ISAT Rampungkan Divestasi Aset Serat Optik Senilai Rp11,7 Triliun

Jumat, 03 Juli 2026 | 01:11:01 WIB
Indosat Raih Rp11,7 Triliun dari Divestasi Aset ke Arsari Group [FOTO: NET].

JAKARTA — Perusahaan telekomunikasi PT Indosat Tbk. (ISAT) secara resmi telah menyelesaikan proses transaksi penjualan (divestasi) aset infrastruktur jaringan kabel serat optik milik perseroan kepada PT Nusantara Fiber Teknologi (NFT), yang merupakan platform investasi di bawah payung bisnis Arsari Group.

Melalui eksekusi aksi korporasi yang strategis ini, Indosat Group sukses meraup dana bruto mencapai kisaran Rp11,7 triliun. Seluruh dana segar tersebut bakal didekasikan untuk mempertebal struktur permodalan pada bisnis utama perseroan, mengakselerasi perluasan jangkauan jaringan 5G, serta mematangkan ekosistem penyediaan layanan digital yang berbasis kecerdasan artifisial (AI).

Penyelesaian agenda divestasi ini sekaligus menjadi penanda tuntasnya kontrak kesepakatan besar yang telah diinisiasi lewat penandatanganan Perjanjian Investasi pada bulan Desember 2025 lalu. 

Dalam peta jalan transaksi tersebut, pihak Indosat bersama PT Aplikanusa Lintasarta memindahtangankan kepemilikan porsi saham mereka di PT Infra Fiber Teknologi (IFT) kepada NFT selaku kepanjangan tangan dari lini bisnis milik Arsari Group.

Langkah pengalihan aset hilir tersebut merupakan bagian dari peta strategi pengelolaan aset yang efisien demi mengoptimalisasi nilai perseroan di tengah ketatnya peta kompetisi industri telekomunikasi di tanah air. 

Pascarampungnya proses pemindahan aset tersebut, Indosat bersama Lintasarta tidak sepenuhnya melepaskan kendali operasional lantaran secara kolektif masih menggenggam porsi kepemilikan sebesar 49,9% saham di NFT. 

Format struktur ini memfasilitasi Indosat untuk sukses mengonversi aset serat optiknya menjadi likuiditas operasional yang segar sembari tetap mempertahankan pengaruh strategis jangka panjang dalam tata kelola platform infrastruktur digital tersebut.

Langkah monetisasi bernilai triliunan rupiah ini dipersiapkan guna membiayai cetak biru transformasi digital jangka panjang perusahaan yang agresif. 

Selain memperkokoh modal kerja pada sektor seluler, perolehan dana bruto hasil pelepasan aset ini dialokasikan penuh guna mendanai instrumen investasi masa depan, seperti implementasi teknologi komputasi awan (cloud) serta penyediaan layanan generasi masa depan yang siap menopang ekspansi ekosistem AI di Indonesia.

President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha memaparkan bahwa visi utama korporasi dalam rangka memberdayakan seluruh lapisan masyarakat Indonesia lewat pemanfaatan teknologi tidak pernah bergeser. Kehadiran IFT selaku wadah tata kelola dari aset yang dipindahtangankan tersebut menjadi bukti konkret dari komitmen ini.

“Kami ingin memastikan manfaat AI, cloud, dan layanan digital generasi berikutnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh seluruh masyarakat. Inilah bentuk teknologi bagi semuanya," kata Vikram.

(Catatan: Kutipan di atas ditulis persis seperti teks asli karena tidak memuat kata ganti "beliau" ataupun kata "kita").

Seiring beralihnya kepemilikan aset serat optik ke platform independen, fasilitas infrastruktur sepanjang 86.000 kilometer yang meliputi jaringan utama (backbone), jalur kabel bawah laut domestik, hingga jaringan akses nantinya akan dikelola secara tersentralisasi menggunakan skema model bisnis akses terbuka (open-access). 

Pola operasional baru ini membuka lebar peluang kerja sama wholesale yang lebih luas dengan operator seluler pesaing, korporasi skala besar, hingga perusahaan penyedia layanan hyperscaler.

Transformasi kepemilikan serta pembaruan model tata kelola ini pun diproyeksikan sanggup menjawab tantangan terkait kesenjangan konektivitas digital yang saat ini masih membayangi wilayah-wilayah di luar Pulau Jawa. 

Pada saat ini, peta sebaran jaringan serat optik yang dipindahtangankan tersebut berada dalam komposisi yang cukup berimbang, yakni berkisar 45% berlokasi di Pulau Jawa dan 55% sisanya tersebar luas di wilayah luar Jawa.

Deputy CEO & COO Arsari Group Aryo P.S. Djojohadikusumo memaparkan bahwa daya saing dari sebuah bangsa baru dapat diwujudkan apabila semua lapisan elemen masyarakat memperoleh hak dan kesempatan yang setara untuk berkembang.

“Kami menghadirkan pemimpin yang tidak hanya memahami bagaimana membangun dan mengelola infrastruktur dalam skala besar, tetapi juga memahami mengapa hal itu penting bagi masyarakat yang terhubung, bagi dunia usaha yang diberdayakan, serta bagi posisi Indonesia dalam perekonomian digital di masa depan," jelas Aryo.

Terkini