JAKARTA - Laut, yang selama ini dipandang sebagai destinasi rekreasi, kini kian populer di kalangan medis sebagai sarana pendukung penyembuhan masalah mental. Pendekatan yang disebut blue space therapy ini memanfaatkan perairan seperti laut, sungai, dan danau sebagai pelengkap untuk mengatasi trauma, kecemasan, depresi, hingga kecanduan.
Konsep ini kian diminati lantaran berbagai riset membuktikan bahwa berada di dekat perairan mampu mereduksi stres dan meningkatkan kesejahteraan psikologis.
Berdasarkan laporan The Guardian (8/7/2026), program terapi berbasis perairan kini mulai berkembang di berbagai negara sebagai layanan kesehatan mental tambahan.
Istilah blue space mulai dikenal luas usai ahli biologi kelautan Wallace J. Nichols meluncurkan buku Blue Mind pada 2014.
Dalam karya tersebut, Nichols memaparkan bahwa berada di atas, di dalam, atau dekat dengan air dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan mental dan otak.
Temuan itu mendorong berbagai organisasi mengembangkan terapi berbasis air. Contohnya adalah Turn to Starboard di Inggris yang mendampingi veteran militer memulihkan trauma melalui aktivitas berlayar.
Dave Phillips (67), mantan kopral Angkatan Darat Inggris, merasa hidupnya berubah setelah mengikuti program tersebut saat berjuang menghadapi PTSD, kecemasan, serta depresi.
"Laut membawa saya menjauh dari semua tekanan hidup. Laut memiliki kekuatan untuk menghadirkan ketenangan," ujar Phillips.
Chief Executive Turn to Starboard, Sally Terry, mengatakan laut mampu membangkitkan kembali semangat hidup para peserta.
"Laut mengingatkan seseorang bahwa dirinya masih hidup. Saya melihat laut membangkitkan sesuatu dalam diri banyak orang," katanya.
Hal serupa juga dilakukan organisasi nirlaba Waves of Recovery di Amerika Serikat melalui aktivitas selancar. Pendirinya, Sophie Pyne, menegaskan bahwa metode ini berfungsi melengkapi pengobatan utama.
"Alam dan laut menjadi bagian dari proses penyembuhan. Hal ini juga membantu mengurangi stigma ketika seseorang mencari bantuan kesehatan mental," ujarnya.
Geografer Catherine Kelly menjelaskan alasan di balik efek menenangkan dari perairan. "Ketika berada di dekat air, bahu kami menjadi lebih rileks, ekspresi wajah melunak, dan napas menjadi lebih tenang.
Kami tetap fokus, tetapi dalam keadaan yang lebih santai," jelas Kelly. Ia menambahkan bahwa perairan memberikan kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari tuntutan hidup modern.
Selain berlayar dan berselancar, terapi blue space kini mencakup aktivitas menyelam. Psikiater dan mantan veteran militer Amerika Serikat, Dr. James Jung, menyebut pengalaman bawah air dapat membantu seseorang meregulasi sistem sarafnya.
"Tujuan utamanya bukan sekadar belajar freediving, tetapi membantu sistem saraf dan otak kembali lebih teratur selama proses pemulihan trauma," katanya.
Meski demikian, para ahli menekankan bahwa riset mengenai blue space masih terus berkembang, sehingga metode ini tetap ditempatkan sebagai terapi pendamping, bukan pengganti penanganan medis maupun psikologis utama.