Tips Dokter agar Tetap Sehat dan Prima hingga Lansia

Selasa, 16 Juni 2026 | 06:43:27 WIB
Cara Menjaga Kualitas Hidup dan Kesehatan di Usia Lanjut [FOTO ; NET].

JAKARTA - Memperoleh umur yang panjang adalah sebuah berkah, namun hal itu akan kurang terasa berarti jika tidak disertai dengan kondisi fisik yang prima di hari tua. 

Berdasarkan data global, dunia saat ini sedang mengalami fenomena naiknya harapan hidup yang sayangnya dibarengi dengan peningkatan kasus penyakit tidak menular. 

Mengacu pada data WHO dan BPS Indonesia, dr. Febby Astari, IFMCP, dari Seraphim Medical Center, menjelaskan bahwa rata-rata usia harapan hidup (lifespan) masyarakat dunia saat ini menyentuh 73,6 tahun.

Akan tetapi, angka usia sehat (healthspan) di Indonesia masih berada di bawah rerata global, yakni hanya sampai 63,1 tahun. 

Terjadi jarak sekitar 8,3 tahun, yang menandakan bahwa banyak orang melewati sisa hidupnya dalam keadaan mengidap penyakit kronis atau mengalami keterbatasan fisik.

"Umur tuh kami enggak bisa hindari. Setiap tahun kami akan bertambah umur, tapi kalau declining daripada kognitif kami, kesehatan kami, itu opsional," ucap dr. Febby dalam sesi talkshow bertajuk "Rahasia Modern untuk Panjang Umur, Bongkar di Sini!" dalam Ageless Festival di Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan, Minggu (14/6/2026).

Banyaknya jumlah penderita penyakit tidak menular menjadi faktor utama merosotnya kualitas hidup masyarakat usia lanjut. 

Melalui data yang ditunjukkan oleh dr. Febby, tercatat 76 persen kematian di Indonesia dipicu oleh penyakit seperti gangguan jantung, diabetes, serta kanker. 

Kondisi ini perlu diwaspadai secara serius karena Indonesia diprediksi akan resmi menjadi aging society, di mana jumlah penduduk lanjut usia (lansia) mencapai 20 persen pada tahun 2045 kelak.

Melihat fenomena tersebut, keberadaan pusat layanan medis preventif menjadi kian penting, apalagi jika tempat pelayanan itu menerapkan konsep one stop service yang mempermudah masyarakat dalam berobat.

"Di situ ada wellness, ada aesthetic, and then ada sports and rehab juga. Jadi orang yang mau cantik bisa secara di luarnya, secara sehat di dalamnya juga bisa," jelas dr. Febby mengenai pentingnya fasilitas kesehatan yang terintegrasi.

"Mumpung masih pada muda-muda, masih produktif, ini sebenarnya waktu yang tepat untuk kami nabung kesehatan kami ke depannya," tambah dia.

Untuk memangkas jarak usia sehat, tindakan awal yang perlu dijalankan adalah memahami proses yang terjadi pada sel manusia. 

Timbulnya berbagai penyakit kronis degeneratif yang kerap dianggap tidak mungkin disembuhkan, umumnya bersumber pada setidaknya empat persoalan mendasar di tubuh.

"Biasanya penyakit tuh basic-nya cuma empat ini sih. Ada mitochondrial dysfunction, inflamasi yang cukup meningkat, hormonal imbalance, sama autonomic dysregulation," sebut dr. Febby.

Ia mengibaratkan disfungsi mitokondria seperti kerusakan pada pusat gardu listrik di wilayah perkotaan, namun proses ini berlangsung di dalam sel.

"Jadi kalau PLN-nya aja rusak, ya otomatis ke depannya dia akan low energy, badannya enggak punya metabolisme," papar dr. Febby.

Walaupun statistik penyakit degeneratif tampak mencemaskan, kabar baiknya adalah kemunduran metabolisme tubuh pada usia lanjut bukan berarti sebuah ketetapan yang tidak dapat diperbaiki.

 Metode pengobatan modern masa kini berkonsentrasi pada usaha mengembalikan fungsi tubuh secara bertahap ke kondisi biologis yang jauh lebih optimal, layaknya memutar balik waktu seluler.

"Sistem kesehatan seseorang itu sangat bisa reversible, bisa diperbaiki. Pertama kami pasti coba dengan perubahan pola hidup dulu," tutur dr. Dwi Kristanto Wongso, M.Biomed (AAM) atau yang akrab disapa dr. Kris di acara Ageless Festival.

Penyembuhan yang fokus pada perbaikan sumber masalah ini mengutamakan metode nutrisi dan aktivitas fisik, dibanding langsung mengambil tindakan menggunakan bahan kimia. Penyesuaian ini meliputi konsumsi makanan sehat, berolahraga secara teratur, hingga mencukupi kebutuhan istirahat harian.

"Kami akan usahakan dari pola hidup pasiennya dulu. Tapi kalau misalnya memang dengan itu dirasa masih perlu bantuan dari luar, kami bahkan bantu dari treatment-treatment dari luar," ujar dr. Kris.

Ia menegaskan bahwa proses perbaikan ini bisa diterapkan oleh siapa saja, tanpa memandang ada atau tidaknya riwayat medis di dalam keluarga.

"Tidak ada penyakit bawaan pun itu tetap bisa kami kembalikan kok fungsi kesehatannya, kami usahakan supaya bisa jadi lebih muda dari usia pasien," imbuh dr. Kris.

Terkini