JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) konsisten menunjukkan tren melemah sampai dengan penghujung Juni 2026. Sektor saham perbankan yang selama ini memegang peranan sebagai motor penggerak utama IHSG terpantau masih berada dalam posisi tertekan, walaupun pihak pemerintah sudah mempertebal penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pada kelompok Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Merujuk pada hasil pantauan Kompas.com hingga pukul 15.35 WIB, pergerakan IHSG bertengger pada level 5.653 atau mengalami kemerosotan sebesar 167,58 poin, setara dengan 2,88 persen, apabila disandingkan dengan angka pembukaan perdagangan.
Sektor finansial turut tergerus sebesar 1,91 persen sepanjang sesi transaksi. Dinamika tersebut bergulir kendati pemerintah baru saja memperbesar alokasi penempatan dana SAL pada bank-bank berstatus pelat merah hingga mengemas nilai total kisaran Rp400 triliun.
Ekonom KISI Asset Management Arfian Prasetya Aji memaparkan bahwa melorotnya IHSG beserta sektor saham perbankan cenderung dipicu oleh tingginya tensi ketidakpastian seputar arah kebijakan yang digulirkan pemerintah. Keadaan tersebut memicu para investor mengalami kendala dalam mengkalkulasi risiko investasi.
Sentimen negatif ini kian diperparah oleh kekhawatiran pasar atas potensi turunnya peringkat dalam tinjauan Morgan Stanley Capital International (MSCI) hingga November 2026, beriringan dengan perolehan hasil tinjauan Standard & Poor's (S&P) yang diproyeksikan bakal rilis pada Juli 2026.
Menurut pandangan Arfian, suntikan tambahan dana SAL hingga menyentuh Rp400 triliun memang memberikan stimulus positif bagi kondisi likuiditas perbankan untuk jangka pendek.
"Akan tetapi inkonsistensi kebijakan yang berubah drastis dalam hitungan hari, mengingat narasi sebelumnya justru pemerintah akan menarik dana yang telah alokasikan, turut menimbulkan noise dan menggerus kepercayaan pasar terhadap mekanisme pengambilan kebijakan pemerintah," kata dia, Selasa (30/6/2026).
Arfian menilai suntikan likuiditas belum mampu mendongkrak performa saham sektor perbankan akibat serapan permintaan kredit masyarakat yang masih lemah.
Di lain sisi, kalangan perbankan masih memiliki alternatif instrumen investasi lain dengan penawaran imbal hasil yang memikat, contohnya Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Tingkat yield SRBI dengan tenor 12 bulan untuk saat ini mampu menembus kisaran 7,7 persen.
"Sehingga terdapat kecenderungan perbankan menempatkan sebagian dananya pada instrumen tersebut, alih-alih di salurkan ke kredit," imbuh dia.
Berdasarkan analisis Arfian, instrumen dimaksud juga ikut menyerap ketersediaan likuiditas pada pasar domestik sehingga memicu timbulnya crowding out effect yang efeknya mulai nampak di pasar keuangan.
Crowding out effect sendiri merupakan sebuah fenomena di saat peningkatan pembiayaan pemerintah mempersempit ruang investasi bagi sektor swasta. Kondisi pelik tersebut memicu perbankan terjebak dalam dilema yang berpeluang menekan Net Interest Margin (NIM).
Bank merasa kesulitan untuk mendongkrak suku bunga kredit lantaran permintaan sektor pembiayaan belum tergolong kuat.
Namun di lain sisi, perbankan dituntut menaikkan suku bunga deposito supaya dapat bersaing dengan tingginya imbal hasil instrumen SRBI serta situasi ketatnya likuiditas.
"Di sisi lain, bank terpaksa meningkatkan bunga deposito secara signifikan demi bersaing dengan tingginya yield SRBI dan menghadapi pengetatan likuiditas," ungkap dia.
Sementara itu, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menyampaikan bahwa pelemahan pada saham perbankan turut dipengaruhi oleh faktor depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
"Kalau misalkan dibilang harga saham sudah murah, bahkan IHSG di 5.700-an, sekaranga rupiahnya di Rp 17.800, apakah ada ng menjamin rupiahnya itu akan menguat ke depan," ungkap dia dalam Media Day, Selasa (30/6/2026).
Menurut penjelasan Rully, kalangan investor asing bakal menderita kerugian apabila menetapkan masuk pasar ketika harga saham sedang murah, namun nilai tukar rupiah justru konsisten melemah.
Investor asing diwajibkan mengonversi mata uang dollar AS menuju rupiah saat mengeksekusi pembelian saham. Ketika kelak keluar dari pasar keuangan, rupiah tersebut kembali ditukar menjadi dollar AS. Jika kondisi rupiah merosot, nilai investasi yang mereka tanam ikut terkikis.
Kondisi tersebut memicu investor asing cenderung bersikap lebih waspada untuk kembali menanamkan modalnya di pasar Indonesia.
"Saya rasa inivestor juga masih belum sepenuhnya yakin untuk masuk ke Indonesia di saat-saat seperti ini," ungkap dia.
Rully mengimbuhkan bahwa pergerakan IHSG untuk saat ini lebih dominan ditopang oleh investor domestik.
Berdasarkan pandangannya, alur hengkangnya dana asing (capital outflow) lazimnya lebih awal melanda saham-saham dengan porsi kepemilikan asing yang terhitung besar, terutama pada saham sektor perbankan.
"Mereka (investor asing) make sure dulu rupiahnya stabil, kalau rupiah masih di level Rp 17.700-17.800 tetapi tetap dalam beberapa bulan ke depan, masih stabil gitu, mungkin investor asing juga akan mempertimbangkan untuk masuk," terang dia.
Merujuk data pantauan Kompas.com hingga pukul 15.30 WIB, mayoritas saham bank dengan kapitalisasi jumbo masih terjebak dalam zona merah.
Saham Bank Mandiri (BMRI) berada pada level 3.860 atau merosot 5,15 persen sepanjang sebulan belakangan. Dalam kurun waktu sepanjang tahun berjalan, saham BMRI sudah terkoreksi sebesar 24,31 persen.
Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) bertengger di level 2.790 atau menyusut 5,76 persen dalam sebulan terakhir.
Sepanjang tahun berjalan, saham BBRI sudah melemah hingga 24,04 persen. Saham Bank Negara Indonesia (BBNI) nangkring pada level 3.200 atau melemah hingga 13,51 persen dalam kurun sebulan terakhir. Sepanjang tahun, saham BBNI terpangkas sebesar 27 persen.
Tekanan serupa dialami saham Bank Syariah Indonesia (BRIS) yang berada pada level 1.660 atau merosot 16,16 persen dalam waktu sebulan. Sepanjang tahun berjalan, saham BRIS melemah hingga 25,56 persen.
Tren penurunan juga melanda saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Saham BBCA bertengger di level 5.650 atau turun 0,88 persen dalam sebulan ini. Sepanjang tahun berjalan, saham BBCA sudah terkoreksi sedalam 30,03 persen.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merasa optimis laju pertumbuhan kredit sektor perbankan sanggup menyentuh level 14 hingga 15 persen sepanjang tahun 2026.
Optimisme tersebut mencuat pasca pihak pemerintah menetapkan keputusan untuk mengembalikan sekaligus meningkatkan alokasi penempatan dana SAL pada Himbara hingga menyentuh kisaran Rp400 triliun.
Menurut perhitungan Purbaya, tambahan dana likuiditas dimaksud bakal menekan ongkos biaya dana perbankan sehingga bunga kredit dapat ikut turun dan penyaluran kredit terkerek naik.
"Pertumbuhan kredit kalau mereka bilang hitungan saya sampai 14-15 persen. Otomatis kalau uangnya ada, bunga akan relatif turun," ujarnya saat media briefing di kantornya, Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Purbaya memaparkan, setelah sebagian dari porsi dana SAL ditarik, sisa penempatan pada Himbara sempat bertengger di kisaran Rp170 triliun. Pihak pemerintah kemudian mengembalikan nilainya menjadi Rp200 triliun dengan kesepakatan tenor jangka panjang.