Aktivitas Akumulasi Emas Meningkat, Polandia Pimpin Pembelian Global

Senin, 06 Juli 2026 | 00:01:31 WIB
Bank Sentral Dunia Borong Emas, Polandia dan China Jadi Motor Utama [FOTO: NET].

JAKARTA – Jajaran bank sentral di skala global kedapatan kembali memacu aktivitas perburuan logam mulia emas sebagai bagian dari peta strategi tata kelola cadangan devisa negara. Usai sempat melewati fase perlambatan, ritme akumulasi komoditas emas terpantau kembali bergairah pada Mei 2026 dengan perolehan pembelian bersih menembus 41 ton, yang dimotori oleh Polandia serta China.

Kajian Central Bank Gold Statistics yang dipublikasikan oleh World Gold Council (WGC) mendeteksi bahwa aktivitas penyerapan emas kembali memusat pada deretan bank sentral yang dalam kurun beberapa tahun ke belakang memang getol mempertebal kepemilikan aset logam mulia tersebut.

Laporan teranyar memperlihatkan National Bank of Poland mengukuhkan diri selaku pembeli paling dominan pada Mei dengan tambahan pasokan 18 ton emas.

Bank sentral China, People's Bank of China (PBoC), mengekor tepat di belakangnya lewat volume pembelian 10 ton, disusul oleh Uzbekistan yang memborong 9 ton serta Kazakhstan yang menambah porsi 7 ton. 

Di sudut lain, Monetary Authority of Singapore (MAS) terpantau kembali masuk dalam barisan pembeli via akumulasi 4 ton, yang menandai transaksi pembelian bersih perdana mereka semenjak September 2025.

Kontras dengan tren tersebut, sekian bank sentral justru memilih menempuh aksi pelepasan emas. Bank Sentral Turki tercatat melepas 3 ton emas pada Mei 2026, sementara Bank Sentral Rusia menjual 6 ton.

Jika ditinjau secara kumulatif di sepanjang tahun berjalan (year-to-date/ytd), Turki tercatat telah menjual sebanyak 81 ton emas, sedangkan Rusia telah melepas pasokan sebesar 34 ton.

Polandia masih menjadi pembeli terbesar

Bila ditakar secara akumulatif di sepanjang 2026 hingga periode Mei 2026, Polandia masih kokoh menempati posisi puncak sebagai negara dengan volume pembelian emas paling masif.

World Gold Council merangkum bahwa Polandia sukses menambah pundi-pundi emasnya hingga 64 ton di sepanjang tahun berjalan ini. Uzbekistan membayangi di urutan kedua lewat total pembelian 33 ton, disusul oleh China sebanyak 25 ton serta Kazakhstan sebesar 20 ton.

Kurva grafik aktivitas perburuan bank sentral di sepanjang tahun ini juga memperlihatkan bahwa keempat negara di atas merupakan motor penggerak utama dari sirkulasi permintaan emas di sektor resmi dunia.

National Bank of Poland membukukan Mei selaku bulan keempat secara berturut-turut dengan torehan angka pembelian menyentuh dua digit. Suntikan modal 18 ton pada Mei 2026 ini sekalian mengukuhkan diri sebagai akumulasi bulanan paling besar semenjak Februari 2026. Berkat suntikan tersebut, cadangan emas milik Polandia saat ini bertengger di angka 614 ton dan kian merapat menuju target kepemilikan sebesar 700 ton yang sebelumnya telah dicanangkan.

China pun terpantau konsisten mengawal tren pembelian mereka. Mei 2026 menggenapi bulan ke-20 secara berturut-turut bagi People's Bank of China dalam mengeksekusi aksi beli emas.

Ekstra pasokan 10 ton pada Mei 2026 menjelma sebagai transaksi bulanan paling masif semenjak Desember 2024. Di sepanjang tahun berjalan, China sukses mengumpulkan total 25 ton emas sehingga mengantarkannya masuk dalam jajaran tiga besar negara dengan volume pembelian paling ekspansif. Pagu cadangan emas resmi milik China kini menyentuh kisaran 2.331 ton atau berkisar 9 persen dari keseluruhan cadangan devisanya.

Uzbekistan juga konsisten mengawal posisinya selaku salah satu pembeli paling dominan. Bank sentral dari negara tersebut mengamankan 9 ton emas pada Mei sehingga total serapan di sepanjang tahun mengunci di angka 33 ton. Berbekal tambahan tersebut, instrumen emas kini memegang porsi sekitar 87 persen dari total cadangan devisa Uzbekistan.

Sementara itu, Kazakhstan membukukan pembelian 7 ton emas pada Mei 2026, yang membuat total akumulasi di sepanjang tahun menyentuh 20 ton. Porsi cadangan emas milik negara tersebut saat ini mengunci di level 361 ton atau setara 78 persen dari keseluruhan cadangan devisanya.

Singapura kembali membeli emas

Singapura pun kedapatan kembali aktif mempertebal kepemilikan emasnya usai hampir delapan bulan lamanya absen dari aktivitas pembelian bersih. Monetary Authority of Singapore memborong 4 ton emas pada Mei 2026, sehingga total penguasaan asetnya mengembang ke level 197 ton.

Di samping memupuk cadangan emas, otoritas keuangan Singapura juga tengah mematangkan kesiapan fasilitas jasa penyimpanan emas bagi bank sentral (central bank gold vaulting services) yang ditargetkan mulai beroperasi penuh pada Oktober 2026.

Langkah strategis tersebut selaras dengan cetak biru Singapura yang berambisi mentransformasikan diri selaku pusat niaga emas (gold hub) di kawasan regional.

Di luar teritori Singapura, Czech National Bank serta Bank Sentral Yordania turut mempertebal pundi cadangan emas mereka masing-masing bernilai 2 ton dan 1 ton pada Mei. Bagi Republik Ceko, transaksi ini memperpanjang reli rentetan pembelian emas mereka menjadi 39 bulan berturut-turut.

Rusia dan Turki melanjutkan penjualan

Di tengah kuatnya dominasi tren pembelian, Rusia dan Turki sebaliknya konsisten memangkas porsi kepemilikan emas mereka.

Bank Sentral Rusia melego 6 ton emas pada Mei sehingga total penjualan di sepanjang tahun menyentuh angka 34 ton. Pasca transaksi pelepasan tersebut, total cadangan logam mulia milik Rusia merosot ke angka 2.292 ton.

Adapun Bank Sentral Turki menjual pasokan 3 ton emas pada Mei 2026, sehingga akumulasi penjualan bersih di sepanjang tahun bergulir telah menembus 81 ton.

Optimisme terhadap emas masih tinggi

Di tengah bergulirnya roda aktivitas lepas dan beli tersebut, hasil jajak pendapat World Gold Council mendeteksi cara pandang jajaran bank sentral terhadap emas senantiasa bertengger di zona positif.

Melalui Central Bank Gold Reserves Survey 2026, tercatat sebanyak 89 persen bank sentral mengestimasikan cadangan emas global bakal merangkak naik dalam jangka waktu 12 bulan ke depan.

Bukan cuma itu, sebanyak 45 persen dari total responden memproyeksikan institusi mereka sendiri bakal mempertebal porsi cadangan emas sepanjang satu tahun mendatang. Angka persentase ini dinobatkan sebagai rekor paling tinggi sepanjang sejarah pelaksanaan survei tersebut bergulir.

Rekam data historis di dalam survei turut memperlihatkan eskalasi ekspektasi tersebut merangkak naik secara gradual dalam kurun beberapa tahun belakangan. Pada tahun 2019 silam, hanya ada 8 persen bank sentral yang memperkirakan institusinya bakal menaikkan cadangan emas. Persentase tersebut perlahan mendaki ke level 20 persen pada 2020, 21 persen pada 2021, 25 persen pada 2022, 24 persen pada 2023, 29 persen pada 2024, 43 persen pada 2025, hingga puncaknya menembus 45 persen pada tahun 2026 ini.

Korea Selatan menyiapkan investasi ETF emas

Di samping perburuan emas dalam bentuk fisik, World Gold Council turut menyoroti manuver dari Bank of Korea yang diisukan telah merampungkan rangkaian persiapan guna menempatkan investasi pada gold-backed exchange traded funds (ETF) di luar negeri selaku bagian dari strategi diversifikasi aset cadangan devisa negara.

Walau begitu, terganjal oleh aturan kerahasiaan ketat yang diaplikasikan oleh bank sentral bersangkutan, hingga kini belum ada konfirmasi resmi menyangkut apakah alokasi penempatan dana tersebut telah direalisasikan atau belum.

Merujuk laporan yang dikutip oleh World Gold Council, instrumen ETF berbasis emas dipilih lantaran dipandang mengantongi tingkat likuiditas yang tinggi serta biaya operasional penyimpanan yang jauh lebih miring ketimbang mengelola kepemilikan emas dalam bentuk fisik.

Saat ini Bank of Korea menggenggam porsi cadangan emas berkisar 104 ton atau menyumbang sekitar 3 persen dari keseluruhan cadangan devisanya. Porsi tersebut dinilai relatif mini jika dikomparasikan terhadap rupa-rupa negara berkembang alternatif lainnya.

World Gold Council juga mencatat pemanfaatan instrumen ETF emas oleh institusi bank sentral sejauh ini terhitung masih langka bergulir. Berdasarkan rekaman hasil survei, cuma ada sekitar 4 persen bank sentral yang mengonfirmasikan bahwa mereka mengeksekusi pembelian emas via wadah ETF berbasis emas. Mayoritas bank sentral masih cenderung memborong emas lewat jalur pasar over-the-counter (OTC), yang hingga kini konsisten bertahan selaku rute utama akumulasi emas oleh otoritas moneter global.

Minat Amerika Latin mulai meningkat

Kajian tersebut turut mendokumentasikan munculnya geliat aktivitas perburuan emas baru di teritori Amerika Latin di sepanjang tahun 2026.

Chili mengukuhkan diri selaku negara dengan volume pembelian paling masif di teritori tersebut lewat catatan akumulasi berkisar 8 ton emas di sepanjang tahun berjalan. Guatemala mengekor di belakangnya via pembelian sekitar 2 ton, sedangkan Bolivia serta Uruguay masing-masing mengamankan tambahan di kisaran 1 ton.

World Gold Council menguraikan jika kawasan Amerika Latin sejatinya memang tengah didera eskalasi tensi geopolitik dalam beberapa waktu belakangan ini. Kendati demikian, lembaga internasional tersebut menegaskan bahwa masih terlampau dini untuk menarik kesimpulan apakah tren perburuan emas di teritori tersebut bakal semakin mengokoh atau meluas layaknya fenomena yang tengah bergulir di kawasan regional lainnya.

Terkini