Laba Q1/2026 Turun, Nusantara Sawit Siapkan Strategi Profit

Kamis, 02 Juli 2026 | 02:42:31 WIB
NSSS Siapkan Langkah Strategis Jaga Margin Usai Laba Tertekan [FOTO; NET].

JAKARTA — Emiten perkebunan PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk. (NSSS) mencatatkan pertumbuhan pada pos penjualan untuk periode kuartal I/2026. Kendati demikian, performa positif tersebut belum sanggup mengatrol perolehan laba bersih korporasi akibat adanya lonjakan pada pos biaya produksi dan beban pokok penjualan yang memangkas margin profitabilitas.

Berdasarkan dokumen keterbukaan informasi pihak manajemen kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), angka penjualan NSSS merangkak naik sebesar 8,55% secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp517,13 miliar hingga akhir Maret 2026, berbanding Rp476,41 miliar pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Di lain pihak, perolehan laba bersih korporasi justru terkoreksi turun sebesar 12,57% ke kisaran Rp141,77 miliar, sedangkan porsi margin laba bruto melosot ke level 44,13% yang dipicu oleh pembengkakan beban pokok penjualan mencapai 25,78%.

 Pihak manajemen menguraikan bahwa koreksi keuntungan ini terjadi lantaran laju kenaikan beban pokok penjualan bergerak jauh lebih agresif ketimbang kurva pertumbuhan omzet penjualan.

"Kondisi tersebut dipicu meningkatnya biaya produksi langsung, mulai dari biaya pemeliharaan tanaman, pemupukan, hingga pembelian bahan baku," tulis manajemen dikutip, Kamis (2/7/2026).

Skala volume pengadaan Tandan Buah Segar atau TBS juga memperlihatkan lonjakan yang masif. Sepanjang kurun waktu Maret 2026, NSSS membeli pasokan sekitar 11.627 ton TBS, melonjak drastis jika disandingkan dengan perolehan Maret 2025 yang berkisar 3.867 ton. 

Eskalasi volume pengadaan tersebut secara otomatis ikut mengerek pengeluaran pos biaya pemrosesan perseroan.

Bukan cuma dari segi kuantitas, grafik harga pembelian komoditas TBS pun mengalami apresiasi. Nilai tarif rata-rata TBS merangkak naik dari posisi sekitar Rp3,119 per kilogram pada Maret 2025 menjadi Rp3.462 per kilogram pada Maret 2026. 

Kondisi tersebut memicu pembengkakan biaya pemenuhan bahan baku, walaupun di sudut lain turut mengatrol volume produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan palm kernel (PK).

Internal perseroan menjabarkan bahwa langkah peningkatan serapan pembelian TBS dari korporasi pihak ketiga tersebut dijalankan demi memaksimalkan tingkat utilisasi pabrik kelolaan yang kapasitas operasionalnya telah dikembangkan hingga menyentuh 720.000 ton per tahun.

 Kebijakan ini diproyeksikan sanggup mengoptimalkan output produksi CPO dan PK agar volume penjualan korporasi dapat terus merangkak naik.

Sebagai upaya mempertahankan tingkat profitabilitas ke depan, NSSS telah merumuskan rentetan kebijakan strategis, di antaranya memacu produktivitas lahan perkebunan lewat skema perawatan vegetasi serta pemupukan yang lebih efisien, memperluas cakupan area panen yang diselaraskan dengan usia komoditas, memaksimalkan kinerja utilisasi pabrik, serta menerapkan prinsip selektif dalam mengeksekusi investasi aset baru. 

Perseroan pun bakal melanjutkan agenda penanaman dengan berpijak pada ketersediaan modal finansial serta memperketat tata kelola arus kas demi menjaga stabilitas kesehatan finansial korporasi.

Dari segi pemasaran, NSSS menjamin bahwa jalinan kerja sama komersial bersama jajaran pelanggan utama senantiasa diimplementasikan secara berimbang (arm's length), di mana penentuan tarif mengacu pada pergerakan harga pasar riil serta nota kontrak penjualan yang telah disepakati oleh kedua pihak. 

Perseroan juga mengandalkan skema ikatan kontrak jangka panjang demi memelihara stabilitas kelangsungan aktivitas penjualan.

Meskipun performa laba sempat terhimpit di awal tahun berjalan, NSSS tetap memelihara pandangan optimistis terhadap masa depan industri kelapa sawit nasional. 

Pihak manajemen memproyeksikan tingkat serapan produk turunan sawit bakal terus terjaga untuk jangka menengah hingga panjang, dikarenakan adanya sokongan dari implementasi kebijakan mandatori biodiesel B40 serta rencana pengguliran program B50 yang diyakini bakal mengatrol tingkat konsumsi pasar domestik.

Terkini