Tanpa Kalah di 34 Laga, Maroko Kandidat Juara Piala Dunia 2026?

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:15:31 WIB
Piala Dunia 2026: Maroko Kandidat Juara Usai Tekuk Kanada 3-0 [FOTO: NET].

JAKARTA - Kiprah Timnas Maroko pada ajang Piala Dunia 2026 kembali menyajikan narasi yang mengagumkan. Namun, pada edisi kali ini Singa Atlas tidak lagi dipandang sekadar sebagai tim penuh kejutan layaknya empat tahun silam, melainkan bertransformasi menjadi salah satu penantang kuat takhta juara dunia. 

Kemenangan telak 3-0 atas Kanada di babak 16 besar yang berlangsung di Houston pada Minggu (5/7/2026) menjadi pembuktian paling gres. 

Kendati papan skor memperlihatkan keunggulan meyakinkan, karakteristik permainan Maroko sejatinya jauh dari impresif. Mereka malahan cuma sanggup memproduksi lima tembakan di sepanjang laga, yang mana menjadi angka paling minim yang pernah ditorehkan oleh tim pemenang dalam sebuah partai sistem gugur Piala Dunia.

Paruh pertama pertandingan pun bergulir dengan tensi yang teramat tinggi. Di dalam sisa waktu 45 menit awal, perolehan kartu kuning malahan lebih dominan ketimbang total bidikan bola ke arah gawang, sebuah torehan unik yang belum pernah terekam dalam sejarah pelaksanaan Piala Dunia.

Walau begitu, Maroko tetap sanggup keluar dari tekanan. Mereka memperlihatkan salah satu identitas yang lekat dengan tim papan atas, yakni kemampuan mengunci kemenangan sekalipun tidak sedang berada dalam bentuk performa terbaiknya.

Rekor 34 laga tanpa kekalahan

Hasil positif kontra Kanada sukses memperpanjang tren superior Maroko menjadi 34 laga beruntun tanpa mencicipi kekalahan di seluruh kompetisi.

Memang, terdapat sekelumit catatan abu-abu di balik torehan statistik mentereng tersebut. Rekor panjang itu turut memasukkan hasil partai final Piala Afrika 2026 melawan Senegal, yang mana belakangan diputuskan dimenangkan oleh Maroko via jalur administratif dan hingga detik ini statusnya masih menjadi sengketa hukum. Terlepas dari polemik itu, capaian armada Maroko senyatanya tetap luar biasa.

Kali terakhir kesebelasan nasional Maroko merasakan kepahitan kalah terjadi pada Agustus 2025 kala ditundukkan 0-1 oleh Kenya di kejuaraan African Nations Championship (CHAN), sebuah turnamen yang regulasinya membatasi kontestan hanya untuk pemain yang merumput di kompetisi domestik Afrika. Semenjak kegagalan itu, Maroko konsisten memelihara kebersamaan mereka di panggung internasional.

Sempat ditekan Kanada

Pertandingan menghadapi Kanada sejatinya tidak langsung bergulir mulus pada fase awal laga. Kanada sempat memanen dua peluang emas lewat pergerakan Jonathan David serta Tani Oluwaseyi. 

Untungnya, sepasang ancaman berbahaya itu sanggup dimentahkan oleh penjaga gawang Yassine Bono. Malahan sepanjang 15 menit pertama, personel Maroko sama sekali tidak mendapati momen menyentuh bola di dalam kotak penalti lawan.

Kondisi serupa pun sempat membayangi performa mereka di laga terdahulu. Sesaat setelah sukses melepaskan diri dari himpitan lawan, ritme permainan Maroko perlahan-lahan mulai berubah. 

Mereka berbalik mengendalikan jalannya laga sekaligus membuat barisan pilar Kanada kewalahan mengembangkan kreativitas. Juru taktik Kanada, Jesse Marsch, turut mengakui ketangguhan yang dimiliki kubu penantangnya.

"Mereka memang sempat tertekan, tetapi tidak pernah benar-benar runtuh," ujar Marsch.

Generasi emas Maroko kembali bersinar

Bentrokan tersebut sekaligus menjadi panggung pertunjukan kualitas generasi emas yang dimiliki skuad Maroko. Sang kapten Achraf Hakimi tampil mendominasi di koridor kanan, baik kala menginisiasi skema ofensif maupun meredam serangan. Bek andalan Paris Saint-Germain itu konstan menghadirkan ancaman konkrit di sepanjang laga.

Di sisi lain, Brahim Diaz bertindak sebagai motor penggerak kreativitas tim melalui sumbangsih dua assist. Akumulasinya, pemain kelahiran Spanyol tersebut kini telah mengoleksi empat assist di panggung Piala Dunia, mencatatkan diri sebagai yang terbanyak di sepanjang sejarah bagi pesepak bola asal benua Afrika.

Di sudut berbeda, Maroko juga sukses mengunci kekuatan inti Kanada. Stephen Eustaquio dibuat tidak berkutik dalam mendikte tempo permainan seperti yang biasa ia tunjukkan, sementara ujung tombak Jonathan David nyaris tidak memperoleh ruang kosong untuk menciptakan peluang gol. Pelatih Maroko, Mohamed Ouahbi, tidak menampik bahwa pasukannya sempat didera kesulitan.

"Babak pertama berlangsung sangat intens. Ada beberapa penyesuaian yang harus kami lakukan saat jeda. Kami tidak pernah benar-benar aman dari tekanan lawan," kata Ouahbi, dikutip dari BBC.

"Yang terpenting, kami tidak mengubah identitas permainan kami. Kami tetap mempertahankan filosofi bermain".

Berdasarkan penuturan Ouahbi, kompetisi sebesar Piala Dunia dipastikan selalu menghadirkan fase-fase sulit.

"Ketika kami tidak bermain dalam performa terbaik, kami harus tetap tangguh. Kami harus ingat siapa yang kami wakili dan untuk apa kami bermain," ucapnya.

Menyamai pencapaian bersejarah

Kesuksesan mendepak Kanada mengantarkan Maroko menembus babak perempat final Piala Dunia untuk kedua kalinya secara berturut-turut setelah pencapaian impresif pada edisi 2022 di Qatar. 

Sekarang mereka total telah mengoleksi empat kemenangan di putaran sistem gugur Piala Dunia, dua dikemas pada edisi 2022 dan dua lainnya diraih pada musim 2026. Jumlah tersebut setara dengan total gabungan kemenangan seluruh representatif negara Afrika lainnya di babak gugur Piala Dunia sepanjang sejarah.

Satu hasil positif lagi di fase berikutnya akan menyamai torehan terbaik mereka di Qatar 2022, momen ketika Maroko menorehkan tinta emas sebagai negara Afrika perdana yang sanggup menembus semifinal Piala Dunia.

Masih akan hadapi ujian sesungguhnya

Kendati memperlihatkan konsistensi, segelintir pengamat sepak bola menilai Maroko belum benar-benar mendapatkan ujian dari lawan yang selevel. Pada babak penyisihan grup, mereka bermain sama kuat kontra Brasil sebelum akhirnya menumbangkan Skotlandia serta Haiti.

Memasuki babak 32 besar, performa mereka sejatinya tampak lebih superior dibanding Belanda, namun kelolosan baru bisa dikunci lewat gol tandukan di masa injury time

Kala berhadapan dengan Kanada, kemenangan memang sukses dikantongi dengan margin nyaman, namun kualitas performa mereka dinilai belum cukup meyakinkan andai nantinya harus berhadapan dengan raksasa Perancis di babak perempat final. 

Mantan penyerang Inggris yang kini berprofesi sebagai analis BBC, Chris Sutton, menilai Maroko wajib mendongkrak level permainan mereka.

"Maroko tidak tampil dalam performa terbaik mereka dan masih ada ujian yang jauh lebih berat. Saya cukup terkejut melihat mereka bermain lambat pada awal pertandingan," ujar Sutton.

"Namun, semakin lama pertandingan berlangsung, mereka semakin kuat. Serangan balik mereka sangat berbahaya:.

Ia memberikan peringatan bahwa Maroko tidak boleh mengulangi performa loyo di babak pertama andai benar-benar bersua Perancis nantinya.

"Jika mereka bermain seperti itu melawan Prancis, mereka bisa dihancurkan."

Buah investasi jangka panjang

Lonjakan prestasi Maroko bukanlah sebuah proses instan yang tercipta dalam semalam. Di balik kebangkitan masif mereka, terdapat kucuran investasi bernilai besar yang diprakarsai oleh Raja Mohammed VI selama lebih dari satu dekade.

Maroko mendirikan Akademi Mohammed VI pada medio 2009 serta membangun kompleks latihan modern dengan estimasi biaya mencapai 65 juta dollar AS yang resmi dibuka pada 2019. 

Fasilitas megah tersebut menjelma menjadi tiang pancang perkembangan sepak bola nasional sekaligus mendongkrak posisi Maroko sebagai negara dengan peringkat FIFA tertinggi di kawasan Afrika.

"Semua yang terjadi pada sepak bola Maroko hari ini adalah berkat Mohammed VI. Raja Mohammed VI telah banyak berinvestasi, terutama melalui akademi ini," kata Ouahbi.

Di samping mematangkan sistem pembinaan talenta usia muda, Maroko juga piawai merayu barisan pesepak bola diaspora yang lahir dan mengenyam pendidikan sepak bola di Eropa, layaknya Achraf Hakimi serta Brahim Diaz yang sama-sama lahir di tanah Spanyol. 

Strategi jitu ini terbukti mendongkrak kualitas skuad secara signifikan sekaligus menjadi cetak biru bagi banyak negara Afrika dan Arab lainnya.

Bukan lagi tim kejutan

Jika kesuksesan Maroko pada perhelatan Piala Dunia 2022 lampau dicap sebagai sebuah dongeng semata, kondisinya saat ini sudah jauh berbeda. Ouahbi menegaskan bahwa pasukannya sudah tidak pantas lagi disematkan label sebagai tim kejutan.

"Kami bukan lagi sebuah kejutan. Sekarang ketika orang membicarakan Maroko, mereka membicarakan kandidat juara dan negara besar dalam sepak bola. Itu menjadi kebanggaan besar bagi kami," ujar Ouahbi.

Ia pun menaruh harapan besar agar perjalanan gemilang Maroko di pentas Piala Dunia tidak lekas berhenti pada edisi kali ini saja.

"Ini baru permulaan. Kami ingin terus melangkah dan tidak ingin berhenti," tambahnya.

Berbekal rekor 34 laga tanpa noda kekalahan, komposisi skuad yang disesaki pemain kelas dunia, serta fondasi pembinaan jangka panjang yang kokoh, Maroko kini bukan lagi sekadar tim penantang hura-hura.

 Singa Atlas telah bertransformasi menjadi salah satu kandidat paling serius untuk mengukir sejarah baru sebagai negara Afrika pertama yang menjuarai Piala Dunia 2026.

Terkini