Dapur MBG Libur, Relawan SPPG Malang Jual STMJ demi Nafkah

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:39:01 WIB
Operasional MBG Tutup Sementara, Relawan SPPG Malang Cari Sampingan [FOTO: NET].

JAKARTA - Masa libur sekolah mengakibatkan jalannya operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terpaksa dihentikan sementara waktu sampai tanggal 13 Juli 2026.

 Dampaknya, puluhan pekerja sukarela Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Malang kehilangan mata pencaharian harian mereka dan dituntut mencari sumber pendapatan lain demi mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Sebagian pekerja memilih beralih profesi menjadi penjaga parkir, pengemudi ojek, buruh bangunan, hingga berniaga. 

Ada pula yang mendayagunakan keahlian lainnya supaya konsisten mendapatkan pemasukan selama aktivitas dapur belum berdenyut kembali.

Fenomena ini salah satunya dirasakan oleh Benidictus Brodjodianto (57), seorang relawan SPPG Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Selama aktivitas memasak vakum, ia ikut menyokong rekannya berjualan susu telur madu jahe (STMJ) untuk bertahan hidup.

"Yang penting ada pemasukan. Saya punya istri dan tiga anak yang harus tetap dinafkahi. Daripada menganggur di rumah, saya ikut teman jualan STMJ," ujar Beni kepada Kompas.com, Selasa (30/6/2026).

Ia mengutarakan sempat merasa kalang kabut tatkala mendapati kabar bahwa manajemen dapur diliburkan sementara mengikuti kalender libur sekolah. 

Sebab, upah sebagai relawan selama ini diposisikan selaku tumpuan penghasilan utama bagi keluarganya.

"Awalnya kami bingung dan resah. Banyak teman-teman relawan yang memang menggantungkan hidup dari pekerjaan di SPPG," ujarnya.

Merujuk penjelasan Beni, di kala dapur beroperasi normal, para relawan berhak mengantongi upah berkisar Rp 120.000 per hari yang dibagikan saban dua pekan sekali. Saat ini pendapatan tersebut setop karena proses memasak diliburkan berdurasi pendek.

Kendati demikian, pihak yayasan yang menaungi dapur tempatnya mengabdi tetap membagikan peluang bagi para relawan untuk masuk secara bergantian guna menjalankan pemeliharaan prasarana dapur.

"Kalau saya baru masuk satu hari untuk maintenance dapur. Masih ada jatah sekitar tiga hari lagi sampai sekolah masuk lagi. Tetap dibayar seperti hari kerja biasa," katanya.

Beni mengemukakan bahwa penugasan itu hanya berjalan beberapa hari saja sepanjang masa liburan, sehingga dinilai belum memadai untuk menyubstitusi pemasukan reguler yang kerap didapatkan.

"Kebanyakan teman-teman mengeluh. Akhirnya semua mencari pekerjaan apa saja yang bisa menghasilkan selama dapur tutup," tuturnya.

Pengelola Dapur SPPG Bunulrejo, Hanan Jalil, mengonfirmasi jika aktivitas produksi dapur memang distop sesaat selama libur sekolah dan dikonsepkan kembali berdenyut pada 13 Juli 2026. 

Seluruh pekerja sukarela diberikan kebebasan untuk membidik profesi lain di kala dapur vakum. Bahkan, ia menyarankan mereka memanfaatkan momentum ini guna meraup penghasilan ekstra.

"Saya memang menyarankan teman-teman mencari pekerjaan lain selama libur. Ada yang narik ojek, jaga parkir, sampai membuka usaha sendiri," ujar Hanan.

Walaupun rutinitas memasak mandek, pihaknya konsisten mendayagunakan seluruh 47 relawan dengan skema bergantian untuk mengerjakan perawatan dapur. Tiap hari, berkisar enam sampai sepuluh pekerja dijadwalkan masuk dan berhak menerima upah.

"Kami buat sistem shift. Setiap hari ada enam sampai sepuluh orang yang masuk untuk maintenance dapur dan tetap dibayar. Kalau mereka mendapat pekerjaan lain yang penghasilannya lebih besar, silakan saja," katanya.

Hanan memaparkan, penugasan pemeliharaan tersebut mencakup pembenahan fasilitas yang didapati rusak pascapenggunaan beberapa bulan, termasuk membetulkan peranti memasak serta mengecat ulang bagian lantai memakai epoxy supaya siap pakai saat program MBG digulirkan kembali.

"Selama operasional tentu ada alat yang rusak. Selain itu lantai dapur juga kami epoxy ulang supaya nanti saat kembali beroperasi kondisinya sudah siap," pungkas Hanan.

Terkini