Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.907 per Dolar AS Sore Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 22:02:31 WIB
Nanti Data Ekonomi AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.907 [FOTO: NET].

JAKARTA — Nilai tukar mata uang rupiah mengakhiri sesi perdagangan dengan bergerak melorot menuju level Rp17.907 per dolar AS hari ini, Selasa (30/6/2026). Bersumber pada data Tradingview, kurs rupiah ditutup terkoreksi sebesar 0,31% atau menyusut 56 poin ke level Rp17.907 per dolar AS pada sore ini. Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau menguat 0,25% menuju posisi 101,36.

Sementara itu, performa sejumlah mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak bervariasi. Mata uang yen Jepang ditutup melemah 0,26%, yuan China bergerak menguat 0,11%, dolar Singapura melorot 0,20%, dan won Korea Selatan tergerus 0,80%. 

Selanjutnya, dolar Hong Kong turun tipis 0,02%, dolar Taiwan menanjak 0,02%, baht Thailand menguat 0,13%, serta ringgit Malaysia melemah 0,14%.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjabarkan bahwa dari aspek eksternal, para pelaku pasar tengah mengawasi hasil potensi pembicaraan antara AS dan Iran di Doha, di tengah insiden serangan rudal akhir pekan dari kedua belah pihak yang menguji klausul gencatan senjata.

 Kendati demikian, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menandaskan bahwasanya tidak bakal ada agenda pertemuan negosiasi pada tingkatan mana pun dengan pihak Amerika dalam kurun waktu beberapa hari mendatang.

Tensi ketidakpastian seputar apakah kedua pihak bakal melangsungkan pertemuan mempertegas ringkihnya kesepakatan tanggal 17 Jun untuk menyudahi pertempuran, yang mana konflik tersebut telah mengacaukan jalur pasokan minyak global melewati Selat Hormuz serta menghadirkan tantangan politik bagi Trump menjelang pemilihan kongres November nanti.

Di samping itu, sentimen negatif juga bersumber dari keyakinan pasar yang kian menebal bahwa bank sentral Federal Reserve AS bakal mendongkrak suku bunga acuan minimal satu kali pada tahun ini.

 Langkah ini mencuat pasca bank sentral memperlihatkan gestur hawkish sepanjang pertemuan Juni, dengan sejumlah pembuat kebijakan terekam menyerukan dorongan kenaikan suku bunga.

Fokus perhatian saat ini juga bergeser menuju laporan sektor pasar tenaga kerja AS periode Juni, melalui rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan keluar pada hari Kamis. 

Kalangan ekonom memproyeksikan sektor ekonomi AS bakal menambah 114.000 lapangan kerja baru, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan tidak mengalami perubahan pada level 4,3%, di mana data tersebut sanggup memengaruhi arah ekspektasi jalur kebijakan The Fed. 

Pada hari Selasa, kalender ekonomi AS bakal menyuguhkan data laporan JOLTS serta Indeks Kepercayaan Konsumen dari Conference Board (CB) yang bakal meluncur nanti malam pukul 21.00 WIB.

Dari ranah domestik, pelaku pasar sedang menanti rilis data neraca perdagangan periode Mei, setelah pada April kemarin mencatatkan defisit transaksi berjalan beriringan dengan defisit anggaran yang kian melebar.

 Angka surplus perdagangan yang kian menciut dinilai bakal menyumbang tekanan bagi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) sepanjang tahun ini. 

Keadaan tersebut berpotensi mengikis daya tahan eksternal sekaligus menaikkan tensi tekanan bagi nilai tukar rupiah apabila tidak ditopang oleh derasnya aliran masuk modal asing.

Badan Pusat Statistik (BPS) membukukan nilai surplus perdagangan Indonesia secara akumulatif sampai April hanya menyentuh angka US$5,64 miliar. Nominal tersebut terhitung jauh lebih rendah bila disandingkan dengan periode Januari-April 2025 yang posisinya masih bertengger di atas US$10_miliar.

Di koridor lain, laju inflasi pada bulan Mei terpantau merangkak naik mendekati batas atas dari target Bank Indonesia, dipicu oleh lonjakan harga komoditas pangan. 

Secara agregat nasional, aspek stabilitas harga beserta tingkat konsumsi sejatinya masih berada dalam kondisi terkendali. 

Akan tetapi, dinamika pergerakan inflasi di beberapa daerah mulai memperlihatkan alarm waspada, terutama wilayah Sumatra yang mencatatkan tekanan harga relatif lebih tinggi ketimbang kawasan lainnya.

Sentimen dari dalam negeri turut diwarnai oleh regulasi undang-undang baru yang menyerahkan hak kekebalan hukum secara menyeluruh untuk para pembeli instrumen obligasi yang dirilis oleh lembaga dana investasi negara Danantara, di mana hal tersebut memicu kekhawatiran publik seputar tata kelola sekaligus transparansi.

Guna menghadapi sesi perdagangan esok hari, Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah bakal ditutup bergerak melemah pada kisaran rentang Rp17.900 hingga Rp17.950.

Terkini