Evaluasi Haji 2026, Kemenhaj Perketat Cek Kesehatan Calon Jemaah

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:11:31 WIB
Kemenhaj Bakal Perketat Aturan Istitaah Kesehatan Jemaah Haji [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) akan mengintensifkan pemeriksaan kondisi fisik para calon jemaah haji, khususnya untuk mereka yang mengidap penyakit penyerta (komorbid), sebagai instrumen dari peninjauan ulang tata kelola ibadah haji 2026.

"Tahun depan ini juga jadi evaluasi kami, kami harus lebih ketat terkait dengan istitaah kesehatan," ujar Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak, usai rapat koordinasi di Gedung Kementerian Haji, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Dahnil memaparkan bahwa akumulasi jemaah haji asal Indonesia yang meninggal dunia pada musim haji tahun ini berkisar di angka 350 jiwa. Jumlah tersebut tercatat mengalami penurunan bila dikomparasikan dengan periode tahun lalu yang menembus 467 jiwa.

Menurut pandangan Dahnil, para calon jemaah yang didapati mengidap penyakit penyerta (komorbid), risiko penurunan fungsi kognitif (demensia), ataupun keluhan medis berisiko tinggi lainnya bakal melewati fase skrining yang lebih disiplin dan berpeluang tidak diizinkan untuk bertolak ke Tanah Suci.

"Jadi mau tidak mau, kami harus lebih tegas terkait dengan jemaah-jemaah yang memiliki komorbid, kemudian misalnya potensi dimensia, kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya untuk tidak bisa berangkat," katanya.

Bukan sekadar mengintensifkan skrining medis, Kementerian Haji pun bersiap menggulirkan program manasik kesehatan peruntukan jemaah yang terjadwal bertolak pada musim haji tahun 2027. 

Agenda tersebut disiapkan sebagai wadah dalam menggembleng ketahanan fisik para jemaah semenjak satu tahun menjelang keberangkatan.

"Manasik kesehatan itu artinya kami ingin memastikan jemaah-jemaah yang sudah ditetapkan akan berangkat di 2027 ini itu mereka sudah persiapan selama 1 tahun yang kami sebut manasik kesehatan," tutur Dahnil.

Ia menguraikan bahwa masa persiapan tersebut meliputi pembiasaan aktivitas olahraga hingga pengelolaan penyakit penyerta, mengingat mayoritas dari ritual ibadah haji teramat mengandalkan ketahanan fisik yang optimal.

"Misalnya kebiasaan olahraga, jalan kaki, kemudian kalau sanggup lari-lari karena 95 persen kegiatan di tanah suci itu adalah kegiatan fisik," jelasnya.

"Kemudian, kalau mereka punya komorbid, kemudian nanti secara intens dimaintain. Misalnya darah tinggi, diabet, dan sebagainya itu secara intens di maintain oleh tim dokter di daerah masing-masing," kata Dahnil.

Terkini