4 Faktor Utama yang Bikin IHSG Anjlok 34,74% Sepanjang Semester I

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:12:01 WIB
IHSG Ambles 34% di Semester I/2026, Analis Ungkap 4 Faktor Pemicu [FOTO: NET].

JAKARTA — Penurunan drastis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 34,74% sepanjang paruh pertama atau semester I/2026 dinilai terjadi akibat perpaduan empat aspek utama. 

Mulai dari membubungnya risiko fiskal, ketidakpastian regulasi pemerintah, proyeksi negatif utang Indonesia, hingga langkah MSCI mendepak beberapa saham berkapitalisasi jumbo dari indeks acuannya.

IHSG menyudahi transaksi semester I/2026 pada level 5.643,19 atau anjlok 34,74% secara year-to-date (YTD) sampai tanggal 30 Juni 2026. Di kurun waktu tersebut, pemodal mancanegara mencatatkan aksi jual bersih (net sell) menembus Rp73,61 triliun, memperlihatkan besarnya arus keluar modal dari pasar saham dalam negeri.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, mengutarakan bahwa koreksi dalam IHSG distimulasi oleh akumulasi empat aspek yang mendongkrak risk premium Indonesia di pandangan investor internasional.

Berdasarkan analisisnya, aspek pertama berupa melambungnya risiko fiskal imbas lonjakan harga minyak dunia karena perselisihan Amerika Serikat dengan Iran. Menjadi negara pengimpor minyak bersih (net importer), Indonesia dinilai rentan terhadap lonjakan harga energi.

Aspek kedua yakni merosotnya kepastian regulasi dari pemerintah, termasuk ketetapan royalti pertambangan yang berulang kali diubah serta mencuatnya wacana ekspor satu pintu. 

Aspek ketiga dipicu oleh proyeksi negatif bagi utang pemerintah oleh lembaga pemeringkat internasional Moody's dan Fitch Ratings yang memperkeruh pandangan investor atas aset dalam negeri.

Sementara itu, aspek keempat bersumber dari ketetapan MSCI yang mengeliminasi enam saham berkapitalisasi besar asal Indonesia dari indeks acuannya.

"Arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia yang mencapai Rp73 triliun sepanjang tahun ini mencerminkan proses pengurangan risiko (de-risking) oleh investor asing," ujar Erindra.

Lini searah dikemukakan oleh Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, yang menguraikan bahwa pelemahan IHSG lebih disebabkan oleh problem domestik ketimbang sentimen global.

 Menurut penjelasannya, di saat pasar saham Indonesia terperosok dalam, beberapa bursa di kawasan Asia justru sanggup bertahan bahkan menguat di tengah guncangan geopolitik.

"Pasar modal Indonesia sedang dihukum investor global bukan karena ekonominya tidak tumbuh, melainkan karena masalah transparansi kepemilikan saham (free float) yang disorot MSCI serta kekhawatiran atas disiplin anggaran fiskal," kata Nafan.

Koreksi pada IHSG juga tercatat lebih dalam ketimbang beberapa indeks utama di Bursa Efek Indonesia (BEI). Di sepanjang semester I/2026, indeks LQ45 merosot 34,67%, IDX30 menyusut 28,12%, dan IDX80 terkoreksi hingga 37,54%.

Terkini