MPR: Strategi Menyeluruh Diperlukan untuk Guru Inklusif

Sabtu, 11 Juli 2026 | 14:53:01 WIB
MPR Desak Strategi Komprehensif Guru Pendidikan Inklusif [FOTO: NET].

JAKARTA - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Lestari Moerdijat memandang akselerasi penguatan kompetensi guru demi mewujudkan pendidikan inklusif wajib disokong data jitu serta strategi yang menyeluruh.

"Masih terdapat kesenjangan yang besar antara kebutuhan dan ketersediaan guru yang kompeten di lapangan. Karena itu, diperlukan strategi yang komprehensif untuk mempercepat peningkatan kompetensi guru dalam menjalankan pendidikan inklusif," kata Lestari dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Merujuk data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) per September 2025, tercatat 363.921 murid penyandang disabilitas di seantero Indonesia.

 Sebanyak 199.375 murid di antaranya menimba ilmu pada 60.910 satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif (SPPI).

Lestari menyebutkan hanya berkisar 15 persen dari keseluruhan SPPI yang mempunyai guru pembimbing khusus (GPK). Menurut dia, keadaan tersebut menjadi kendala serius dalam mengupayakan layanan pendidikan yang setara.

"Upaya peningkatan jumlah guru yang mampu mendidik anak berkebutuhan khusus harus segera direalisasikan. Ini bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas kompetensi yang harus dikejar," ujarnya.

Wanita yang akrab disapa Rerie itu menganggap akselerasi peningkatan kompetensi guru membutuhkan tindakan yang riil dan terukur. Ia menyokong program pemerintah yang menyasar pelatihan untuk 1.500 guru di 25 provinsi sepanjang 2026 hingga menyentuh tingkat mahir.

Kendati demikian, anggota Komisi X DPR RI tersebut mewanti-wanti target itu masih jauh dari keperluan nasional.

Bersandarkan data Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), sekarang ini terdapat 2.663 guru yang memenuhi kriteria sebagai kandidat peserta pelatihan, dengan potensi ekstra 5.129 calon peserta via skema penyetaraan.

"Pemerintah harus konsisten dan agresif. Program pelatihan yang diluncurkan Kemendikdasmen merupakan langkah awal yang baik, tetapi jangan berhenti sampai di situ. Kami perlu melihat rasio ideal," katanya.

Rerie juga menggarisbawahi bahwa peningkatan kompetensi guru tak sekadar menitikberatkan pada aspek teknis. Menurut dia, kesuksesan pendidikan inklusif dipatok oleh kecakapan guru memahami keperluan setiap anak dan menyelaraskan metode pembelajaran.

"Guru adalah agen perubahan yang harus memiliki kemampuan berpikir kritis dan kemanusiaan. Mereka harus mendapat dukungan semua pihak agar mampu menerjemahkan filosofi pendidikan nasional ke dalam praktik pembelajaran yang inklusif dan adaptif, terutama di era digital," ujar Lestari.

Terkini