JAKARTA - GERD bukanlah penyakit yang hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga dapat dialami oleh anak-anak. Refluks umumnya terjadi pada anak yang lebih besar serta orang dewasa. Refluks merupakan kondisi normal yang biasanya berlangsung singkat, tanpa gejala, dan jarang hingga masuk ke dalam mulut.
Meskipun demikian, refluks yang menyebabkan GERD pada anak yang lebih besar tergolong jarang terjadi. Namun, Sri Kesuma Astuti dari Divisi Gastrohepatologi Anak RS Mohammad Hoesin Palembang, Bagian Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, menyatakan terdapat populasi dengan risiko tinggi mengalami GERD.
Di antaranya adalah mereka yang memiliki gangguan neurologis, atresia esofagus, hernia diafragmatika, penyakit paru kronis, obesitas, laringomalacia, serta trakeomalacia.
"Kalau penyebab gerd pada anak yang sehat tanpa penyakit bawaan bisa disebabkan oleh kebanyakan makan, makan di malam hari, minum soda, makanan asin, pedas dan makanan berminyak," ujar dr Sri.
Gejala dan Tanda Klinis tidak Spesifik:
Gejala Umum: sandifer syndrome, iritabilitas, erosi gigi, dan menolak makan.
Masalah saluran cerna: muntah darah, refluks, sakit dada, dan sakit di sekitar perut.
Gangguan pernapasan: batuk, sesak napas, napas berbunyi, dan bisa sleep apnea.
Sementara itu, gejala tipikal GERD pada anak meliputi:
Nyeri atau rasa tidak nyaman di bawah tulang dada.
Sensasi seperti terbakar di dekat ulu hati.
Kondisi memburuk setelah makan atau saat berbaring.
Cara mengatasi gejala GERD pada anak meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik, identifikasi tanda bahaya (untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis lain), modifikasi gaya hidup dan diet, serta terapi obat penekan asam lambung.