Riset Momentum Works: Shopee dan TikTok Shop Dominasi E-Commerce RI

Rabu, 17 Juni 2026 | 21:16:32 WIB
Persaingan E-Commerce Sengit, Dua Pemain Kuasai 92 Persen Pasar RI [FOTO : NET].

JAKARTA - Peta persaingan industri e-commerce di Indonesia terlihat kian mengerucut seiring munculnya dominasi dari dua raksasa besar, yakni Shopee serta hasil gabungan TikTok Shop-Tokopedia. 

Kendati begitu, rivalitas antarpelaku usaha di sektor ini dinilai tetap berjalan ketat lewat eksekusi taktik harga, pembaruan inovasi fitur, hingga langkah penguatan ekosistem digital.

Berdasarkan berkas laporan E-Commerce in Southeast Asia 2026 besutan Momentum Works, Shopee sukses menduduki peringkat teratas selaku pemimpin pasar e-commerce di tanah air dengan torehan pangsa 54% pada periode 2025, angka ini memperlihatkan kenaikan dari capaian 46% pada tahun 2024. 

Sementara itu, kolaborasi gabungan TikTok Shop dan Tokopedia membuntuti di urutan kedua dengan raihan pangsa pasar menyentuh 38%.

Adanya dominasi tersebut memosisikan kedua pemain itu sukses mengontrol kisaran 92% dari total nilai transaksi kotor atau gross merchandise value (GMV) industri e-commerce di Indonesia.

 Akumulasi nilai GMV e-commerce nasional sendiri terekam sanggup menembus angka US$57,7 miliar atau setara Rp999,4 triliun pada tahun 2025, mengantongi kenaikan dari perolehan US$56,5 miliar atau berkisar Rp978,6 triliun pada musim 2024.

Di lain pihak, kepemilikan pangsa pasar dari kompetitor lainnya kedapatan kian menyusut. Lazada tercatat cuma menguasai 6% dari pangsa pasar e-commerce tanah air pada 2025, turun tipis dari raihan 7% di periode setahun sebelumnya.

 Blibli mengantongi pangsa pasar di level 3%, menyusut dari capaian 4% pada 2024. Adapun Bukalapak yang pada tahun 2024 lampau sempat menyumbang porsi 10% dari GMV e-commerce nasional, kini tidak lagi masuk ke dalam rincian daftar pemain utama di periode 2025.

Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Budi Primawan memaparkan bahwa perolehan data pangsa pasar itu pada prinsipnya merepresentasikan dinamika persaingan yang terbilang sangat kompetitif di dalam industri perdagangan elektronik tersebut.

“Setiap platform memiliki strategi, segmen pengguna, dan proposisi nilai yang berbeda,” kata Budi ketika dihubungi, Senin (15/6/2026).

Budi mengutarakan bahwa sepanjang kurun beberapa tahun belakangan, elemen pendukung semacam live commerce, video commerce, skema program afiliasi, penyatuan konten sekaligus transaksi, hingga rupa-rupa program diskon promosi menjelma sebagai stimulus pertumbuhan yang terhitung masif bagi roda industri.

Di sisi lain, karakteristik konsumen di tanah air kian heterogen serta mempunyai kecenderungan mendayagunakan lebih dari satu aplikasi platform demi memenuhi rupa-rupa keperluan. 

Lantaran hal itu, dinamika pergeseran pangsa pasar tidak melulu dipicu oleh satu faktor tunggal, melainkan gabungan dari aspek pembaruan inovasi produk, rill pengalaman pengguna, diferensiasi layanan, siasat promosi, kekuatan jaringan ekosistem, hingga preferensi konsumen yang senantiasa bergerak dinamis.

Menatap masa depan, Budi mengutarakan arah persaingan bakal kian ditentukan oleh kapabilitas dari platform dalam menyodorkan nilai tambah bagi pemakai, baik dari sektor merchant penjual maupun elemen konsumen.

“Ini bisa berupa pengalaman belanja yang lebih baik, dukungan terhadap UMKM, penguatan logistik dan pembayaran, pemanfaatan teknologi, hingga kemampuan mengintegrasikan berbagai kanal perdagangan digital,” kata Budi.

Budi mengimbuhkan situasi kompetisi yang sehat bertindak selaku hal yang positif bagi perkembangan ekosistem. 

Menurut pandangannya, segenap pelaku usaha, termasuk di dalamnya Lazada, Blibli, Shopee, TikTok Shop, maupun rupa platform lainnya, senantiasa menelurkan inovasi demi menjawab dinamika kebutuhan pasar.

Menurut penilaian Budi, tidak dijumpai adanya satu pakem formula baku yang bisa diterapkan secara general untuk seluruh platform. 

Poin paling krusial ialah perihal bagaimana tiap-tiap platform sanggup terus menyelaraskan diri dengan pergeseran kebutuhan konsumen, mengawal laju pertumbuhan merchant penjual serta pelaku UMKM, sekaligus mendirikan keunggulan rill yang relevan serta kokoh di tengah arus persaingan yang kian kompetitif.

Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda memandang bahwa mayoritas elemen konsumen di tanah air mempunyai orientasi aktivitas belanja yang berkonsentrasi penuh pada aspek harga (price-oriented consumer). 

Patokan banderol harga komoditas produk menjelma sebagai instrumen pertimbangan utama yang mematok ketetapan dalam bertransaksi.

Merujuk pada pandangannya, tiap-tiap platform e-commerce saling sikut menawarkan potongan diskon, fasilitas gratis ongkos kirim, serta bermacam stimulus guna mendongkrak grafik transaksi. Akan tetapi, eksekusi taktik tersebut memerlukan sokongan kekuatan permodalan yang masif.

“Itu yang membedakan antara Shopee, TikTok Shop [Tokopedia] dan juga Lazada serta Blibli. Pasar Lazada dan Blibli makin tergerus karena tidak cukup kuat untuk bersaing dengan Shopee dan TikTok Shop,” kata Huda.

Di samping siasat perang harga, Huda memberikan penilaian jika Shopee serta TikTok Shop pun terhitung kian unggul di dalam sektor inovasi. 

Shopee lewat kehadiran fitur live shopping serta jalinan kolaborasi bersama pihak YouTube menyajikan diferensiasi dari segi rill pengalaman pengguna. 

Di lain sisi, TikTok Shop mengantongi kelebihan lewat fitur live shopping yang melekat erat dengan platform media sosialnya.

Berdasarkan analisis Huda, keunggulan dari aspek pengalaman pengguna serta pembaruan inovasi tersebut pada akhirnya teramat bergantung pada kapasitas sokongan pendanaan.

“Maka, saya rasa pendanaan menjadi kunci ke depan. Dengan pendanaan yang kuat, platform bisa bersaing dalam hal harga dan juga inovasi,” kata Huda.

Terkini