BRIN Dorong Kolaborasi Riset Ilmu Sosial dengan China

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:56:31 WIB
Peneliti BRIN Ajak China Kolaborasi Riset Ilmu Sosial [FOTO: NET].

JAKARTA - Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa dan Sastra Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Herry Jogaswara mengajak adanya kolaborasi penelitian antara lembaganya dengan institusi serupa di China, terutama dalam rumpun ilmu sosial.

"Tentu, kami sangat mendorong kolaborasi. Semua 'platform di organisasi riset kami merupakan 'platform'' terbuka, artinya Anda dapat mengajukan kerja sama kapan saja dan kami sangat antusias untuk melakukan penelitian kolaborasi dan kami juga dapat mendukung dari sisi fasilitas," kata Herry di Dunhuang, provinsi Gansu, pada Kamis (02/07/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Herry dalam forum "Dialogue on China-ASEAN Cultural Heritage" yang diinisiasi oleh China International Communications Group (CICG) bersama pemerintah kota Gansu. Agenda ini diikuti sekitar 150 peserta yang terdiri atas peneliti, regulator, awak media, hingga kreator konten dari China, Malaysia, Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Kamboja.

"Kami juga menyadari tantangan antara pendekatan STEM yaitu sains, teknologi, teknik, dan matematika karena biasanya sudah ada begitu banyak pola riset dalam bidang tersebut tapi dalam bidang riset ilmu sosial seperti kami, menurut saya risetnya masih sangat sedikit," ungkap Herry.

Sebagai bagian dari kelompok ilmu SHAPE (social sciences, humanities, arts, religion, and economy), Herry menjelaskan bahwa para peneliti di BRIN tengah mengupayakan formulasi agar hasil riset dapat ditransformasikan menjadi nilai baru bagi sektor industri.

"Salah satu produknya kami sebut '101 Ideas for Creative Industry'. Dalam produk ini, kami mengompilasi berbagai jenis riset menjadi satu buku yang saat ini masih berbentuk buku digital dan dapat diakses secara gratis," ungkap Herry.

Buku digital tersebut, menurut Herry, menjadi langkah nyata dalam menerapkan metode penceritaan atau "storytelling" pada dunia riset, sekaligus menjadi panduan untuk mengonversi hasil penelitian menjadi produk kreatif.

"Dalam kenyataannya, hal itu tidak mudah. Sebab, seperti kami ketahui, riset memiliki etika. Di sisi lain, ekonomi kreatif juga memiliki berbagai regulasi lain. Namun, kami berusaha sebaik mungkin untuk menghubungkan riset dengan hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi," jelas Herry.

Di samping itu, Herry memaparkan bahwa BRIN memiliki program pendanaan bersama akademisi lewat skema kemitraan yang dinamai "no money cross borders".

"Dalam konsep 'no money cross borders', BRIN atau Indonesia menyediakan beberapa hibah bagi peneliti Indonesia di Indonesia. Sementara itu, biaya dan pengaturan lainnya dilakukan melalui mekanisme yang berbeda," ungkap Herry.

Menurut Herry, BRIN pun terus mengalokasikan investasi untuk memperkuat infrastruktur riset dan menyempurnakan berbagai platform penelitian.

"Kami mulai memiliki nota kesepahaman dengan Universitas Shandong untuk membentuk apa yang kami sebut sebagai 'sister laboratory' artinya kami dapat saling bertukar laboratorium untuk melakukan riset yang berkaitan dengan arkeologi, bahasa, dan sastra," tambah Herry.

Ia mengharapkan pergelaran tersebut mampu memicu ruang dialog yang lebih intensif antara negara-negara di Asia Tenggara dengan China.

Sementara itu, Ketua Aliansi Warisan Budaya Asia Tenggara Ivan Anthony Henares menilai China sebagai rekan strategis dalam upaya penyelamatan warisan budaya.

"Banyak hal yang dapat kami pelajari dari pengalaman China mulai dari konservasi ilmiah dan inovasi digital, hingga interpretasi ilmu pengetahuan. Pada saat yang sama, Asia Tenggara menawarkan pengalaman berharga dalam konservasi yang dipimpin organisasi sipil dan pengelolaan bentang alam yang beragam secara budaya," kata Ivan.

Lembaga yang dipimpinnya merupakan wadah bagi kelompok sipil pelestari budaya yang berasal dari 9 negara Asia Tenggara (tidak termasuk Brunei).

"Pada akhirnya, warisan bukan sekadar tentang melestarikan monumen atau tradisi," ungkap Ivan.

Robot android menari dalam acara "Dialogue on China-ASEAN Cultural Heritage" di kota Dunhuang, provinsi Gansu, Kamis (2/7/2026)

Sementara itu, Wakil Direktur China International Communications Group Yu Yingfu menyebutkan bahwa tahun 2026 menjadi momentum lima tahun berjalannya kemitraan strategis komprehensif antara China dan ASEAN.

"Selama ini, kerja sama kedua pihak di berbagai bidang terus meningkat, sementara pertukaran antarmasyarakat dan budaya semakin erat. 

Di dalamnya, warisan budaya sebagai mata rantai penting yang menghubungkan masa lalu dan masa depan untuk mempererat persahabatan kita," kata Yifung.

Melalui paparannya, ia menawarkan tiga poin usulan. Pertama, menggalang kesepakatan kerja sama serta memperkokoh pilar bersama dalam ekosistem warisan budaya.

"Dunia saat ini sedang mengalami perubahan besar yang belum pernah terjadi dalam satu abad terakhir. Pertukaran dan dialog antarperadaban juga menghadapi peluang serta tantangan baru.

 Karena itu, kami perlu secara aktif mendorong aksi perlindungan warisan budaya Asia agar terus berkembang secara mendalam," kata Yifung.

Kedua, mengaktualisasikan nilai kontemporer yang ada pada warisan budaya demi membuka ceruk baru dalam kolaborasi industri, sekaligus mengintegrasikan warisan budaya dengan aspek teknologi, media, serta industri kreatif.

Adapun poin ketiga adalah mendorong generasi muda untuk lebih aktif berinteraksi dalam ruang pertukaran budaya di kancah internasional.

"Dalam kegiatan ini akan secara resmi diluncurkan program peningkatan kemampuan pemasyarakatan warisan budaya, dengan sasaran utama para pemuda ASEAN. Kami mengundang para pemuda dari berbagai negara untuk secara langsung merasakan upaya perlindungan warisan budaya di China," tambah Yifung.

Program edukasi tersebut mengajak para pemuda, akademisi muda, praktisi media, serta pelajar dari China dan ASEAN untuk mengikuti pelatihan intensif secara daring maupun luring mengenai tata cara pembuatan produk kreatif berbasis warisan budaya, manajemen bisnis, hingga integrasinya dengan sektor industri.

Terkini