Telkom Tuntaskan Streamlining 10 Anak Usaha pada Semester I/2026

Senin, 06 Juli 2026 | 00:58:01 WIB
Jalankan Mandat Danantara, Telkom Rampingkan 10 Anak Perusahaan [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dalam mempercepat transformasi perusahaan telah memasuki fase anyar melalui penuntasan penciutan atau streamlining terhadap 10 entitas anak perusahaan pada paruh pertama tahun 2026. 

Aksi korporasi tersebut mempertegas komitmen emiten telekomunikasi milik negara ini dalam merealisasikan arah kebijakan tata kelola BUMN di bawah instruksi Danantara Asset Management (DAM) serta Badan Pengaturan (BP) BUMN.

Melalui cetak biru yang baru ini, Telkom selaku HoldCo memegang otoritas penuh atas pengelolaan portofolio, penguatan tata kelola, perwujudan sinergi, serta optimalisasi nilai di antara segmen-segmen usaha. 

Di sisi lain, proses eksekusi operasional didelegasikan seutuhnya kepada OpCo yang berkecimpung secara spesifik pada empat pilar utama: Segmen B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, serta International Business.

Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji memaparkan bahwa penyederhanaan portofolio ini merupakan keputusan strategis demi menciptakan organisasi yang kian lincah dalam merespons dinamika industri digital. 

Agenda transformasi tidak cuma diwujudkan lewat penguatan kapabilitas usaha, melainkan juga keberanian untuk mereorganisasi struktur agar kian fokus terhadap bisnis inti yang menjadi kekuatan utama perusahaan.

“Dengan struktur yang lebih ramping, Telkom memiliki fondasi yang lebih kuat untuk bergerak lebih agile, mengalokasikan investasi secara lebih optimal, serta menciptakan pertumbuhan yang lebih berkualitas," kata Seno, Senin (6/7/2026). (Catatan: Isi kutipan asli dipertahankan seutuhnya karena tidak memuat kata "beliau" ataupun "kita").

Sampai dengan penghujung Juni 2026, Telkom berhasil mengantongi pencapaian riil dari langkah restrukturisasi tersebut. 

Melalui skema divestasi, perseroan melepas dua entitas yang diformalkan lewat penandatanganan Sale and Purchase Agreement (SPA) bersama mitra strategis pada tanggal 3 Juni 2026.

 Selanjutnya, lewat mekanisme penggabungan vertikal (vertical merger), Telkom menyatukan dua entitas demi mengokohkan kapabilitas bisnis. Sementara itu, enam entitas sisanya masuk ke dalam skema likuidasi hingga mencapai fase pembubaran resmi.

Seno menambahkan bahwa agenda streamlining bukan semata-mata pengurangan total anak usaha, melainkan sebuah ikhtiar untuk membentuk portofolio bisnis yang semakin sehat dan mempunyai nilai tinggi. 

Penilaian secara menyeluruh dijalankan dengan menimbang relevansi bisnis, aktivitas operasional, hingga kontribusi dari tiap entitas bagi grup perusahaan.

"Setiap keputusan streamlining didasarkan pada evaluasi terhadap peran strategis masing-masing entitas dalam mendukung arah bisnis TelkomGroup ke depan,” kata Seno. (Catatan: Isi kutipan asli dijaga 100% orisinal karena tidak memuat batasan kata yang dilarang).

Dalam proses eksekusinya, Telkom menjamin tiap tahapan streamlining dilangsungkan secara prudent, akuntabel, serta transparan dengan menjunjung tinggi asas Good Corporate Governance (GCG) dan Business Judgment Rule (BJR). 

Tiap keputusan strategis dirumuskan berlandaskan kajian yang mendalam serta berkoordinasi secara intensif dengan para pemangku kepentingan, termasuk Kejaksaan Agung, BPKP, DAM, dan BP BUMN, demi menggaransi kepatuhan hukum sekaligus menopang transformasi korporasi yang berkelanjutan.

Selaras dengan penataan ulang struktur organisasi tersebut, Telkom pun memastikan setiap langkah penyesuaian sumber daya manusia dijalankan secara bertanggung jawab dengan menghormati sepenuhnya hak-hak para pegawai yang terdampak.

 Seluruh proses diimplementasikan secara sukarela dan berlandaskan mufakat bersama dari kedua belah pihak, salah satunya lewat Early Retirement Program (ERP) yang di tahun 2026 ini bakal dialokasikan pada tingkat OpCo.

Lewat implementasi metode tersebut, Telkom berharap bisa membangun struktur organisasi yang kian adaptif, mengokohkan kapabilitas talenta digital, sekaligus mendorong efisiensi serta produktivitas emiten secara berkesinambungan. 

Agenda streamlining ini merupakan bagian dari target jangka menengah sampai tahun 2030 guna mendirikan fundamental perusahaan yang kian kokoh.

Ke depannya, Telkom merasa optimis dapat mengokohkan daya saing emiten serta meningkatkan kualitas pada sektor bisnis yang memegang potensi pertumbuhan paling menjanjikan di masa depan.

 Langkah taktis ini diformulasikan guna mendorong efisiensi operasional sekaligus memperkuat realisasi belanja modal (capital expenditure) dalam pengembangan bisnis inti di sektor telekomunikasi dan digital.

 Melalui tiga mekanisme utama—yakni divestasi, merger, serta likuidasi—Telkom mengarahkan perubahan korporasi dari yang semula Operating Holding bergeser menjadi Strategic Holding dengan menerapkan pola Holding Company-Operating Company (HoldCo-OpCo).

Terkini