Pakar UB Sebut Penggunaan BBM B50 Berpotensi Bikin Mesin Lama Boros

Rabu, 24 Juni 2026 | 19:23:01 WIB
B50 Bikin Mesin Diesel Lama Boros? Begini Analisis Lengkap Pakar [FOTO: NET].

JAKARTA - Pada masa sekarang, pemanfaatan bahan bakar jenis B50 dianggap memuat prospek yang masif untuk pematangan energi terbarukan di tanah air, akan tetapi proses implementasinya wajib dilangsungkan secara bertahap serta penuh perhitungan.

Pakar biofuel Prof. Ir. Nurkholis Hamidi, S.T., M.Eng., Dr.Eng. memaparkan, formulasi campuran biodiesel berkadar tinggi berisiko memengaruhi performa mesin serta intensitas perawatan kendaraan, terkhusus bagi tipe mesin diesel generasi lama.

Menurut pemikirannya, sebagian dari mesin diesel generasi lama memang tidak diformulasikan sejak awal untuk mengonsumsi bahan bakar dengan kadar campuran biodiesel yang tinggi.

“Mesin-mesin yang dulu dibangun atau dikonstruksi hingga sekarang kan ada yang tidak didesain menggunakan bahan bakar biodiesel dengan konsentrasi tinggi,” ujar Nurkholis, dikutip dari laman UB pada (25/4/2026).

Sebagaimana diketahui, B50 berstatus sebagai bahan bakar campuran yang mengombinasikan 50 persen biodiesel serta 50 persen solar.

Bahan bakar biodiesel yang diaplikasikan pada umumnya berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang diolah dari komoditas kelapa sawit.

“Biodiesel itu bahan bakar alternatif yang renewable, diproduksi dari minyak nabati seperti minyak sawit. Ini bisa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil,” ujarnya.

Nurkholis berpandangan, pemberlakuan B50 merupakan sebuah terobosan yang positif lantaran sanggup mereduksi ketergantungan atas impor bahan bakar minyak, memperkuat hilirisasi komoditas kelapa sawit nasional, serta berkontribusi memotong buangan emisi karbon.

Kendati demikian, implementasi B50 wajib konsisten memperhatikan aspek kesiapan ruang mesin, standarisasi kualitas bahan bakar, hingga manajemen sistem perawatan armada kendaraan.

Karakteristik yang dimiliki biodiesel mempunyai perbedaan jika dikomparasikan dengan solar murni. Salah satu aspek pembedanya terletak pada kadar oksigen alami yang terkandung di dalam molekul biodiesel.

Kandungan unsur oksigen tersebut sanggup membantu jalannya proses pembakaran agar berlangsung lebih optimal, sehingga buangan emisi karbon monoksida (CO) serta hidrokarbon (HC) berpotensi menjadi lebih minim.

Akan tetapi, biodiesel juga mempunyai kadar kekentalan atau viskositas yang lebih pekat jika disandingkan dengan solar murni. 

Viskositas yang tergolong tinggi ini dapat memicu proses pengkabutan bahan bakar atau atomisasi di ruang mesin menjadi kurang optimal dibanding saat menggunakan solar murni.

Situasi dinamis ini berisiko menurunkan mutu pembakaran andaikata sistem komponen injeksi tidak disesuaikan.

Meninjau aspek performa, B50 juga sanggup memengaruhi daya dorong tenaga serta torsi pada mesin. Komoditas biodiesel mempunyai takaran nilai kalor yang lebih rendah daripada solar murni, sehingga daya mesin berisiko mengalami sedikit penurunan.

Tingkat konsumsi bahan bakar pun dapat terasa lebih boros lantaran mesin membutuhkan pasokan volume bahan bakar yang lebih melimpah demi memproduksi daya dorong tenaga yang sepadan.

“Untuk menghasilkan tenaga yang sama, bahan bakar yang dibutuhkan bisa lebih banyak. Jadi ada kemungkinan terasa lebih boros,” ungkap Nurkholis.

Merujuk pada penjelasan Nurkholis, armada kendaraan generasi modern relatif lebih siap mengonsumsi biodiesel dengan kadar konsentrasi yang lebih pekat sepanjang spesifikasi teknis bahan bakarnya selaras dengan acuan standar.

Namun, untuk kendaraan generasi lama, risikonya lebih tinggi terhadap penyusutan usia pakai dari beberapa komponen teknis.

Komponen berupa seal serta hose dapat terganggu andaikata material penyusunnya belum diformulasikan untuk menerima paparan biodiesel berkadar konsentrasi tinggi.

“Biodiesel bersifat lebih polar dibanding solar biasa, sehingga bisa melarutkan komponen aditif dalam karet yang mengakibatkan karet kehilangan fleksibilitas, menjadi getas dan mudah retak. Namun pada kendaraan baru umumnya telah memiliki sistem saluran bahan bakar dan seal yang lebih tahan terhadap biodiesel sehingga tidak mudah getas,” jelasnya.

Pemanfaatan B50 juga berpeluang meningkatkan kebutuhan akan intensitas perawatan armada kendaraan. Produk biodiesel memiliki karakter higroskopis atau sifat yang mudah menyerap molekul air.

Bahan bakar jenis ini juga sanggup mengikis endapan kotoran yang melekat di dalam tangki bahan bakar kendaraan. 

Kotoran yang terkikis itu berisiko mengalir ke saluran bahan bakar dan memicu penyumbatan pada komponen filter.

Potensi terjadinya penyumbatan juga dapat meningkat andaikata proses pengolahan produksi biodiesel belum sepenuhnya steril dan masih menyisakan kandungan getah.

Keadaan tersebut menuntut para pemilik kendaraan untuk lebih rutin mengecek serta membersihkan atau mengganti komponen filter bahan bakar secara berkala.

“Filter bahan bakar harus lebih sering dibersihkan atau diganti karena potensi penyumbatan lebih besar,” kata Nurkholis.

Di samping bagian filter, komponen nozzle serta jalur injeksi juga wajib dicek secara teratur. Proses monitoring tersebut krusial demi menjamin kelancaran pasokan aliran bahan bakar sehingga tidak mengacaukan mekanisme kerja mesin.

Nurkholis menilai, hambatan utama dalam implementasi B50 terletak pada aspek kecocokan karakteristik bahan bakar dengan tipe mesin-mesin yang selama ini dioperasikan oleh masyarakat luas. Sebagian dari mesin generasi lama belum dikonstruksi untuk menerima pasokan biodiesel berkonsentrasi tinggi.

Pihak eksekutif juga wajib mengawal agar tata cara produksi biodiesel berjalan selaras dengan regulasi standar.

“Mengawasi agar bahan bakar biodiesel itu memenuhi standar sebagai bahan bakar transportasi,” tambah dia.

Meskipun dihadapkan pada sederet tantangan dari segi teknis, Nurkholis memberikan penekanan bahwa pematangan biodiesel tetap memuat prospek yang masif bagi Indonesia. 

Indonesia selaku negara tropis dikaruniai cadangan minyak nabati yang melimpah, sehingga pematangan biodiesel dapat menjadi pilar krusial dari agenda transisi energi nasional.

Terkini