeksinya. Beberapa infeksi yang termasuk dalam kategori ini antara lain:
Infeksi akibat cacing, seperti:
- Cacing gelang.
- Penyakit akibat larva cacing pita.
- Gangguan paru-paru yang muncul di daerah tropis.
- Infeksi cacing tambang.
- Infeksi akibat lalat tertentu.
- Infeksi akibat cacing hati.
- Infeksi larva cacing pita di otak atau otot.
- Infeksi cacing darah.
- Infeksi cacing benang.
- Infeksi akibat cacing otot.
Infeksi akibat protozoa, seperti:
- Organisme penyebab gangguan saluran pencernaan.
- Mikroorganisme yang menyerang usus.
- Parasit yang hidup di otot.
Gangguan akibat sistem pertahanan tubuh yang menyerang dirinya sendiri
Beberapa kondisi medis yang disebabkan oleh reaksi berlebihan sistem pertahanan tubuh dapat memicu peningkatan jumlah sel darah putih jenis tertentu.
Respons ini sering kali ditemukan pada penderita penyakit yang berkaitan dengan peradangan kronis atau kelainan jaringan. Beberapa contoh kondisi yang dapat menyebabkan lonjakan tersebut meliputi:
- Peradangan otot yang menyebabkan kelemahan.
- Kelainan kulit akibat sensitivitas terhadap gluten.
- Gangguan sistemik yang menyerang berbagai organ tubuh.
- Radang saluran cerna yang berlangsung lama.
- Gangguan kulit yang ditandai dengan lepuhan.
- Peradangan sendi yang parah dan berlangsung lama.
- Kelainan granuloma pada berbagai organ.
- Gangguan langka yang menimbulkan peradangan pembuluh darah.
- Kondisi yang menyerang kelenjar air mata dan air liur.
- Penyakit yang memengaruhi jaringan ikat secara progresif.
Kelainan sel yang tumbuh secara tidak terkendali
Jumlah sel darah putih jenis ini juga dapat meningkat sebagai salah satu gejala dari adanya pertumbuhan jaringan yang bersifat ganas.
Meskipun tidak selalu menjadi tanda pasti, kondisi ini bisa menjadi salah satu indikator awal. Beberapa jenis kelainan yang berkaitan dengan kondisi tersebut antara lain:
- Tumor kelenjar di sistem pencernaan.
- Kelainan jaringan paru-paru yang bersifat ganas.
- Pertumbuhan sel abnormal pada jaringan seperti leher rahim, kulit, alat kelamin, rongga hidung, dan kandung kemih.
- Gangguan pada kelenjar pengatur metabolisme.
- Jenis kanker darah yang secara langsung melibatkan peningkatan sel ini, baik yang berlangsung cepat maupun lambat.
- Kelainan darah kronis yang melibatkan sel darah putih jenis tertentu.
- Pembesaran kelenjar getah bening yang melibatkan sel T atau tipe Hodgkin.
Menurut informasi dari salah satu lembaga kesehatan ternama, gangguan yang melibatkan peningkatan sel ini biasanya dinamai sesuai dengan letak organ yang terdampak. Beberapa jenis gangguan tersebut antara lain:
- Kelainan pada saluran makanan bagian atas.
- Peradangan pada jaringan ikat yang tersebar di tubuh.
- Masalah di lambung akibat akumulasi sel darah putih jenis ini.
- Gangguan yang menyerang lambung dan usus halus secara bersamaan.
- Kelainan di usus besar yang menyebabkan gejala pencernaan.
- Masalah pernapasan yang menyerang jaringan paru-paru.
- Gangguan di kandung kemih yang dapat memicu rasa tidak nyaman saat berkemih.
Setiap kondisi di atas menunjukkan bahwa peningkatan sel ini bisa berkaitan dengan berbagai jenis penyakit, baik yang bersifat imunologis maupun yang berkaitan dengan pertumbuhan jaringan yang tidak normal.
Hubungan Jumlah Eosinofil dengan Kesehatan Tubuh
Beberapa kondisi medis dapat menyebabkan jumlah sel darah putih jenis tertentu dalam tubuh menjadi tidak seimbang, baik menurun maupun meningkat.
Penurunan jumlahnya bisa terjadi akibat konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan atau karena tingginya kadar hormon tertentu dalam tubuh, seperti yang terjadi pada sindrom Cushing.
Di sisi lain, peningkatan jumlah sel tersebut kerap ditemukan pada beberapa gangguan kesehatan, di antaranya:
Masalah kulit yang disebabkan oleh