Cara Orangtua Dampingi Remaja Belajar Mandiri Menurut Psikolog

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:26:01 WIB
Seni Mendampingi Anak Remaja yang Mulai Mandiri Tanpa Mengekang [FOTO: NET].

JAKARTA - Memberikan kebebasan bagi anak yang mulai beranjak remaja supaya mereka dapat mandiri menjadi tantangan tersendiri untuk orangtua. 

Muncul rasa cemas ketika mesti melepaskan mereka pergi atau menentukan aktivitas pribadinya tanpa pengawasan penuh. Ketakutan paling besar biasanya berakar pada kemungkinan bahwa anak bakal perlahan menjauh serta enggan meminta saran keluarga. 

Padahal, menyediakan ruang untuk mandiri amat krusial bagi perkembangan identitas dan mental mereka.

"Kalau kami mau mengenalkan kemandirian ke anak di usia 13 sampai 18 tahun, kami enggak bisa lepas gitu aja, tapi harus ditarik dulu anak kami. Duduk bareng. Anak di sini sebagai partner," papar Psikolog keluarga Pritta Tyas, M.Psi., Psikolog, dalam acara "Media Talkshow: Panduan Tenang Keluarga Bersama GrabKeluarga" di Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026).

Membantu kemandirian anak bukan merupakan proses yang dapat berjalan secara instan atau sepihak dari sisi orangtua saja. 

Diperlukan keseimbangan antara menyediakan ruang bagi anak untuk belajar mengambil keputusan sendiri dan tetap menerapkan batasan yang jelas agar mereka memahami tanggung jawab dari setiap pilihan.

Salah satu upaya yang dapat diterapkan adalah mengadakan diskusi keluarga secara terbuka. Lewat percakapan ini, anak harus diposisikan sebagai individu yang pendapatnya dihargai. Karena itu, orangtua perlu mendengarkan terlebih dahulu pandangan, keinginan, hingga keluh kesah mereka.

"Sebisa mungkin kami sebagai orangtua tahan untuk enggak motong dulu pembicaraan. Biarkan anak mengutarakan dulu semua pikiran dan perasaannya, termasuk misalnya dia ingin mandiri mengatur jadwalnya," ucap Pritta.

Seusai anak merasa didengar, orangtua dan anak dapat bersama-sama merumuskan solusi. Dukungan pada kemandirian ini tetap wajib dibarengi dengan pedoman kedisiplinan yang amat jelas agar anak memahami batasan perilaku saat berada di luar rumah.

"Kami udah ngasih dukungan, tapi juga perlu ada batasan. Misalnya, batasan pulang malam jam berapa atau batasan budget dalam satu bulan yang dihabiskan anak," jelas Pritta.

Kecemasan lain yang membayangi benak orangtua ialah ketika anak perlahan enggan bercerita dan justru lebih terbuka pada teman sebayanya. Demi menekan risiko ini, ikatan emosional serta waktu khusus keluarga tidak boleh berkurang walaupun anak sudah mampu melakukan berbagai hal secara mandiri.

Hindari dorongan untuk menginterogasi dan mendesak anak, sebab hal ini justru memicu remaja bersikap defensif. 

Saat menghabiskan waktu bersama tanpa target atau tuntutan tertentu, anak bakal merasa lebih dihargai. Lewat langkah tersebut, anak secara otomatis akan menganggap keluarga sebagai tempat kembali ketika mereka membentur masalah eksternal.

"Pada saat anak mulai mandiri dan dia menemukan problem, karena koneksinya dekat, dia berpikir, 'Orangtuaku adalah tempat pertama untuk aku ngadu, untuk aku balik, untuk aku cari solusi'," terang Pritta.

Jika orangtua berniat menanyakan persoalan yang agak berat, Pritta menyarankan supaya obrolan dilakukan dalam situasi santai, tanpa kontak mata langsung agar mereka tidak merasa tersudut.

"Tanyanya boleh sambil setir mobil, anaknya di sebelah. Jadi jangan kayak tatap muka. Kalau anak remaja lagi ada masalah, kitanya dulu yang buka celah," papar Pritta.

Selain kecemasan tentang pergaulan, dilema lain yang mengganjal di hati orangtua ialah rasa sedih karena anak seakan tidak lagi memerlukan bantuan mereka. Momen saat anak menolak diantar jemput terkadang menjadi pukulan batin tersendiri.

Demi mengatasi krisis emosional tersebut, jadwal berkumpul keluarga secara rutin memegang peran penting. 

Orangtua mesti menyepakati hari atau jam tertentu yang khusus dialokasikan untuk kebersamaan, dan pantang digantikan oleh agenda lain. 

Langkah ini memastikan bahwa bukan hanya anak yang mempunyai tempat kembali, melainkan orangtua juga tetap dilibatkan dalam proses tumbuh kembang buah hatinya.

"Semakin anak kami setting kemandiriannya, tapi waktu keluarga yang dihabiskan bersama ini tetap harus dimiliki, supaya orangtuanya juga tetap ada rasa dibutuhkan oleh anak," pungkas Pritta.

Terkini